Buka menu utama

Bebandung merupakan salah satu karya sastra yang berasal dari Lampung. Bebandung merupakan salah satu karya sastra lampung. Bebandung adalah jenis puisi yang berisikan petuah atau ajaran agama Islam.[1] Sastra ini sering diungkapkan dalam acara cangget. Di samping itu, bebandung sering dibacakan dalam acara pertemuan, ketika bergembira karena panen berhasil, untuk didengar sendiri dalam mengisi waktu senggang, atau ketika akan membobokkan bayi kesayangan. Sama halnya dengan jenis puisi pepatcor dan pisaan, bebandung dibacakan dengan didendangkan. Bebandung terdiri atas sejumlah bait yang tiap-tiap bait terdiri atas empat larik berima ab/ab seperti pada pantun. Sama halnya dengan bentuk pisaan, bebandung juga merupakan bait-bait yang saling berkait, yaitu larik keempat dij adikan baris pertama bait berikutnya. Setiap baris terdiri atas tiga atau empat kata dengan tujuh suku kata. Jumlah larik setiap bait dan jumlah suku kata itu merupakan salah satu unsur penentu irama dalam menyampaikannya. Menyampaikan bebandung biasanya dengan dinyanyikan tanpa diiringi alat-alat musik tradisional seperti nyanyian rakyat di daerah lain. Supaya amanat suatu bebandung dapat dipahami serta dihayati pendengar, seseorang dianjurkan mengikutinya dari bait pertama sampai selesai secara tidak terputus. Hal ini berhubungan dengan struktur bait-bait bebandung yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya.Panjang suatu bebandung erat hubungannya dengan banyaknya pesan yang disampaikan dan bergantung pula pada kemampuan si penyampai bebandung itu. Dengan demikian, banyaknya bait suatu bebandung bukan menjadi ukuran penilaian baik buroknya, menarik atau tidak menariknya bebandung itu. Kualitas suatu bebandung diukur dengan kemampuan si penyampai dalam menyentuh perasaan dan menyadarkan para pendengar akan makna kehidupan di dunia ini. Berdasarkan isinya, puisi bebandung itu mempunyai fungsi sebagai berikut. {1) Di dalam bebandung terkandung ajaran agama Islam yang berhubungan dengan situasi kehidupan umat Islam. Pengamalan ajaran agama itu ada yang belum sesuai dengan hukum agama Islam karena terpengaruh oleh kebiasaan atau kepercayaan yang bukan Islam. Dengan pembacaan bebandung ini diharapkan pengamalan yang keliru itu dapat ditinggalkan atau tidak dilakukan lagi dan pengamalan yang sesuai supaya lebih ditingkatkan. Dengan demikian, pembacaan bebandung, baik untuk diri sendiri maupun untuk masyarakat dalam suatu pertemuan itu berfungsi religius. (2) Bebandung biasa dibacakan dengan dinyanyikan tanpa diiringi dengan alat musik karena isinya berupa pesan-pesan religius, pembacaan bebandung ini juga akan meningkatkan apresiasi seni masyarakat Lampung Pubiyan. Rasa cinta masyarakat terhadap kesenian daerah dengan mendengarkan bebandung akan dapat ditingkatkan. (3) Puisi bebandung, baik isi maupun cara penyampaiannya berkaitan dengan segi kehidupan masyarakat beragama yang banyak menyingkap kebenaran. Oleh karena itu, kegiatan membacakan bebandung akan dapat membendung pengaruh budaya asing, yang pada era globalisasi ini sudah menggerogoti budaya tradisional. {{Sedang ditulis}}

ReferensiSunting

  1. ^ Udin, H. Nazaruddin (1998). Sastra Lisan Lampung Dialek Pubiyan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 26. ISBN 9794598267.