Bakrie & Brothers

perusahaan Indonesia

Bakrie & Brothers adalah salah satu anak usaha tertua dari Bakrie Group yang bergerak di bidang industri manufaktur dan infrastruktur.[1][2] Bisnis perusahaan termasuk menjadi produsen pipa baja, EPC, bahan bangunan, komponen otomotif, dan juga proyek infrastruktur di Indonesia.[3]

Bakrie & Brothers
PT Bakrie & Brothers Tbk
Publik (IDX: BNBR)
IndustriManufaktur, infrastruktur
Didirikan10 Februari 1942
PendiriAchmad Bakrie
Kantor
pusat
Jakarta, Indonesia
Tokoh
kunci
Anindya Bakrie, Presiden Direktur
PendapatanRp 3.3 triliun (2018), Rp 3.2 triliun (2019)
Rp -1.2 triliun (2018), Rp 852 miliar (2019)
Karyawan
2.733 (2019)
IndukBakrie Group
Situs webwww.bakrie-brothers.com

SejarahSunting

Bakrie & Brothers didirikan pada tahun 1942 oleh almarhum Achmad Bakrie dari Lampung.[4] Pada Permulaannya, Bakrie & Brothers didirikan sebagai perusahaan perdagangan umum dan keagenan, yang dikenal sebagai pionir dalam industri manufaktur pipa baja di Indonesia.[5]

Saat Ini, Bakrie & Brothers bergerak di bidang Manufaktur dan Infrastruktur, yaitu menjadi produsen pipa baja, EPC, bahan bangunan, komponen otomotif, dan juga proyek infrastruktur.

ProyekSunting

Unit usaha Bakrie & Brothers; Bakrie Indo Infrastructure sedang dalam tahap mengerjakan tiga proyek besar yaitu; Jalan Tol, Pembangkit Listrik, dan Pipa Gas. Pembangkit Listrik Tanjung Jati A adalah pembangkit listrik tenaga batu bara 2x660 MW yang terletak di Jawa Barat.[6] Jalur Pipa Gas Kalija adalah pipa yang mentransportasikan gas alam dari pantai Kalimantan Timur, hingga Tambak Lorok di Semarang, Jawa Tengah dengan total kepanjangan 1,400km.[7] Saat ini, proyek Pipa Gas Kalija sudah memasuki fase pertama. Jalan Tol Cimanggis-Cibitung adalah jalan tol sepanjang 26.4km yang terletak di Jawa Barat dan akan beroperasi melalui Depok, Bekasi. dan Bogor.[8]

UsahaSunting

Industri metalSunting

Komponen otomotifSunting

Bahan bangunanSunting

InfrastrukturSunting

Isu dan kontroversiSunting

Pada awalnya, Bakrie & Brothers dikenal sebagai perusahaan yang berfokus kepada Investasi, dengan portfolio yang memasuki industri batu bara, MIGAS, properti, perkebunan, dan telekomunikasi.

Tetapi, oleh karena krisis finansial yang terjadi pada tahun 2008, Bakrie & Brothers terpaksa menjual beberapa asetnya untuk membayar hutang.

Aksi tersebut membuat Perusahaan mengalihkan fokus ke unit usaha dengan kepemilikan 100%, pada bidang Infrastruktur (Bakrie Indo Infrastructure), dan Manufaktur (Bakrie Metal Industries, Bakrie Building Industries, Bakrie Autoparts).[9]

Penjualan saham Bumi Resources sebesar $1.3 miliarSunting

Pada saat itu, Bakrie & Brothers memiliki mayoritas saham Bumi Resource. Tetapi, sewaktu krisis kredit 2008, Perusahaan mengalami outsanding debt sebesar US$ 1.2 Miliar.

Sebagai solusi, Perusahaan menyelesaikan hutangnya dengan restrukturisasi 35% saham Bumi Resources kepada Northstar, senilai US$ 1.3 Miliar[10], membuatnya menjadi salah satu korban paling besar di Indonesia karena krisis kredit global.[11]

Pada tahun 2015, Bakrie & Brothers mengalami hutang sebesar US$ 800 Miliar kepada Credit Suisse, Mitsubishi Corporation, dan Eurofa Capital Investment. Perusahaan lalu menjual seluruh saham Bumi Resources yang dimilikinya kepada produsen Batu Bara, Borneo Lumbung Energi & Metal, di mana hasilnya digunakan untuk melunaskan hutang.[12]

2012—Pelepasan Bakrie Telecom, Bakrie Sumatra Plantations, dan Bakrieland DevelopmentSunting

Pada tahun 2012, berhubung dengan hutang outstanding, Bakrie & Brothers menjual saham Bakrie Sumatra Plantation sebesar 170.48 juta lembar senilai Rp. 56.25 miliar tunai.[13]

4.30 miliar saham Bakrie Telecom juga di jual dengan harga Rp. 340 per lembar, memperoleh Rp. 1.4 triliun.[13]

Sewaktu tahun yang sama, Perusahaan juga menjual 138.8 juta lembar saham Bakrieland Development (Code: ELTY), mengurangi kepemilikan BNBR menjadi 3.25 juta lembar, atau 7.79% dari ELTY. [14]

Rugi Rp. 1.7 triliunSunting

Bakrie & Brothers mengalami rugi sebesar Rp. 1.75 Triliun[15] dibanding kinerja 2014 yang menguntungkan Perusahaan sebesar Rp. 155.2 miliar.[16]

President Direktur & CEO Bakrie & Brothers, Bobby Gafur Umar menyatakan bahwa kerugian tersebut terjadi karena faktor ekonomi makro dan mikro, yang menghambat seluruh penjualan dari unit usaha.

Salah satu kontributor terbesar berupa rugi selisih kurs, di mana perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp. 722 miliar.[17]

Upaya PembenahanSunting

Pada tahun 2018, setelah melakukan sejumlah rangkaian restrukturisasi hutang, terutama dalam bentuk konversi hutang ke ekuitas dan aksi reverse stock split, ekuitas perusahaan berubah menjadi positif untuk pertama kalinya, karena adanya kenaikan pada nominal obligasi wajib konversi dari Rp 1 triliun di 2017 menjadi Rp 9.4 triliun di 2018 yang merupakan bagian dari restrukturisasi hutang [18]

Kemudian, pada tahun 2019, perusahaan mulai mencatatkan laba secara 4 kuartal berturut turut, dimana pada akhir 2019 perusahaan berhasil meraih pendapatan Rp 3.2 triliun dan laba bersih Rp 853 miliar[19].

Selain itu, perubahan manajemen yang dilakukan tahun 2019, dengan "turun gunung"-nya Anindya Bakrie menjadi Direktur Utama (sebelumnya Komisaris Utama di 2018) mencanangkan fokus perusahaan untuk penuh berkonsentrasi pada pengembangan infrastruktur dan manufaktur di masa mendatang.

Salah satunya, mencoba merintis industri kendaraan listrik nasional bersama dengan BYD Auto. Kemudian, pada 2018 perusahaan juga mengakuisisi Multi Kontrol Nusantara, sebuah perusahaan teknologi informasi dan jaringan melalui anak usahanya Bakrie Indo Infrastructure [20].

ManajemenSunting

  • Direktur Utama : Anindya Novyan Bakrie
  • Wakil Direktur Utama : Anindra Ardiansyah Bakrie
  • Direktur : A Amri Aswono Putro
  • Direktur : RA Sri Dharmayanti
  • Direktur : Roy Hendrajanto Marta Sakti
  • Direktur Independen : Dody Taufiq Wijaya

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Kelompok Usaha Bakrie". Bakrie Untuk Negeri. Diakses tanggal 18 April 2016. 
  2. ^ Bakrie & Brothers Annual Report - Powering Presence. Jakarta, Indonesia: Bakrie & Brothers. April 2015. hlm. 18. 
  3. ^ "About Us". Bakrie & Brothers. Diakses tanggal 18 April 2016. 
  4. ^ Pohan, Syafruddin (1992). Achmad Bakrie - Sebuah Potret Kerja Keras, Kejujuran, dan Keberhasilan. Lampung, Indonesia: Kelompok Usaha Bakrie. hlm. 5. 
  5. ^ "Corporate History". Bakrie & Brothers. Diakses tanggal 18 April 2016. 
  6. ^ "Grup Bakrie Garap PLTU Tanjung Jati Senilai Rp 29 Triliun". Detik Finance. Diakses tanggal 18 April 2016. 
  7. ^ "Tentang Kami". kalija. Diakses tanggal 18 April 2016. 
  8. ^ "Pembebasan Lahan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung di Bekasi Dikebut". Tempo.co. Tempo. Diakses tanggal 18 April 2016. 
  9. ^ AHP, Andanarheswari. "BAKRIE & BROTHERS: Lebih Fokus Garap Infrastruktur & Manufaktur" (29/04/2014). Market. Diakses tanggal 26 May 2016. 
  10. ^ Webb, Sara. "UPDATE 2-Indonesia Bakrie says settles debt in Bumi deal" (25 Dec 2008). Reuters. Diakses tanggal 12 May 2016. 
  11. ^ Wright, Tom. "Bakrie & Brothers to Sell Coal Company Stake for $1.3 Billion" (2 Nov 2008). The Wall Street Journal. Diakses tanggal 12 May 2016. 
  12. ^ Silaen, Linda (10 February 2015). "Indonesian investor in $700M equity swap". Nikkei. Diakses tanggal 12 May 2016. 
  13. ^ a b "Divestasi anak usaha, BNBR peroleh dana Rp1,51 triliun" (12 Jan 2012). SINDONEWS. Diakses tanggal 12 May 2016. 
  14. ^ "Bakrie sells shares of three subsidiaries to settle debts". The Jakarta Post. 11 April 2012. Diakses tanggal 12 May 2016. 
  15. ^ "Daily Report" (PDF). Valbury Research. 06 April 2016. Diakses tanggal 12 May 2016. 
  16. ^ Pasopati, Giras (28 March 2016). "Pendapatan Merosot, Bakrie & Brothers Rugi Rp1,74 Triliun". CNN Indonesia. Diakses tanggal 12 May 2016. 
  17. ^ Rachmat Kusuma, Dewi (28 March 2016). "Dalam Setahun, Bakrie and Brothers Rugi Rp 1,75 T". Detik Finance. Diakses tanggal 12 May 2016. 
  18. ^ Laporan Keuangan Tahunan 2018 Bakrie and Brothers
  19. ^ Laporan Keuangan Tahunan Bakrie and Brothers 2019
  20. ^ Public Expose Bakrie and Brothers 2019

Pranala luarSunting