Debus Garut

DEBUS adalah salah satu jenis kesenian tradisional rakyat jawa Barat yang terdapat didaerah pamempeuk Kabupaten Garut ini tercipta kira-kira pada abad ke 13 oleh seorang tokoh penyebar agama islam, pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran islam secara meluas, tokoh penyebar agama islam disebut Mama Ajengan.[1]

SejarahSunting

Mama Ajengan berpikir dalam hatinya bagai manakah caranya untuk dapat menyebar luaskan atau mempopulerkan ajaran agama islam karena pada waktu itu sangat sulit sekali karena banyak kepercayaan-kepercayaan dan agama lain yang di anut oleh masyarakat setempat, sedangkan ajaran agama islam pada waktu itu masih belum dipahami dan di mengerti maknanya.[1] Pada tengah malam bulan purnama Mama Ajengan mengumpulka para santrinya untuk bersama-sama menciptakan satu kesenian yaitu menabuh seperangkat alat-alat yang terbuat dari pohon pinang dan kulit kambing sehingga dapat mengeluarkan bunyi dengan irama yang sangat unik sekali yang kemudian kesenian tersebut dinamakan debus.v Dengan cara menyajikan kesenian ini, diharapkan dapat menarik masa yang banyak, Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan dalam menjalankan tugas menyebarluaskan ajaran agamanya nanti dan mungkin akan banyak rintangan-rintangannya maka disamping belajar kelihaian menabuh alat-alatnya diajarkannya pula ilmu-ilmu kebatinan baik rohani maupun jasmani dipelajarinya pula ilmu-ilmu kekebalan /kekuatan dalam dirinya masing-nasing umpamanya tahan pukulan benda-benda keras seperti batu bata, kayu, kebal terhadap golok-golok tajam dsb.[1] Menjalani dan mendalami berbagai ilmu-ilmu kebatinan tersebut untuk menjaga apabila terjadi dikemudian hari sewaktu mereka mempopulerkan ajaran agamanya.[1] Di dalam rangka mempertunjukan kesenian debus tersebut mama Ajengan dan para santrinya yanh telah mahir dan dibekali oleh ilmu-ilmunya masuk, keluar kampung bahkan ke berbagai kota mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat umaro tua muda, laki-laki perempuan sambil memasukkan pengaruh ajaran agamanya lewat kesenian yang dipertunjukannya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan berjanji yang mengambil dari kitab suci Al-qur'an yang isinya mengajak masyarakat banyak untuk dapat memahami dan melaksanakan ajaran agama islam.[1] Sampai sekarang secara turun temurun kesenian debus masih dipergunakan sebagai media untuk menghibur para tamu yang datang ke daerah tersebut disamping itu sering disajikan pada acara hajatan (kenduri) umpamanya hajat chitana,hajat perkawinan atau upacara hari besar Umat Islam, yang sangatunik sekali sampai sekarang masih diperingati tiap terang bulan purnama tanggal 14 oleh keturunan mama Ajengan.[1] Lagu-lagu pengiring pada kesenian debus biasanya bernafaskan Islam disamping berbahasa Arab, sebagai pujian dan pujaan yang menganggeungkan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.[2] Syair lagu tersebut dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:[2] Ibadallah rijalallah
Aqisuna liajlillah Waqunu aonana fillah Asa nabdho bifadillah


Waya aqta waya anjah Waya sadatu ya ahbab Wa antum ya solil albab Ta'ala wansuru lillah

Saalnakum saalnakum Walizufa rojaonakum Walif amrin kosodnakum Pasusu azmakum lillah

Fata Robbi bisadati Takaqokli isarati Asatati bisarati Wa yaspu waktuna lillah

Mikasfil hajbi an aeni Wa raf il baeni min baeni Wa tamsil kaefi wal seni Ainuril wajhiya Allah

Solatulloh hi maolana Ala man bil hudajana Wa man bilhaqi aulana

Safiil haqi indallah,jst....

catatanSunting

  1. ^ a b c d e f [1]
  2. ^ a b [Rostiyati, Ani dkk.(2004).Potensi Wisata Di Daerah Pameungpeuk Kabupaten Garut.Bandung: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung Proyek Pemanfaatan Kebudayaan Daerah Jawa Barat.) (kaca 36)