Buka menu utama

Baikayaik adalah salah satu sastra lisan Minangkabau, yang biasanya banyak ditemukan dari daerah Pariaman. Sastra lisan ini berisi cerita nabi yang didendangkan (Sulastri, 1989), teksnya digubah dalam bentuk prosa liris. Baikayaik sangat kental akan dengan Islam, karena biasanya Baikayaik dipertunjukkan pada waktu perayaan atau ritual agama. Seperti halnya peringatan Maulud Nabi yang dilakukan di surau atau di mesjid. Baikayaik dipertunjukkan juga di rumah - rumah masyarakat, yakninya pada acara mandoa, baik mandoa selamatan atau kemalangan, contohnya, acara khitanan aqiqah serta naik batu dan mandoa 100 hari meninggal dunia. Biasanya ikayaik di iring dengan badikia yang dilakukan secara berganti-gantian, setelah tukang dikia beristirahat, pada pelaksanaannya. Pendendangan Baikayaik tidak diiringi instrumen bunyi bunyian atau alat musik, yang hanya merupakan dendangan lisan.[1]

ReferensiSunting

  1. ^ Amir, Adriyetti (2006). Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau. Padang: Andalas University press. ISBN 979-1097-08-9.