Fahmi Djafar Saifuddin (lahir di Purworejo, 18 Oktober 1942 – meninggal di Jakarta, 3 Maret 2002 pada umur 59 tahun) adalah seorang politikus dan tokoh agama asal Indonesia. Ia menjabat sebagai Asisten II Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Bidang Agama, Kesehatan, KB, Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Fahmi Saifuddin menjadi Asisten Menko sejak periode Menko Kesra Soepardjo Roestam dan selanjutnya Menko Kesra Ir. H. Azwar Anas. Jabatan Asisten Menko kini berubah menjadi Deputi Menko.[1]

Kehidupan pribadiSunting

Lahir di Purworejo pada 18 Oktober 1942 dari pasangan KH. Saifuddin Zuhri dan Hj. Siti Sholichah, ia dibesarkan di pesantren Nahdlatul 'Ulama. Ia menikah dengan Mariyam Chairiyah, putri sulung Achmad Sjaichu.[2]

KiprahSunting

Sejak tahun 70-an, dr. Fahmi sudah giat dan intens memikirkan perbaikan NU. Menurut dia NU adalah potensi yang tidak atau belum sebenarnya dipotensikan. Salah satu rintisan yang dibelanya habis-habisan sampai terwujud dan berkembang hingga kini adalah Lakpesdam (Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). dr. Fahmi rajin mengumpulkan nama-nama tokoh NU dari berbagai daerah, baik yang tua maupun muda. Dia catat rapi mulai dari alamat hingga potensi masing-masing. Dia pantau kegitan mereka, diberinya santunan kepada yang perlu, diajaknya berdiskusi kepada yang patut diajak diskusi, dan meminta pendapat kepada yang pantas dimintai pendapat. Dia tak peduli posisi mereka di mana dan aliran politiknya apa, yang terpenting mempunyai gairah untuk memperjuangkan NU.

Salah satu hasil perjuangannya pula ialah Khittah NU. Tak banyak orang tau bahwa Khittah NU merupakan buah dari keseriusan dan kesabarannya dalam memikirkan perbaikan NU. Dari berbagai silaturrahmi dan diskusinya, akhirnya ada 24 orang NU dari berbagai kalangan dan usia berhasil dikumpulkan di Jakarta. Mereka dikenal dengn kelompok 24, kemudian membentuk 7 tim yang diketuai Gus Dur dan dimotori olehnya sendiri. Tim 7 bertugas menyusun draf Khittah. Kemudian melalui serangkaian kegiatan penelitian, silaturrahmi, serta korenspondensi ke berbagai kalangan, draft Khittah dilaporkan dan dimatangkan di kelompok 24 yang akhirnya dimasukkan sebagai bahan Muktamar NU XXVII di Situbondo.

Begitulah, atas kehendak Allah, konsep Khittah NU dibuat dan selesai bersamaan dengan kondisi yang memungkinkan penerimaannya oleh berbagai pihak termasuk pengesahannya dalam Muktamar. Kondisi-kondisi itu antara lain: kehendak pemerintah Soeharto menyederhanakan partai-partai menjadi hanya 3 partai; adanya Konbes NU setelahnya yang memunculkan seruan kembali ke Khittah 1926; dan perlakukan lalim rezim Soeharto melalui Naro terhadap tokoh-tokoh NU di PPP.

Namun pada saat sosialisasinya menjadi keputusan Muktamar, banyak pendukung yang ikut memasyarakatkannya bukan untuk menjelaskan agar dipahami, tapi didorong motivasi kepentingannya sendiri yang umumnya bersifat politis. Kebetulan pula saat itu bersamaan dengan waktu kampanye pemilu. Maka pengertian Khittah yang begitu mendasar tentang landasar berpikir, bersikap, dan berperilaku warga NU baik perorangan maupun organisasi, dikacaukan dengn masalah-masalah politik praktis dan kepentingan sesaat. Sehingga sampai kini pun banyak orang menganggap Khittah NU –dirancukan dengan istilah Kembali ke Khittah- itu muncul akibat dan selalu dikait-kaitkan dengan persoalan politik.

dr. Fahmi tidak pernah gagal. Karena dia tidak pernah memandang kegagalan sebagai kegagalan. Baginya kegagalan hanya sekadar bagian dari dinamika dalam proses perjuangan yang justru dapat dijadikan pelajaran. Seperti konsep Pengembangan NU Lima Tahun, yang tidak disentuh sedikitpun oleh tangan-tangan perealisasi pengurus NU hasil Muktamar ke 26 di Semarang (karena rata-rata yang terpilih jadi pengurus tidak memahami atau bahkan tidak membacanya). dr. Fahmi tidak menganggapnya sebagai kegagalan, justru ia memahaminya sebagai Karena sejak itu gaung pembenahan dan pembaharuan NU mulai marak dan meluas. Di samping itu kita dapat mengambil pelajaran darinya, yaitu antara lain perlunya menggalakkan pemahaman mengenai pengembangan khidmah NU.

Ketika semua orang, termasuk Gus Mus, sedih dan prihatin melihat nasib Khittah NU disalahpahami, bahkan dijadikan alat bertikai oleh warga NU sendiri dan banyak yang mengatakan bahwa sosialisasi Khittah NU gagal, dr. Fahmi tidak. Dia malah mengingatkan bahwa dampak akibat sosialisasi Khittah yang tak lurus itu hanyalah merupakan ekses belaka yang justru akan membawa warga NU menghayati secara langsung dan pada gilirannya meyakini pentingnya Khittah NU sebagai landasan yang tepat bagi mereka.

Kala itu tak capek-capeknya dr. Fahmi menghibur mereka yang sedih dan prihatin terhadap NU dengan bahasanya yang meyakinkan. Dia berkeliling menjelaskan Khittah NU yang sebenarnya kepada tokoh-tokoh NU yang ada di PPP, yang waktu itu merasa ‘digembosi’ tokoh-tokoh NU di luar PPP, maupun mereka yang merasa dimusuhi PPP. Dia mengunjungi kiai-kiai yang danggapnya tokoh-tokoh kunci, baik yang condong ke PPP seperti Mbah Mangli maupun yang condong ke Golkar seperti Mbah Mad Watucongol. Bahkan dia menginap di kediaman para kiai sepuh seperti Kiai Asad Asembagus untuk keperluan yang sama. Dia yakin bahwa kegalauan orang NU akibat sosialisasi Khittah atau pemelintiran terhadap hal itu lebih dikarenakan oleh adanya kepentingan lain. Bila kepentingan itu dapat dikalahkan, dia yakin orang-orang akan memahami dan menyadari arti pentingnya Khittah NU.

dr. Fahmi punya sikap yang selalu mendorong semangat berjuang untuk maju dan melaksanakan berbagai kegiatan untuk pengembangan, khususnya Ilmu Kesehatan Masyarakat. Kegiatan pengembangan dari tingkat puskesmas sampai tingkat intenasional beliau ikuti. Bila disebutkan di sini, tak akan cukup satu halaman. Bisa dibayangkan, betapa besar cita-citanya untuk peningkatan kesehatan masyarakat.

Cita-citanya tentang kesehatan masyarakat Indonesia adalah agar masyarakat Indonesia kualitas kesehatannya meningkat dan mencapai tingkat kesehatan yang setinggi-tingginya. Untuk mencapai hal itu, dr. Fahmi memandang perlunya peningkatan sumber daya manusia (SDM). Beliau merupakan pendorong berdirinya program Doktor Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Ia juga bercita-cita agar masyarakat yang kurang beruntung mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak yang peduli terhadap mereka. Maka saat beliau menjadi President Asia Pasific Academic Consorsium, diselenggarakanlah suatu pertemuan dari organisasi itu dengan tema “To Reach The Unreach”. Walaupun dapat diketahui bahwa tema ini merupakan tema dari WHO yang ingin mencapai health for all by year 2000, tapi semangat beliau untuk mendukung gerakan ini perlu kita teruskan.

Dari pertemuan itu tadi lahirlah Deklarasi Jakarta (Jakarta, 7 Desember 1988), yaitu deklarasi dari peserta simposium Kesehatan Masyarakat Asia dan Pasifik dalam “Mencapai mereka yang kurang beruntung, dan kepemimpinan dalam kelangsungan hidup anak”. Kiranya kita perlu kembali membuka deklarasi tersebut untuk melanjutkan cita-cita dr. Fahmi.

Selain semangat untuk memajukan kesehatan masyarakat, dr. Fahmi juga punya semangat yang besar untuk belajar ilmu agama. Kira-kira sebulan menjelang ia tak sadarkan diri sampai ajal menjemput, dr. Fahmi pergi ke Pesantren al Hamidiyah, diantar putri sulungnya, Ati. Saat itu di pesantren turun hujan lebat, dan kondisi fisiknya begitu lemah. Dalam kondisi seperti itu, ia memaksa untuk bertemu dengan KH. Zainuddin Ma’shum, pengasuh pesantren itu. Ia ingin belajar mengaji lagi dan memperdalam ilmu agama secara rutin. Lalu mereka membuat kesepakatan mengenai waktunya, yaitu setiap Sabtu. Namun belum sempat keinginannya terpenuhi, kesehatannya kian memburuk, dan sebulan sesudah pertemuan itu, dr Fahmi tak sadarkan diri berhari-hari hingga wafat, di Jakarta pada Ahad 3 Maret 2002.[3]

ReferensiSunting