Desa Badander merupakan sebuah daerah kecil tempat pengungsian Raja Jayanagara dari Kerajaan Majapahit ketika terjadi Pemberontakan Kuti tahun 1319.[1][2] Sebagian sejarawan memperkirakan lokasi Desa Badander ini berada di wilayah Dander, Bojonegoro. Namun ada pula yang menyatakan bahwa lokasi sesungguhnya Desa Badander adalah di daerah Kabuh, Jombang.[3]

Pemberontakan Ra KutiSunting

Raden Wijaya, raja pertama Kerajaan Majapahit, membentuk sebuah jabatan yang disebut Dharmaputra, yang beranggotakan tujuh orang, antara lain Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Ketujuh orang ini semuanya tewas sebagai pemberontak pada masa pemerintahan raja kedua, yaitu Jayanagara.

Pararaton mengisahkan adanya pemberontakan para Dharmaputra yang dipimpin Ra Kuti pada tahun 1319. Pemberontakan ini terjadi langsung di ibu kota Kerajaan Majapahit dan jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan pemberontakan Ra Semi. Meskipun demikian, Jayanagara sekeluarga berhasil melarikan diri dengan dikawal para prajurit bhayangkari yang dipimpin seorang bekel bernama Gajah Mada.

Setelah mengamankan rajanya di Desa Badander, Gajah Mada kembali ke ibu kota untuk mencari dukungan. Ia mengumpulkan para pejabat di rumah tumenggung amancanegara (semacam wali kota) dan mengabarkan bahwa Jayanagara telah meninggal di pengungsian. Para pejabat tampak menangis sedih. Setelah meyakini bahwa pemberontakan Ra Kuti ternyata tidak mendapat dukungan rakyat, maka Gajah Mada pun memberitahu keadaan yang sesungguhnya, yakni bahwa Raja Jayanagara masih hidup.

Akhirnya, dengan kerja sama yang baik antara Gajah Mada, para pejabat, dan segenap rakyat ibu kota, Ra Kuti dan komplotannya berhasil ditumpas. Ra Kuti merupakan perwira Majapahit yang berasal dari daerah Pajarakan (sekarang Kabupaten Probolinggo).[4][5]

ReferensiSunting

  1. ^ Hassan Sadhily. Ensiklopedi Indonesia Volume 1. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve.
  2. ^ Peristiwa Badander diakses 11 Januari 2015
  3. ^ "Jatiduwur, Desa Kuno Peninggalan Majapahit". 19 February 2013. 
  4. ^ Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
  5. ^ Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara