Bumi adalah salah satu contoh benda yang bersifat fana' karena nantinya akan sirna

Fana[1]' secara bahasa berarti lenyap, hancur, sirna, atau hilang.[2] Istilah fana' muncul dalam kajian tasawuf di abad III Hijriyah.[2] Sufi yang pertama kali berbicara tentang kefana'an adalah Abu Yasid Al-Bustami.[2] Istilah fana' muncul bukan hanya karena adanya perkataan fana' dalam ucapan Abu Yasid, melainkan juga karena adanya syatahat (ungkapan-ungkapan aneh) yang muncul dari sejumlah sufi, atau karena adanya tingkah laku dan keadaan yang diperlihatkan oleh mereka.[2]

Al-Qusyayri, penulis tasawuf abad lima Hijriyah menjelaskan bahwa kalangan tasawuf mengisyaratakan fana' itu kepada gugur atau hilangnya sifat-sifat tercela dan mengisyaratkan baqa' (kekekalan) kepada munculnya sifat-sifat terpuji.[2] Menurutnya, seorang manusia tidak bisa lepas dari salah satu kategori sifat-sifat tersebut, maka berarti ia jauh dari sifat-sifat tersebut dengan kata lain; sifat-sifat tercela itu telah lenyap dari dirinya.[2][3] Sufi yang terpesona melihat keindahan Tuhan, dia tidak lagi menyadari apa saja selain Tuhan.[3] Dalam keadaan demikian, sufi tersebut dikatakan fana’ dari segenap alam, termasuk dirinya sendiri.[3] Dirinya dan alam semesta ini tentu saja tetap ada, tetapi sudah fana’ (lenyap) dari kesadaran sufi tadi, yang ada hanyalah kesadaran keberadaan Tuhan.[3]

ReferensiSunting

  1. ^ Syaa, Amoy (18 januari 2020). "Fana". 
  2. ^ a b c d e f Oman Fathurrahman, dkk (2008).Ensiklopedi Tasawuf.Bandung:Penerbit Angkasa.Hal 356-361
  3. ^ a b c d Nasution, Harun (1992).Ensiklopedi Islam Indonesia.Jakarta:Djambatan. Hal 233-234