Buka menu utama

Datu Nuraya atau yang bernama asli Abdul Mu'in/Abdur Ra'uf/Abdul Jabbar adalah seorang Datu yang terkenal di Kalimantan Selatan. Beliau dikenal karena makamnya yang berukuran panjang ±60 meter dan lebar ±6m meter, terletak di Tatakan, Tapin Selatan, Tapin.

Abdul Mu'in
Bismillahirahmanirahim
Syaikh
Abdul Mu'in
عبد المعين
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar (Islam)Syaikh
Gelar AdatDatu Nuraya
Nama
NamaAbdul Mu'in
Nama (arabic)عبد المعين
Agama Islam
Bantuan kotak info

KisahSunting

Di Pantai Jati, Munggu Karikil dekat Liang Macan, tetangga Desa Tatakan tinggal seorang guru miskin namun sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya, beliau adalah Datu Suban, karena kemiskinan beliau, beliau dan istri hanya makan singkong setiap harinya.

Pada saat lebaran Hari Raya, Datu Suban kedatangan 13 orang murid-muridnya, yaitu: Datu Murkat, Datu Taming Karsa, Datu Niang Thalib, Datu Karipis, Datu Ganun, Datu Argih, Datu Ungku, Datu Labai Duliman, Datu Harun, Datu Arsanaya, Datu Rangga, Datu Galuh Diang Bulan, dan Datu Sanggul.

Ketika sedang menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah, tiba-tiba datang seorang yang bertubuh sangat besar. Serta merta mereka terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang tersebut.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” kata orang besar, sambil mendekat. “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab para Datu.

Lalu Datu Suban berkata kepada murid-muridnya bahwa orang yang membari salam itu insya Allah akan berniat baik dan tidak membahayakan.

“Maaf, siapa saudara yang datang dan darimana asalmu serta apa maksud saudara ?” tanya Datu Suban. Si raksasa hanya menjawab dengan ucapan La ilaha illallah. Setiap Datu Suban bertanya selalu dijawabnya dengan kalimat tauhid La ilaha illallah, hingga 7 kali ditanya dan dijawab dengan 7 kali dzikir tauhid itu. Setelah 7 kali dzikir tersebut, tiba-tiba raksasa itu ambruk. Lalu para Datu menghampiri dan memeriksanya, ternyata orang besar itu telah meninggal dunia, serempak mereka berujar Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.

Melihat keadaan yang demikian, para Datu yang berjumlah 13 orang tadi bingung, bagaimana cara memandikan dan menguburkannya? Apalagi saat itu musim kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras, sedang lubang untuk penguburan harus lebar dan panjang, dan untuk memandikannya juga diperlukan air yang sangat banyak.

Konon ditengah kebingungan para datu, tiba-tiba hujan lebat turun dan ketika mereka mengangkat jenazah dengan mengerahkan tenaga penuh, ternyata tubuh orang besar itu sangat ringan, hanya seperti segumpal kapas. Serentak mereka berseru Subhanallah.

Sebelum mereka mewaradunya (membersihkan) mayat itu, Datu Suban menemukan sebuah tas selempang dari dalam pakaiannnya, setelah membukanya ternyata terdapat sebuah kitab yang akhirnya terkenal dengan sebutan "Kitab Barencong".

Para Datu mulai membagi tugas, membersihkan mayat ialah Datu Argih, Datu Niang Thalib, Datu Ganun, Datu Labai Duliman, Datu Ungku, sedangkan Datu Karipis bertugas mencari batu nisan dari batu alam. Sedang yang lain membuat lubang kubur di gunung Munggu Karikil dekat Munggu Tayuh.

Konon lubang yang digali tidak cukup untuk mengubur jenazah itu, terpaksa kakinya harus dilipat sehingga tubuhnya seperti huruf hamzah.

Pada hari ketujuh setelah meninggalnya raksasa itu, Datu Suban membuka kitab yang ditemukan pada jenazah tersebut di hadapan 13 muridnya sambil mengucap basmalah, ternyata berisi bermacam-macam khasiat ilmu dunia dan akhirat.

Akhirnya orang besar/raksasa tersebut di beri nama "Nur Raya" karena dia datang pada hari raya dan wafat pada hari itu juga dan sesuai dengan badannya yang "raya".

Nur Raya berarti pembawa cahaya yang sangat luas seperti raya, dengan panjang kuburnya kurang lebih 60 meter (dengan kaki dilipat, kalau tidak dilipat mungkin bisa sampai 100 meter) dan lebar kurang lebih enam meter.

Setelah para Datu meninggal, tidak ada yang mengetahui dimana letak makam Datu Nuraya. Namun beberapa tahun kemudian penduduk Munggu Tayuh, Tatakan, ketika malam hari sering melihat cahaya yang memancar dari tanah di sekitar Benteng Munggu Tayuh naik ke atas langit. Salah seorang penduduk yang penasaran, berusaha mencari asal sumber cahaya tersebut, dan orang itu menemukan 2 batu yang besar dengan jarak 45 meter lebih, dan persis seperti batu nisan yang menghadap ke arah kiblat. Penduduk tersebut bernama Baseran yang bergelar Utuh Karikit.

Pranala LuarSunting