Buka menu utama
Yustinus Martir

Dialog dengan Trypho (disingkat "Dialog"), bersama dengan Apologi Pertama dan Kedua, merupakan teks apologetika Kristen dari abad ke-2 yang mendokumentasikan upaya oleh teolog Yustinus Martir (Yustin) untuk menunjukkan bahwa Kekristenan adalah hukum yang baru bagi semua orang, dan untuk membuktikan dari kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias Yahudi.[1]

Dialog ini memanfaatkan perangkat sastra percakapan intelektual antara Yustin dan Trypho, seorang Yahudi. Bagian penutup mengajukan bahwa orang-orang Kristen adalah umat Allah yang sejati.

Identitas TryphoSunting

Identitas Trypho, sebagai rabi Tarfon (nama Ibrani "Tarfon" kemungkinan diturunkan dari kata Yunani "Trypho") telah diusulkan, tetapi hampir semua sarjana yang disebutkan dalam tulisan Setzer 'Tanggapan orang Yahudi untuk orang-orang Kristen Awal' tidak menerima gagasan bahwa Trypho ini adalah Tarfon.[2] Para sarjana ini mengatakan bahwa Trypho adalah karakter fiktif yang diciptakan oleh Yustin untuk tujuan kesastraan.[3] Buku Setzer ini lebih lanjut mengklaim bahwa, apakah karakter yang berdasarkan Trypho itu ada atau tidak, orang dapat berasumsi bahwa kata-kata Trypho "sebagian besar diletakkan ke dalam bibirnya oleh Yustin".[4]

Pengaturan dan strukturSunting

Pengaturannya disajikan sebagai sebuah pertemuan yang kebetulan antara Yustin dan Trypho di Efesus. Yustin baru saja memeluk agama Kristen dari latar belakang filosofis dan Trypho baru saja melarikan diri dari gangguan-gangguan di Palestina.

Ketika Yustin menyarankan Trypho untuk pindah ke agama Kristen, dialog menjadi hangat. Trypho mengkritik orang-orang Kristen dengan sejumlah alasan, dan Yustin memberikan jawaban untuk setiap kritik itu.

Dalam pembukaan "dialog", Yustin menceritakan pencariannya yang sia-sia di antara kaum Stoa, Peripatetika, dan Pythagoras untuk memuaskan pengetahuan tentang Allah; ia menemukan dalam ide-ide dari Plato sayap-sayap bagi jiwanya, yang dengan bantuannya ia berharap untuk mencapai perenungan mengenai Allah-kepala; dan pertemuannya di pantai laut dengan seorang pria tua yang mengatakan kepadanya bahwa bukan dengan usaha manusia, tetapi hanya oleh wahyu ilahi, berkat-berkat ini dapat dicapai, bahwa para nabi telah menyampaikan wahyu kepada manusia, dan bahwa kata-kata mereka telah tergenapi. Dari kebenaran ini dia meyakinkan dirinya sendiri dengan melakukan penyelidikan sendiri; dan kehidupan sehari-hari orang-orang Kristen serta keberanian para martir meyakinkannya bahwa tuduhan terhadap mereka itu tidak berdasar. Sehingga ia berusaha untuk menyebarkan pengetahuan tentang Kekristenan sebagai filsafat yang benar.

Dalam Dialog, Justin juga menulis, "aku memilih untuk tidak mengikuti manusia atau doktrin manusia, tetapi Allah dan ajaran-ajaran [disampaikan] oleh-Nya. Karena jika engkau telah jatuh cinta dengan beberapa orang yang disebut Kristen, tapi yang tidak mengakui [kebenaran] ini, dan berusaha untuk menghujat Allah Abraham, dan Allah Ishak, dan Allah Yakub; yang mengatakan tidak ada kebangkitan orang mati, dan bahwa jiwa-jiwa mereka, ketika mereka mati, telah dibawa ke surga; jangan membayangkan bahwa mereka adalah orang Kristen." [5] Bagian Ini kadang-kadang disebut sebagai bukti bahwa gereja mula-mula menganut doktrin jiwa tertidur, meskipun beberapa orang mengklaim bahwa penekanan Yustin adalah mengatakan bahwa penolakan kebangkitan orang mati adalah apa yang membuat mereka non-Kristen, terutama mengingat bahwa ia mengklaim bahwa "bahkan setelah kematian jiwa-jiwa yang berada dalam keadaan dapat merasakan" dalam Bab 18  Apologi Pertama.[6]

Dalam edisi kritis (dengan terjemahan Prancis), Philippe Bobichon menunjukkan sifat tertentu teks ini, sama-sama dipengaruhi oleh pemikiran Yunani dan Rabinik.[7]

TarikhSunting

Karena teks ini menyebutkan Apologi Pertama, yang ditulis antara tahun 150-155 M, Dialog dengan Trypho pastilah ditulis setelahnya. Tanggal kepenulisan telah disarankan antara tahun 155-167,[8] dengan beberapa sarjana lebih mendukung antara tahun 155-160,[9][10] atau bahkan tanggal tertentu pada tahun 160.[11]

KeaslianSunting

Keaslian Dialog dengan Trypho dan dua Apologi ini diterima secara universal. Naskah-naskahnya hanya disimpan dalam Sacra parallela; tapi, selain itu naskah-naskah tersebut dikenal oleh Tatian, Methodius, dan Eusebius, dan pengaruhnya dapat dilacak dalam tulisan-tulisan Athenagoras, Theophilus dari Antiokhia, Pseudo-Melito, dan terutama Tertulianus. Eusebius berkata mengenai dua Apologi, tapi ia mengutip keduanya sebagai satu naskah, yang memang demikian secara materi. Identitas kepenulisan ditunjukkan tidak hanya oleh referensi dalam bab 120 Dialog mengenai Apologi, tapi juga dengan kesatuan penanganan. Zahn menunjukkan bahwa Dialog pada awalnya dibagi menjadi dua buku, bahwa ada banyak kekosongan dalam bab 74, serta di awalnya, dan bahwa hal ini mungkin didasarkan pada kejadian yang sebenarnya di Efesus, kepribadian Rabi Tarfon telah digunakan, meskipun dalam bentuk Helenis.

EdisiSunting

Bahasa InggrisSunting

  •   Justin Martyr (1885). "Dialogue with Trypho". Dalam Roberts, Alexander; Donaldson, James. Ante-Nicene Christian Library. II. Diterjemahkan oleh Reith, George. Edinburgh: T. & T. Clark. .
  • Justin Martyr (1995). Dialogue with Trypho, a Jew (PDF). dari teks Yunani di [[#CITEREF|]].

Bahasa YunaniSunting

Lihat pulaSunting

  • Dialog Jason dan Papiscus

ReferensiSunting

  1. ^ Reading the Old Testament with the Ancient Church: Exploring the Formation of Early Christian Thought; by Ronald E. Heine (Sep 1, 2007) pages 48-52
  2. ^ Jewish Responses to Early Christians; by Claudia Setzer (Nov 1, 1994) ISBN 080062680X page 215
  3. ^ Exploring Jewish Literature of the Second Temple Period; by Larry R. Helyer (Jul 5, 2002) ISBN 0830826785 page 493
  4. ^ Jewish Responses to Early Christians; by Claudia Setzer (Nov 1, 1994) ISBN 080062680X page 135
  5. ^ Dialogue with Trypho, Chapter 80
  6. ^ First Apology, Chapter 18
  7. ^ Philippe Bobichon (ed.
  8. ^ Allert, Craig D. (2002). Revelation, Truth, Canon and Interpretation: Studies in Justin Martyr's Dialogue with Trypho. Brill. hlm. 34. If 1 Apology lies between 151–154, and because the Dialogue mentions the Apology it is certain that the Dialogue was composed after that date. Any conjecture regarding a more exact date than 155–167 is only that. We must, therefore, be satisfied with an imprecise date for the Dialogue with Trypho.  |accessdate= requires |url= (bantuan)
  9. ^ Wendel, Susan J (2011). Scriptural Interpretation and Community Self-Definition in Luke-Acts and the Writings of Justin Martyr. Brill. hlm. 11. Scholars generally agree that Justin wrote the Apologies around 150–155 CE and produced the final form of the Dialogue with Trypho at a slightly later date (~155–160 CE). 
  10. ^ Osborn, Eric Francis (1973). Justin Martyr. Tübingen. hlm. 8. The apologies were written shortly after 150 and the Dialogue was written between 155 and 160. 
  11. ^ Barnard, Leslie W. (December 4, 2008). Justin Martyr: His Life and Thought. Cambridge University Press. hlm. 23. Tarikh Dialog tidak dapat ditentukan dengan akurat. Pastinya lebih kemudian dari Apologi Pertama, yang kami beri tarikh c. 151-5 M, yang dikutipnya. Banyak sarjana berpendapat bahwa tarikh c. 160 M paling cocok untuk latar belakang Dialog. 

Pustaka tambahanSunting