Buka menu utama

Era Elizabeth adalah kala waktu ketika Kerajaan Inggris berada di bawah pemerintahan Ratu Elizabeth I (1558–1603). Sejarawan sering menggambarkannya sebagai zaman keemasan Inggris berkat perluasan wilayah dan kemenangan dalam pertempuran laut melawan Spanyol. Sejarawan John Guy (1988) berpendapat bahwa "Inggris secara ekonomi lebih sehat, lebih besar, dan lebih optimis di bawah kekuasaan Tudor" dibanding masa-masa sebelumnya.[1]

Era Elizabeth
1558–1603

Ratu Elizabeth I (kr. 1588)

Didahului Periode Tudor
Diikuti Era Jacob
Penguasa Elizabeth I

"Zaman keemasan" ini [2] merupakan puncak Renaisans Inggris dengan ciri berupa perkembangan pesat puisi, musik, dan sastra. Pada masa ini, William Shakespeare dan dramawan-dramawan lainnya merombak gaya teater Inggris. Pada masa ini pula wilayah Inggris di luar negeri meluas, sementara di dalam negeri, Reformasi Protestan menjadi lebih dapat diterima oleh orang-orang, khususnya setelah Armada Spanyol dipukul mundur. Era Elizabeth juga merupakan masa terakhir ketika Inggris menjadi kerajaan yang terpisah, karena setelah itu kerajaan ini bersatu dengan Skotlandia.

Era Elizabeth sangat berlawanan dengan masa pemerintahan sebelumnya dan sesudahnya. Pada masa ini, perpecahan Protestan/Katolik sempat diakhiri oleh penyelesaian keagamaan Elizabeth, dan parlemen juga belum cukup kuat untuk menantang absolutisme kerajaan.

Inggris juga kaya dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya. Renaisans Italia telah berakhir akibat dominasi Spanyol di wilayah tersebut. Prancis sibuk dengan perang agama di dalam negeri yang sempat diakhiri pada tahun 1598 oleh kebijakan toleransi Protestan dalam bentuk Maklumat Nantes.

Salah satu saingan besar Inggris adalah Spanyol, dan keduanya saling berkonflik di Eropa dan Amerika selama Perang Inggris-Spanyol 1585-1604. Upaya Philip II dari Spanyol untuk menyerang Inggris dengan Armada Spanyol pada tahun 1588 berhasil dipatahkan, tetapi Ekspedisi Drake-Norris tahun 1589 yang dilancarkan oleh Inggris ke Portugal dan Azores juga gagal. Setelah itu, Spanyol memberikan dukungan kepada umat Katolik Irlandia yang memberontak melawan pemerintahan Inggris, dan angkatan laut dan pasukan darat Spanyol dapat mematahkan serangan Inggris. Hal ini menguras keuangan Inggris dan ekonomi yang sempat dipulihkan di bawah kepemimpinan Elizabeth.

Inggris pada periode ini memiliki pemerintahan yang tersentralisasi, terorganisasi dengan baik, dan efektif, sebagian besar merupakan hasil reformasi Henry VII dan Henry VIII, serta hukuman keras Elizabeth terhadap para pembangkang. Secara ekonomi, negara diuntungkan oleh perdagangan trans-Atlantik dan pencurian harta Spanyol yang dilakukan terus-menerus.

ReferensiSunting

  1. ^ John Guy (1988) Tudor England, Oxford University Press, p. 32 ISBN 0192852132
  2. ^ From the 1944 Clark lectures by C. S. Lewis; Lewis, English Literature in the Sixteenth Century (Oxford, 1954) p. 1, OCLC 256072