Buka menu utama

Djohan Soetan Soelaiman adalah seorang saudagar besar Minangkabau pada paruh pertama abad ke-20 atau pada masa kolonial. Bersama Abdul Ghany Aziz, Agus Musin Dasaad, Djohor Soetan Perpatih, Samanhudi, Haji Syamsuddin, Nitisemito, dan Rahman Tamin, namanya tercatat sebagai pengusaha Muslim dan pribumi yang tangguh, yang mampu bersaing dengan pengusaha-pengusaha dari etnis lainnya.[1][2]

Djohan Soetan Soelaiman
Trio Minang penakluk Pasar Senen (1930-an).jpg
Djohan Soetan Soelaiman, Djohor Soetan Perpatih, dan Ayub Rais, trio saudagar Minang tempo doeloe.
LahirDjohan
1896
Bendera Belanda Sawah Lunto, Hindia Belanda
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
PekerjaanPengusaha
Dikenal atasPengusaha Muslim dan pribumi yang tangguh pada masa kolonial

Bersama adiknya, Djohor Soetan Perpatih, dan kongsinya Ayub Rais, mereka mengelola berbagai usaha di bawah bendera NV Djohan-Djohor yang mempunyai cabang di berbagai kota, seperti Pekalongan, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Medan.[3][4]

Djohan Soetan Soelaiman juga mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan tokoh Proklamator Indonesia, Mohammad Hatta, karena Djohan banyak membantu Hatta dalam perjuangan mencapai Indonesia merdeka.[3][4]

Daftar isi

Riwayat ringkasSunting

Perjalanan usahaSunting

Djohan Soetan Soelaiman merantau ke Batavia pada tahun 1921 dengan tujuan mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri atau swasta walau hanya tamatan kelas 2 sekolah rakyat dan tanpa bekal modal uang.[3]

Niatnya kemudian berubah begitu melihat ramainya dunia perdagangan di Batavia. Dengan mendekati seorang pedagang Arab agar dipercaya menjual barangnya, Djohan pun mulai berdagang dengan menggelar lapak kaki lima. Karena sifat hemat dan berkemauan keras pelan-pelan ia berhasil mengumpulkan modal. Selanjutnya ia pun membeli langsung barang dagangan dengan harga yang lebih murah, lalu menjualnya dengan harga yang lebih murah pula dari sebelumnya ketika menjual barang utangan.[3]

Usahanya kemudian semakin maju sehingga ia bisa menyewa lalu membeli sebuah toko di Pasar Senen. Tokonya lalu berkembang menjadi enam pintu. Setelah usahanya makin besar, ia pun memanggil saudaranya Djohor yang waktu itu masih bersekolah di Sawah Lunto, untuk menyusul ke Batavia. Dengan bekerja-sama, mereka semakin mengembangkan usaha, dan menamai perusahaan mereka dengan nama Handelsvereeniging Djohan-Djohor (Perusahaan Dagang Djohan-Djohor).[3]

BerkongsiSunting

Usaha tersebut semakin maju setelah seorang saudagar Minang lainnya, Ayub Rais, ikut bergabung. Tidak hanya di Batavia, perusahaan mereka yang kemudian bernama NV Djohan-Djohor berkembang dengan membuka cabang di berbagai kota, seperti Pekalongan, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Medan.[3]

ReferensiSunting

  1. ^ "Etos Bisnis Kaum Muslim" Gatra Edisi Khusus, 16 Oktober 2006. Diakses 13 Januari 2014.
  2. ^ "Indonesia, the Rise of Capital" Richard Robison, Equinox Publishing. Diakses 13 Januari 2014.
  3. ^ a b c d e f "Minang Saisuak #190 - Trio Minang penakluk Pasar Senen (1930-an)" Surya Suryadi - Singgalang, 14 September 2014. Diakses 13 Januari 2014.
  4. ^ a b "Dari buku ke buku: sambung menyambung menjadi satu" P. Swantoro, Kepustakaan Populer Gramedia. Diakses 13 Januari 2014.

Pranala luarSunting