Buka menu utama

Bahasa Melayu Negeri Sembilan

Bahasa di Malaysia
(Dialihkan dari Bahasa Minangkabau Negeri Sembilan)

Bahasa Melayu Negeri Sembilan (bahasa Negeri Sembilan: Baso Nogoghi (Bahasa Negeri); Jawi:بهاس ملايو نڬري سمبيلن) merupakan salah satu dialek Bahasa Melayu yang digunakan di Negeri Sembilan, Malaysia.[2] Masyarakat di utara Melaka juga bertutur dalam dialek yang hampir serupa dengan dialek Negeri Sembilan. Bahasa ini disebut juga sebagai bahasa Minangkabau dialek Negeri Sembilan karena banyak dipengaruhi oleh Bahasa Minangkabau yang disebabkan oleh asal usul leluhur kebanyakan penduduk Negeri Sembilan yang merupakan perantau Minangkabau pada abad ke-14.[3]

Bahasa Melayu Negeri Sembilan
Baso Nogoghi
باسو نڬري سمبيلن
Dituturkan diMalaysia
WilayahNegeri Sembilan (Malaysia)
EtnisOrang Negeri/Nogoghi (Keturunan Minangkabau di Negeri Sembilan)
Penutur bahasa
934.000 di Malaysia[1]  (2018)
Austronesia
Status resmi
Bahasa resmi di
Bendera Negeri Sembilan (Negeri Sembilan)
Diakui sebagai
bahasa minoritas di
Diatur oleh-
Kode bahasa
ISO 639-2min
ISO 639-3Salah satu:
min – Minangkabau
zmi – Melayu Negeri Sembilan

Dialek Negeri Sembilan memiliki persamaan dan perbedaan dengan dialek Melayu lainnya. Perbedaan yang cukup besar dengan dialek lain di Semenanjung Malaysia, membuat pengguna dialek lain di Malaysia cukup kesulitan untuk memahaminya.

Daftar isi

SejarahSunting

Sejarah dimulai ketika orang-orang Minangkabau mulai bermigrasi dari dataran tinggi Sumatra (darek) ke Semananjung Malaya (rantau) pada abad ke-14.[3] Migrasi semakin pesat pada abad ke-15 hingga abad ke-16.[4] Saat itu lalu lintas perdagangan semakin ramai di sekitar Selat Malaka dan mendapat perlindungan dari Kesultanan Malaka. Dari kawasan di sekitar pelabuhan Malaka, rombongan dari Minangkabau mulai meneroka ke kawasan pedalaman. Rombongan ini datang secara bertahap dan gelombang migrasi pertama merupakan rombongan dari Luhak Tanah Datar dan Luhak Limapuluh Kota.[5] Gelombang migrasi pertama ini berperan dalam pembukaan lahan pemukiman baru.

Penduduk di pedalaman semakin banyak karena bertambahnya jumlah pendatang dan membuat masyarakat berkelompok-kelompok. Kelompok-kelompok ini membentuk suku (klan atau marga dalam adat Minangkabau) hingga 12 suku. Berbeda dengan di Sumatra, penamaan suku berdasarkan tempat asal para pendatang. Para pendatang dari Limapuluh Kota membentuk suku Payakumbuh, Batu Hampar, Mungkal, Seri Melenggang (Simalanggang), Seri Lemak (Sarilamak),Tiga Nenek, Batu Belang, dan Tiga Batu (Tigo Batua Situjuah). Sementara para pendatang dari Tanah Datar membentuk suku Tanah Datar. Tiga suku lainnya merupakan suku dari pernikahan dengan masyarakat lain yang telah menetap di sana, yaitu suku Anak Acheh, Anak Melaka, dan Biduanda.[5] Suku Biduanda ini mendapat kehormatan sebagai pemimpin di antara suku-suku yang ada karena merupakan percampuran antara orang Minangkabau dengan Orang Asli, pribumi Semenanjung Malaya.

Pembukaan pemukiman baru di daerah pedalaman membentuk negeri (nagari) yang terdiri dari sembilan negeri. Negeri ini disebut sebagai luak yang dipimpin oleh Undang (Para datuk penghulu yang memimpin negeri). Negeri-negeri tersebut di antaranya Jelebu, Klang, Johol, Rembau, Sungai Ujong, Jelai, Naning, Segamat, dan Pasir Besar. Kesembilan negeri tersebut membuat sistem persekutuan yang disebut Lembaga Negeri Sembilan. Lembaga Negeri Sembilan berada dalam naungan kesultanan Johor.[5]

Pada abad ke-18, terjadi berbagai serangan di kesultanan Johor dan wilayah Negeri Sembilan menjadi tidak aman. Saat itu dikuasai orang Bugis, sehingga para datuk di Negeri Sembilan bermufakat dan meminta izin Sultan Johor (Sultan Abdul Jalil IV) untuk menjemput seorang raja dari Pagaruyung sebagai pemimpin mereka, dan diizinkan.[4] Gelombang kedua migrasi perantau Minangkabau datang ke Negeri Sembilan dengan membawa seorang Raja[6] dan diangkatlah Raja Melewar sebagai pemimpin (Yamtuan) pertama Kerajaan Negeri Sembilan dengan menerapkan Adat Perpatih sebagai hukumnya.[7]

Kedua gelombang migrasi perantau Minangkabau ke Negeri Sembilan melahirkan dialek Negeri Sembilan (Baso Nogoghi) sebagai hasil asimilasi antara bahasa Minangkabau dengan bahasa lokal pribumi. Seiring perjalanan waktu, dialek ini mengalami perubahan akibat pengaruh kondisi politik. Negeri Sembilan menjadi bagian dari Malaysia, sehingga dialeknya mendapat pengaruh dari bahasa Malaysia, bahasa Inggris, bahkan bahasa Arab. Berbeda dengan daerah darek yang menjadi bagian dari Indonesia, dialek-dialek Minang di darek lebih banyak mendapat pengaruh dari bahasa Indonesia dan bahasa Belanda.[8] Terlebih dengan kondisi dialek ini telah terpisah 500-600 tahun dengan bahasa asalnya.[9] Hal ini menyebabkan dialek Negeri Sembilan dapat berkembang sendiri.[3]

Perbandingan dengan bahasa dan dialek lainSunting

Dialek Negeri Sembilan merupakan dialek dalam bahasa Melayu dan juga bahasa Minangkabau, sebagaimana penelitian dialektrometri yang telah dilakukan.[3] Hal ini membuatnya memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dengan dialek lain dalam bahasa Melayu maupun bahasa Minangkabau.[2] Penutur bahasa Melayu dialek lain di Semenanjung Malaya pada umumnya sulit memahami dialek Negeri Sembilan karena terdapat banyak perbedaan. Perbedaan mencolok dengan bahasa Melayu adalah pada fonologi, yakni penggunaan huruf /a/ diakhir kata berubah menjadi /o/ pada dialek Negeri Sembilan seperti kita menjadi kito dan apa menjadi apo.[2]

Dialek Negeri Sembilan memiliki perbedaan dengan bahasa Minangkabau, khususnya jika dibandingkan dengan dialek Padang sebagai dialek umum atau standar.[2] Menurut Norhalim, penutur dialek Negeri Sembilan sukar memahami perbincangan dalam dialek Padang dan lebih mirip dengan dialek Siak daripada dialek Padang.[10] Hal ini disebabkan karena perbedaan yang ada pada fonologi kedua bahasa tersebut.[2] Contohnya penggunaan huruf vokal /a/ di suku kata pertama dialek Padang seperti pada kata dareh (deras/cepat), kaba (kabar), dan paruik (perut), menjadi /o/ pada dialek Negeri Sembilan pada kata dogheh, koba, dan poghot.[2] Perbedaan lainnya adalah pada dialek Negeri Sembilan tidak mengenal diftong, tidak seperti dialek Minangkabau lainnya yang menggunakan banyak diftong.[2]

Dialek Negeri Sembilan dan bahasa Minangkabau ini memiliki banyak persamaan.[2] Reniwati menyebutkan, bahwa dialek Negeri Sembilan memiliki persamaan sistem bahasa.[3] Kemiripan dengan bahasa Minang akan lebih jelas ditemukan ketika dibandingkan dengan dialek Limapuluh[11] dan dialek Tanah Datar, sebagai tempat asal leluhur Negeri Sembilan.[8]

Daftar Perbandingan 100 Kosakata Dasar[3]
Bahasa Melayu Bahasa Minangkabau (Standar) Dialek Negeri Sembilan
1 Semua Sado Somuwo
2 Abu Abu Abu
3 Kulit Kayu Kulik Kayu Kulet Pokok
4 Perut Paruik Poghot
5 Besar Gadang/Basa Bosa
6 Burung Buruang Bughong
7 Gigit Gigik Giget
8 Hitam Itam Itam
9 Darah Darah Daghah
10 Tulang Tulang Tulang
11 Tetek/Susu Susu Susu
12 Bakar Baka Baka
13 Kuku Kuku Kuku
14 Awan Awan Awan
15 Sejuk/Dingin Sajuak/Dingin Sojok
16 Datang Datang/Tibo Datang
17 Mati Mati Mati
18 Anjing Anjiang Anjeng
19 Minum Minum Minam
20 Kering Kariang Koghing
21 Telinga Talingo Tolingo
22 Tanah Tanah Tanah
23 Makan Makan Makan
24 Telur Talua Tolo
25 Mata Mato Mato
26 Lemak Gomok Gomok
27 Bulu Bulu Bulu
28 Api Api Api
29 Ikan Lauak/Ikan Ikan
30 Terbang Tabang Toghobang
31 Penuh Panuah Ponoh
32 Kaki Kaki Kaki
33 Beri Agiah/Bari Boghi
34 Baik Elok/Baiak Elok/Baek
35 Hijau Ijau Ijau
36 Rambut Rambuik Ghambut
37 Tangan Tangan Tangan
38 Kepala Kapalo Kopalo
39 Dengar Danga Donga
40 Jantung Jantuang Jantong
41 Tanduk Tanduak Tandok
42 Aku/Saya Aden/Ambo/Awak Ese/Ayo/Eden
43 Bunuh Bunuah Bunoh
44 Lutut Lutuik Lutut
45 Tahu Tau Tau
46 Daun Daun Daun
47 Baring Golek Bagheng
48 Hati Ati Ati
49 Panjang Panjang Panjang
50 Kutu Kutu Kutu
51 Lelaki Laki-laki Lolaki
52 Banyak Banyak Banyak
53 Daging Dagiang Dageng
54 Bulan Bulan Bulan
55 Gunung Gunuang Gunong
56 Mulut Muncuang Mulut
57 Nama Namo Namo
58 Leher Lihia Lehe
59 Baru/Baharu Baru Baghu
60 Malam Malam Malam
61 Hidung Iduang Idung
62 Tidak Indak/ndak Tidak/tak
63 Satu Ciek Satu
64 Orang Urang Oghang
65 Hujan Ujan Ujan
66 Merah Sirah Meghah
67 Jalan Jalan Jalan
68 Akar Urek Ughek
69 Bulat Bulek Bulek
70 Pasir Pasia/Kasiak Pase
71 Sebut Sabuik Sobut
72 Lihat Liek Liat
73 Biji Incek Biji
74 Duduk Duduak Dudok
75 Kulit Kulik/Jangek Kulet
76 Tidur Lalok Tido
77 Asap Asok Asap
78 Diri Tagak Togak
79 Bintang Bintang Bintang
80 Kecil Ketek/Kaciak Kocik
81 Batu Batu Batu
82 Matahari Matoari Matoaghi
83 Ekor Ikua Eko
84 {be-}renang {ba-}ranang {bo-}ghonang
85 Itu Itu Itu
86 Ini Iko Ini
87 Kamu/Awak/Engkau/Kau Awak/Sanak/Kau(perempuan)/Ang(laki-laki) Awak/Ekau
88 Lidah Lidah Lidah
89 Gigi Gigi Gigi
90 Pohon/Pokok Batang Pohon Pokok
91 Dua Duo Duo
92 {ber-}jalan {ba-}jalan {bo-}jalan
93 hangat/panas Angek Paneh
94 Air Aia Ae
95 Kami Awak/Kami Kami
96 Apa A/Apo Apo
97 Putih Putiah Puteh
98 Siapa Sia/Siapo Siapo
99 Perempuan Padusi Poghompuan
100 Kuning Kuniang Kuning

KosakataSunting

Kata ganti

Bahasa Indonesia Dialek Minangkabau Standar (Padang) Dialek Negeri Sembilan
Saya Awak//Denai/Ambo (halus)

Aden (kasar)

Awak/Ese/Sayo(halus)

Eden (kasar)

Kamu Sanak (Formal), Awak (Formal)

Ang (kasar, laki-laki)

Kau (kasar, perempuan)

Awak

Ekau (kasar, untuk laki-laki maupun perempuan)

Dia Inyo Dio, Diorang

ReferensiSunting

  1. ^ Joshua Project. "People Groups". joshuaproject.net. Diakses tanggal 2 July 2015. 
  2. ^ a b c d e f g h Jaafar, Mohammad Fadzeli; Aman, Idris; Mat Awal, Norsimah (2017-05-26). "Dialek Negeri Sembilan dan Dialek Minangkabau (Morphosyntax of Negeri Sembilan and Minangkabau Dialects)". GEMA Online® Journal of Language Studies. 17 (2): 177–191. doi:10.17576/gema-2017-1702-11. ISSN 1675-8021. 
  3. ^ a b c d e f Reniwati, R. (2012). Bahasa Minangkabau dan Dialek Negeri Sembilan: Satu Tinjauan Perbandingan Linguistik Historis Komparatif. Wacana Etnik, 3(1), 71-86.
  4. ^ a b Situs Resmi Kerajaan Negeri Sembilan, Sejarah Berdiri http://www.ns.gov.my/my/kerajaan/info-negeri/sejarah-penubuhan
  5. ^ a b c Zed, Mestika Hubungan Minangkabau Dengan Negeri Sembilan. Working Paper. FIS UNP, Padang.
  6. ^ Aslinda, A., Noviatri, N., & Reniwati, R. (2015). The Trace of Minangkabau-Wise in Malaysian Language. Scientific Journal of PPI-UKM, 2(7), 291-295.
  7. ^ "Kesinambungan Raja-raja Melayu". Utusan Online. Diakses tanggal 2018-10-07. 
  8. ^ a b Reniwati, Reniwati; Midawati, Midawati; Noviatri, Noviatri (2017-08-29). "Lexical variations of Minangkabau Language within West Sumatra and Peninsular Malaysia: A dialectological study". Geografia - Malaysian Journal of Society and Space (dalam bahasa Inggris). 13 (3). ISSN 2180-2491. 
  9. ^ Idris Aman, Norsimah Mat Awal, & Mohammad Fadzeli Jaafar (2016). Imperialisme Linguistik, Bahasa Negeri Sembilan dan Jati Diri: Apa, Mengapa, Bagaimana. International Journal of the Malay World and Civilisation (Iman), 4(3): 3 - 11.
  10. ^ Norhalim Haji Ibrahim. (1992). Vanishing Culture of the Adat Perpatih. Dlm Adat Perpatih: A Matrilineal System on Negeri Sembilan, Malaysia and others Matrilineal Kinship Systems (hlm. 37-43). WINSTRAC Sdn. Bhd.
  11. ^ Noviatri, Noviatri; Reniwati, Reniwati; Asnan, Gusti (2017-12-27). "Affixes of Minangkabau Language in The Origin and Rantau Area: Study of Morphological Variation". JURNAL ARBITRER. 4 (2): 86. doi:10.25077/ar.4.2.86-92.2017. ISSN 2550-1011.