Ekonomi lingkungan

sub-field of economics
Ekonomi
GDP PPP Per Capita IMF 2008.svg
Kategori umum

Ekonomi mikro · Ekonomi makro
Sejarah pemikiran ekonomi
Metodologi  · Pendekatan heterodoks

Bidang dan subbidang

Perilaku  · Budaya  · Evolusi
Pertumbuhan  · Pengembangan  · Sejarah
Internasional · Sistem ekonomi
Keuangan dan Ekonomi keuangan
Masyarakat dan Ekonomi kesejahteraan
Kesehatan  · Buruh  · Manajerial
Bisnis Informasi  · Informasi · Teori permainan
Organisasi Industri  · Hukum
Pertanian  · Sumber daya alam
Lingkungan · Ekologis
Geografi Ekonomi  · Kota · Pedesaan  · Kawasan
Peta ekonomi

Teknik

Matematika  · Ekonometrika
Eksperimental · Neraca nasional

Daftar

Jurnal · Publikasi
Kategori · Topik · Ekonom

Portal.svg Portal Bisnis dan ekonomi

Ekonomi lingkungan atau ilmu ekonomi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari perilaku atau kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Dalam ekonomi lingkungan, sumber daya alam dan lingkungan dipelajari dan dipertahankan serta ditingkatkan penggunaannya dengan tujuan pemakaian jangka panjang atau berkelanjutan. Dari sudut pandang ekonomi, masalah lingkungan timbul, karena biaya lingkungan tidak dimasukkan ke dalam biaya produksi, sehingga menyebabkan kerugian bagi orang lain atau pasar. Dalam hal ini, masalah lingkungan menyebabkan inefisiensi alokasi sumber daya alam dan lingkungan dalam proses produksi. Dalam konteks tersebut, sumber daya alam dan lingkungan menjadi penyedia bahan baku, penyedia fasilitas dan wadah untuk limbah

Dampak pencemaran sumber daya alam dan lingkungan, yang menimbulkan biaya yaitu:

  • Menurunnya kuantitas sumber daya alam dan lingkungan sebagai penyedia bahan baku
  • Menurunnya kualitas sumber daya alam dan lingkungan sebagai fungsi dasar ekologis
  • Menimbulkan ketidaknyamanan pada manusia
  • Memberikan dampak yang buruk kepada kesehatan dan produktivitas

Berkaitan dengan isu sumber daya alam dan lingkungan, metode yang digunakan untuk menilai, apakah perilaku atau kegiatan manusia tersebut feasible/layak atau tidak adalah dengan menggunakan metode Analisis Biaya Manfaat (Benefit Cost Analysis), di mana definisi manfaat adalah nilai barang/jasa bagi konsumen. Sementara, definisi biaya adalah manfaat yang hilang/dilepas/tidak diambil (opportunity cost).

Biaya pencegahan polusi adalah biaya yang dikeluarkan baik oleh perusahaan atau perorangan, dan/atau pemerintah untuk mencegah sebagian atau keseluruhan polusi. Dalam konteks ini, biaya pencegahan polusi yang dikeluarkan untuk menghindari polusi nilainya sama dengan kerusakan kesejahteraan masyarakat akibat polusi apabila biaya ini tidak dikeluarkan oleh perusahaan/perorangan/pemerintah.

SejarahSunting

Ekonomi lingkungan termasuk salah satu disiplin ilmiah baru dalam ilmu ekonomi. Beberapa pemikirnya ialah Nancy Olewiler dan Parzival Copes. Perkembangan ekonomi lingkungan sejalan dengan perkembangan pembangunan ekonomi. Pemikiran awal mengenai ekonomi lingkungan didasarkan pada ketidakmampuan ekonomi konvensional dalam menangani pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang. Fenomena yang timbul ialah penyakit Belanda. Kondisi ini membuat ekonomi konvensional tidak mampu mengatasi kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Pemikiran ekonomi sumber daya alam kemudian melandasi ekonomi lingkungan. Para pemikirnya antara lain L. C. Gray dan H. Hotelling.[1]

PemanfaatanSunting

Neraca sumber daya alamSunting

Ekonomi lingkungan dapat diamati menggunakan neraca sumber daya alam. Bentuk penyajian dan susunan neraca ini berupa wujud fisik dan bersifat moneter. Dalam neraca sumber daya alam pemanfaatan hasil alam dapat digambarkan dengan jelas. Hasil alam ini umumnya berupa hasil hutan, mineral dan energi yang digunakan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Neraca sumber daya alam disusun sebagai alat analisis dan evaluasi sistem pengelolaan dan manajemen sumber daya alam. Neraca yang bersifat moneter dapat digunakan untuk menganalisis neraca sumber daya alam. Sistem neraca nasional dapat menggunakan hasil neraca sumber daya alam untuk perhitungan dan pengukuran deplesi lingkungan.[2]

FaktorSunting

Ekonomi lingkungan dipegaruhi oleh kondisi atmosfer Bumi. Lingkungan yang meliputi suhu atmosfer dan konsentrasi karbon dioksida mempengaruhi sistem ekonomi secara tidak langsung. Peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfir bersamaan dengan penaikan suhu atmosfer. Selama periodea tahun 1950 hinggai tahun 2000, suhu atmosfer Bumi mengalami peningkatan sekitar 0,5 oCelsius. Antara 1990 hingga 2003, Bumi mengalami sepuluh tahun terpanas. Suhu Bumi diperkirakan akan meningkat sebesar 20 oCelsius antara periodei tahun 1990 sampai dengan tahun 2100. Penyebab kenaikan suhu atmosfer Bumi utamanya akibat konsentrasi karbon. Dalam kajian ekonomi lingkungan, kenaikan suhu lingkungan memberikan dampak positif yang menguntungkan dan dampak negatif yang merugikan. Sebagian besar dampaknya merupakan dampak negatif. Dampak negatif terhadap ekonomi lingkungan meliputi biaya penanggulanngan yang dikeluarkan guna menangani bencana alam yang terjadi di seluruh wilayah dunia. Beberapa bencana alam yang memberikan pengeluaran biaya yang besar ialah banjir dan cuaca ekstrem. Banjir merupakan akibat dari pencairan es di kutub yang menambah ketinggian permukaan air laut. Dampak terbesarnya adalah tenggelamnya kota-­kota di pinggir pantai dan negara­-negara kepulauan yang berukuran kecil di Samudra Pasifik. Selain itu, lahan pertanian yang subur akan berkurang akibat terendam oleh air yang meluap dari sungai-sungai besar. Sedangkan cuaca ekstrem dapat menghasilkan badai, tornado dan topan. Sebagian wilayah akan bertambah basah dan sebagian wilayah lainnya akan mengalami kekeringan.[3]

Sumber daya alam juga menjadi faktor utama

ReferensiSunting

  1. ^ Fauzi, Akhmad (2010). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi (edisi ke-3). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. xvi. 
  2. ^ Firdaus, dkk. (2020). Sistem Terintegrasi Neraca Lingkungan dan Ekonomi Indonesia 2015-2019. Jakarta: Badan Pusat Statistik. hlm. 160. ISSN 2355-4797. 
  3. ^ Wiryono (2013). Pengantar Ilmu Lingkungan (PDF). Bengkulu: Pertelon Media. hlm. 92. ISBN 978-602-90710-5-4.