Buka menu utama

Benidictus Siregar atau yang kemudian dikenal dengan nama Beni Siregar (lahir di Yogyakarta, Indonesia, 10 Januari 1988; umur 31 tahun) adalah seorang pelawak tunggal berkebangsaan Indonesia. Beni adalah salah satu kontestan Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim ke-4 (SUCI 4) tahun 2014, di mana ia lolos melalui audisi wilayah Yogyakarta. Beni adalah satu-satunya kontestan yang lolos ke SUCI 4 lewat audisi Yogyakarta[1], meskipun di kompetisi ia mewakili Yogyakarta bersama Hifdzi Khoir, hanya Hifdzi lolos melalui audisi di Jakarta. Beni dikenal dengan wajahnya yang unik lalu dengan persona sombongnya saat ber stand up comedy. Ia juga terkenal dengan teknik "paraprodoskian" dalam ber stand up comedy, yaitu dengan permainan kata yang mirip menyerupai gaya one liner namun kata-kata yang digunakan adalah kata yang berbeda namun memiliki inti atau makna yang sama sehingga membuat penonton tertawa karena Beni menciptakan pemikiran kepada penonton bahwa sebenarnya apa yang ia bicarakan intinya tetap sama seperti yang ia ungkapkan di awal pembicaraannya (penonton akan menganggap apa yang diucapkan Beni sebenarnya tidak perlu diulang, tetapi dengan perbedaan kata yang digunakan olehnya membuat penontonnya kadang bisa terkecoh dan efek itulah yang akhirnya membuat penonton tertawa).

Beni Siregar
Benidictivity.jpg
Nama lahir Benidictus Siregar
Nama lain Beni, Beni Siregar, Benidictivity
Lahir 10 Januari 1988 (umur 31)
Bendera Indonesia Yogyakarta, Indonesia
Pekerjaan Pelawak tunggal
Tahun aktif 2012—sekarang

Daftar isi

KarierSunting

Beni yang memiliki darah Batak ini lahir dan besar di Yogyakarta tepatnya di Wates, Kulon Progo. Beni merupakan lulusan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta jurusan pendidikan Bahasa Inggris[2]. Beni mulai ber stand up comedy pada tahun 2012 dengan bergabung bersama komunitas Stand Up Indo Jogja, yang juga didirikan pada tahun yang sama. Pada tahun 2013, Beni mengikuti audisi Stand Up Comedy Indonesia musim ke-3 (SUCI 3) di Yogyakarta dan memperoleh golden ticket, tetapi ia belum beruntung untuk lolos ke putaran final dan hanya bisa menyaksikan rekan sekomunitasnya yaitu Bene Dionysius yang menjadi satu-satunya wakil Yogyakarta di SUCI 3. Tidak putus asa, Beni kemudian kembali ikut audisi setahun kemudian yaitu SUCI 4. Kali ini selain memperoleh golden ticket, ia akhirnya lolos ke Babak Pre Show dan akhirnya lolos sebagai satu dari 16 finalis resmi SUCI 4 setelah melalui Pre Show. Akan tetapi Beni tidak bertahan lama di kompetisi, karena ia harus close mic di Show ke 3 saat membawakan tema mengenai makanan. Beni tereliminasi di 13 besar dan menjadi komika keempat di SUCI 4 yang harus close mic.

Pada tahun 2015, Beni kembali mengikuti kompetisi stand up comedy. Beni mengikuti Stand Up Comedy Academy yang diadakan oleh Indosiar yang merupakan musim pertama kompetisi tersebut diselenggarakan[3]. Di kompetisi tersebut, Beni kembali bertemu saingannya yang sama-sama merupakan alumni SUCI 4 yaitu Yudha Keling dan Newendi. Hasilnya Beni kembali tidak mampu meraih juara karena ia harus tereliminasi di babak 11 besar[4].

KarakterSunting

Beni ketika ber stand up comedy menonjolkan personanya sebagai orang yang sombong namun kontradiktif dengan wajahnya yang unik. Pembawaannya juga terkadang datar sehingga beberapa ada yang menganggap ia termasuk komika deadpan atau tanpa ekspresi wajah meskipun tidak sepenuhnya. Ciri khas yang menonjol dari Beni adalah gaya komedinya yang menggunakan teknik distorsi kosakata atau bahasa ilmiahnya adalah paraprodoskian. Paraprodoskian adalah teknik yang sekilas mirip one liner, tetapi lebih menekankan pada permainan kata-kata di mana sang komika harus banyak menguasai kosakata dalam Bahasa Indonesia dan merupakan salah satu komedi tertua yang pernah ada. Di sini kata-kata yang digunakan oleh Beni saat berbicara adalah kata-kata yang berbeda namun memiliki inti atau makna yang sama sehingga yang membuat penonton tertawa adalah karena Beni menciptakan pemikiran kepada penonton bahwa sebenarnya apa yang ia bicarakan intinya tetap sama seperti yang ia ungkapkan di awal pembicaraannya, bahwa penonton akan menganggap apa yang diucapkan Beni sebenarnya tidak perlu diulang, tetapi dengan perbedaan kata yang digunakan olehnya membuat penontonnya kadang bisa terkecoh dan efek itulah yang akhirnya membuat penonton tertawa. Teknik ini juga lekat dengan salah seorang komedian Indonesia masa kini yaitu Cak Lontong.

Beberapa contoh lawakan dari Beni:

  • "Nama saya Beni, biasa dipanggil Beni." (makna: Semua orang sudah diberi tahu kalau namanya adalah Beni, tapi kata "Beni" kembali diulang.)
  • "Di sini saya bukan mau berbohong, hanya saya ingin menceritakan kisah nyata yang belum terjadi." (makna: Kalau menceritakan hal nyata tapi bukan fakta ya sama dengan bohong.)
  • "Ariel NOAH itu teman SD saya, sewaktu saya di SMP." (makna: Dalam hal ini teman sebaya, teman sebaya kalau waktu di SMP berarti sama-sama di SMP, tidak mungkin teman sebaya punya jarak umur yang terlalu jauh.)
  • "Jangan contoh Yudha Keling, udah close mic mukanya jelek lagi. Mending saya, muka jelek tapi close mic." (makna: Sama saja, cuma kata jelek dan close mic nya bertukar posisi.)

Acara TVSunting

ReferensiSunting

Pranala luarSunting