Bahasa Yonaguni

Bahasa Yonaguni atau Bahasa Dunan (与那国物言/ドゥナンムヌイ Dunan Munui) adalah bahasa Japonik yang dituturkan oleh penduduk asli Pulau Yonaguni, Kepulauan Ryukyu.[4][5] Bahasa Yonaguni tidak diakui sebagai bahasa tersendiri, melainkan dialek dari bahasa Jepang dan disebut sebagai Dialek Yonaguni (与那国方言 Yonaguni hōgen) yang penggunaannya tergusur oleh bahasa Jepang.[6] Berdasarkan klasifikasi UNESCO, bahasa ini dikategorikan sebagai bahasa kritis dan terancam punah.[7]

Yonaguni
与那国物言
ドゥナンムヌイ
Dunan Munui
Pelafalan[dunaŋmunui]
Dituturkan diJepang
WilayahPulau Yonaguni
Penutur bahasa
400  (2015)[1]
pace: normal;">
pace: normal;">Kanji, Kana (kontemporer)
Kaidā (klasik)
Kode bahasa
ISO 639-3yoi
Glottologyona1241[2]
Linguasfer45-CAC-bc [3]
{{{mapalt}}}
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode.

Jumlah Penutur dan Vitalitas BahasaSunting

Tidak diketahui pasti berapa jumlah penutur bahasa ini. Berdasarkan pengamatan sosiolinguistik serta data sensus yang tersedia, diperkirakan jumlah penutur bahasa Yonaguni mencapai 400 jiwa, lebih kurang 25% dari jumlah penduduk keseluruhan pulau yang mencapai 1.600 jiwa.[4] Semua penutur bahasa ini berusia 50 tahun ke atas.[4] Mereka semua berbicara dalam dwibahasa (Jepang dan Yonaguni). Generasi muda Yonaguni umumnya berbicara dalam bahasa Jepang. Bahasa Jepang adalah bahasa pertama mereka. Sebagian di antaranya mempelajari bahasa Yonaguni, terutama yang bergiat sebagai aktivis budaya dan pemain teater tradisional. Secara umum tidak ada anak-anak yang mempelajari bahasa ini di rumah.[8] Meskipun secara umum bahasa ini dalam kondisi kritis, dibanding bahasa-bahasa Ryukyu lain kecuali Miyako vitalitasnya lebih baik karena masih dituturkan oleh generasi tua di lingkungan mereka. Hal ini mungkin disebabkan oleh guyubnya warga asli Yonaguni yang berkaitan pula dengan lokasi pulau yang relatif terisolasi.[9]

Bahasa Jepang saat ini telah menggantikan bahasa Yonaguni pada hampir semua aspek kehidupan dalam penggunaan sehari-hari. Para penutur yang hampir semuanya berada di usia senja juga jarang menggunannya.[10] Padahal bahasa ini baru diperkenalkan secara luas pada akhir abad ke-19 Masehi yang ditandai dengan pembatasan dan pelarangan terhadap bahasa-bahasa selain bahasa Jepang.[10] Kemunduran besar kemudian terjadi pada bahasa-bahasa tersebut, termasuk Yonaguni. Penduduk yang lahir sebelum tahun 1950 umumnya berbicara bilingual dalam bahasa Yonaguni dan bahasa Jepang, sementara yang lahir hingga tiga dasawarsa setelah 1950 berbicara dalam bahasa Jepang dan hanya mengerti bahasa Yonaguni sebagai penutur pasif.[11] Sedangkan generasi yang lahir setelah itu tidak dapat menggunakan bahasa Yonaguni sama sekali.[11]

KlasifikasiSunting

Bahasa Yonaguni adalah salah satu bahasa dalam Rumpun bahasa Japonik dari rumpun yang lebih kecil yaitu Ryukyuan.[12] Bahasa-bahasa Ryukyu (琉球語派 Ryūkyū-goha, atau 琉球諸語 Ryūkyū-shogo, atau 島言葉, Shima kutuba, secara harafiah bermakna percakapan pulau) terdiri dari 6 bahasa yang terbagi ke dalam dua rumpun, yakni Ryukyu Utara dan Ryukyu Selatan. Bahasa Yonaguni sendiri termasuk dalam bahasa-bahasa Ryukyu Selatan bersama bahasa Miyako dan Yaeyama. Lebih lanjut, bahasa Yonaguni dan Yaeyama membentuk kelompok yang disebut sebagai Makro-Yaeyama. Keduanya berkerabat dekat satu sama lain dari sisi leksikal.[13] Menurut John R. Bentley, bahasa Yonaguni memiliki berkerabat lebih dekat dengan bahasa Miyako dibanding bahasa Yaeyama.[14]

FonologiSunting

Fitur menarik dari bahasa Yonaguni adalah konsonan hampiran /w/ dan /j/ dalam bahasa Jepang berkorespondensi dengan konsonan /b/ dan /d/ dalam bahasa ini.[15] Pemaksaan bahasa Jepang dalam rangka membentuk identitas bangsa Jepang pada masa lampau turut mempengaruhi fonologi bahasa Yonaguni terutama tatkala dituturkan oleh generasi muda. Salah satu yang mencolok adalah perubahan pengucapan fonem /ŋ/ menjadi /g seperti pada kata angai yang diucapkan menjadi agai. Para penutur usia 40 ke atas masih dengan jelas membedakan /ŋ/ dan /g dibanding penutur yang lebih muda.[16]

VokalSunting

Fonologi bahasa ini terbilang unik karena sejatinya hanya mengenal tiga bunyi vokal saja yakni /a/, /i/, /u/.[15] Meskipun demikian, vokal /i/ dan /u/ sering diucapkan sebagai /e/ dan /o/. Sistem vokal bahasa ini membentuk segitiga klasik, seperti terlihat di bawah ini.[15]

Fonem vokal bahasa Rejang
depan madya belakang
tertutup i u
setengah

tertutup

(e) (o)
terbuka a

Secara fonetis bahasa ini juga mengenai bunyi vokal panjang layaknya dalam bahasa Jepang, tetapi secara fonemis vokal panjang tidak berbeda dengan vokal pendek. Vokal panjang biasa ditulis ganda seperti aa atau uu.[15]

DiftongSunting

Bahasa ini mengenal dua diftong yakni /aj/ dan /uj/ yang ditulis sebagai ai dan ui. Fonem /i/ pada akhir kata yang didahului oleh vokal /a/ atau /u/ berfungsi sebagai elemen pembentuk suara diftong.[15]

KonsonanSunting

Sistem konsonan bahasa Yonaguni terangkum dalam tabel di bawah ini.[4][17]

Fonem konsonan bahasa Yonaguni
bibir gigi langit2
keras
langit2
lunak
celah
suara
sengau m n   ŋ  
henti bersuara b d   g  
bersuara lemah      
afrikat p t͡s   k  
desis (ɸ) s     h
hampiran w   j w  
getar   r      

KosakataSunting

Kosakata bahasa Yonaguni memiliki kemiripan sebesar 80-85% dengan bahasa-bahasa Ryukyu lainnya, terutama bahasa saudarinya, bahasa Yaeyama.[4] Sementara itu, kemiripan kosakata dengan bahasa Jepang mencapai 70%.[4] Meskipun demikian, secara umum disepakati bahwa bahasa-bahasa Ryukyu serta bahasa Jepang tidak saling dapat mengerti (mutually unintelligible).[18]

ReferensiSunting

  1. ^ Yamada, Masahiro; Pellard, Thomas; Shimoji, Michinori (2015). Heinrich, Patrick; Miyara, Shinsho; Shimaji, Michinori, ed. Handbook of the Ryukyuan Languages: History, Structure, and Use. Handbooks of Japanese Language and Linguistics. 11. Berlin, Boston: De Gruyter Mouton. hlm. 449–478. ISBN 978-1-61451-161-8. 
  2. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Yonaguni". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  3. ^ Le Répertoire de la linguasphère / The Linguasphere Register"Linguasphere Index (Language and Communities)" (PDF). Diakses tanggal 2019-11-28. 
  4. ^ a b c d e f Yamada, Masahiro; Pellard, Thomas; Shimoji, Michinori (2015). Heinrich, Patrick; Miyara, Shinsho; Shimaji, Michinori, ed. Handbook of the Ryukyuan Languages: History, Structure, and Use. Handbooks of Japanese Language and Linguistics. 11. Berlin, Boston: De Gruyter Mouton. hlm. 449. ISBN 978-1-61451-161-8. 
  5. ^ Pellard, Thomas; Yamada, Masahiro (2017). "Verb Morphology and Conjugation Classes in Dunan (Yonaguni)". Dalam Kiefer, Ferenc; Blevins, James P.; Bartos, Huba. Perspectives on Morphological Organization: Data and Analyses. BRILL. ISBN 978-90-04-34293-4. 
  6. ^ Shibatani, Masayoshi (2001). The Languages of Japan. Cambridge University Press. hlm. 194. ISBN 0521369185. 
  7. ^ Moseley, Christopher, ed. (2010). Atlas of the World’s Languages in Danger (3rd Edition). UNESCO Publishing. 
  8. ^ Le Répertoire de la linguasphère / The Linguasphere Register"Yonaguni Language Information by Source". Diakses tanggal 2019-11-28. 
  9. ^ "The Ryukyus and the New, But Endangered, Languages of Japan". Diakses tanggal 2019-12-2. 
  10. ^ a b "Use them or lose them: There's more at stake than language in reviving Ryukyuan tongues". Diakses tanggal 2019-12-2. 
  11. ^ a b Seals, Corrine A.; Shah, Sheena (2017). Heinrich, Patrick; Ishihara, Masahide, ed. Heritage Language Policies around the World: Ryukyuan Languages in Japan. Routledge. hlm. 167. 
  12. ^ McClure, William; Vovin, Alexander (2018). Studies in Japanese and Korean Historical and Theoretical Linguistics and Beyond. BRILL. hlm. 4. ISBN 9789004351134. 
  13. ^ Yamada, Masahiro; Pellard, Thomas; Shimoji, Michinori (2015). Heinrich, Patrick; Miyara, Shinsho; Shimaji, Michinori, ed. Handbook of the Ryukyuan Languages: History, Structure, and Use. Handbooks of Japanese Language and Linguistics. 11. Berlin, Boston: De Gruyter Mouton. hlm. 18–20. ISBN 978-1-61451-161-8. 
  14. ^ Bentley, John R. (2008). A Linguistic History of the Forgotten Islands: A Reconstruction of the Proto-Language of the Southern Ryūkyūs. Global Oriental. hlm. 237-240. ISBN 9781905246571. 
  15. ^ a b c d e Tranter, Nicolas (editor) (2012). The Languages of Japan and Korea. Routledge. hlm. 413. ISBN 9780203124741. 
  16. ^ Heinrich, Patrick (2012). The Making of Monolingual Japan: Language Ideology and Japanese Modernity. hlm. 135-136. ISBN 9781847696571. 
  17. ^ Tranter, Nicolas (editor) (2012). The Languages of Japan and Korea. Routledge. hlm. 414. ISBN 9780203124741. 
  18. ^ Baker, Colin; Hornberger, Nancy (2001). Noguchi, Mary Goebel; Fotos, Sandra, ed. Studies in Japanese Bilingualism. Bilingual Education and Bilingualism. 22. Multilingual Matters Ltd. hlm. 70–71. ISBN 1-85359-490-3. 

Pranala luarSunting