Dewan Akko

Dewan Akko bertemu di Palmarea, dekat Akko, sebuah kota besar dari Kerajaan Yerusalem tentara salib, pada 24 Juni 1148. Haute Cour Yerusalem bertemu dengan tentara salib yang baru saja tiba dari Eropa, untuk memutuskan target terbaik untuk perang salib. Perang Salib Kedua telah diserukan setelah jatuhnya Edessa ke tangan Zengi pada 1144. Pada 1147, pasukan tentara yang dipimpin oleh Conrad III dari Jerman dan Louis VII dari Prancis mulai perjalanan terpisah mereka menuju timur. Conrad tiba di Akko pada April 1148, dan Louis melakukan perjalanan jauh ke selatan dengan berjalan kaki dari Antioch.

Karya-karya William dari Tirus memberikan banyak rincian mengenai Dewan Akko.

Bangsawan Yerusalem menyambut kedatangan pasukan dari Eropa, dan diumumkan bahwa sebuah dewan harus diadakan pertemuan dewan. Setelah banyak diskusi, diputuskan bahwa tentara salib akan bergerak melawan Damaskus. Apapun alasan untuk pengepungan Damaskus, hasilnya menjadi bencana bagi tentara salib. Akibatnya, Antiokhia, yang terletak lebih dekat daripada Damaskus ke Yerusalem, menjadi rentan. William dari Tirus mencatat banyak peserta di Dewan.

Latar belakangSunting

Perang Salib Kedua telah diserukan setelah jatuhnya Edessa ke tangan Zengi pada 1144. Pada 1147, tentara yang dipimpin oleh Conrad III dari Jerman dan Louis VII dari Prancis mulai perjalanan terpisah mereka ke timur; setelah melewati Konstantinopel, Conrad mengalami kekalahan besar di Anatolia, dan mundur untuk menemui Louis di Nicaea. Conrad kemudian menghabiskan musim dingin di Konstantinopel sementara Louis melanjutkan perjalanan ke selatan menuju pantai Mediterania, diintimidasi oleh orang-orang Turk sepanjang perjalanan, dan akhirnya berlayar ke Antiokhia, yang waktu itu dipimpin oleh Raymond dari Poitiers, paman dari istrinya Eleanor dari Aquitaine. Conrad tiba di Akko pada bulan April, dan Louis melakukan perjalanan jauh ke selatan dengan berjalan kaki dari Antiokhia.[1] Banhsawan Yerusalem menyambut kedatangan tentara dari Eropa, dan diumumkan bahwa sebuah dewan harus bertemu di Akko; seperti yang dikatakan William dari Tirus, "bersama dengan para bangsawan dunia yang memiliki pengetahuan akurat mengenai peristiwa dan tempat, mereka mempertimbangkan dengan seksama rencana apa yang paling bijaksana."[2]

ReferensiSunting

  1. ^ Madden (2005), hlm. 58–60
  2. ^ William of Tyre (1943), vol. 2, bk. 16, ch. 29, pg. 183

BibliografiSunting

  • Hoch, Martin; Phillips, Jonathan, ed. (2002). The Second Crusade: Scope and Consequences. Manchester University Press. ISBN 9780719057113. 
  • Madden, Thomas (2005). The New Concise History of the Crusades. Rowman & Littlefield. ISBN 9780742538238. 
  • Mayer, Hans Eberhard (1972). The Crusades. Diterjemahkan oleh John Gillingham (edisi ke-1st). Oxford University Press. 
  • Otto of Freising (1953). The Deeds of Frederick Barbarossa. Diterjemahkan oleh Charles Christopher Mierow. Columbia University Press. 
  • Smail, R. C. (1956). Crusading Warfare, 1097–1193. Barnes & Noble. 
  • Tyerman, Christopher (2006). God's War: a New History of the Crusades. Penguin Books. ISBN 978-0-14-026980-2. 
  • William of Tyre (1943). A History of Deeds Done Beyond the Sea. Diterjemahkan oleh E. A. Babcock; A. C. Krey. Columbia University Press. 

Bacaan lebih lanjutSunting

  • Steven Runciman, A History of the Crusades, vol. II: The Kingdom of Jerusalem and the Frankish East, 1100–1187. Cambridge University Press, 1952; repr. Folio Society, 1994.
  • James Brundage, The Crusades: A Documentary History. Milwaukee, WI: Marquette University Press, 1962.
  • M. W. Baldwin, ed. "The first hundred years," vol. 1 of A History of the Crusades, ed. Kenneth M. Setton. Madison, WI: University of Wisconsin Press, 1969.
  • Jonathan Riley-Smith, Atlas of the Crusades. New York: Facts on File, 1991.
  • Jonathan Phillips, The Second Crusade: Extending the Frontiers of Christendom. Yale University Press, 2007.