Buka menu utama

Angkor Wat (bahasa Khmer: អង្គរវត្ត, "candi kota") adalah sebuah gugus bangunan candi di negara Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas situs seluas 1.626.000 m2 (162,6 hektar atau 402 ekar)[1] ini mula-mula dibangun sebagai candi agama Hindu Kerajaan Khmer yang dibaktikan untuk dewa Wisnu, namun lambat laun berubah menjadi candi agama Buddha menjelang akhir abad ke-12. Angkor Wat dibangun oleh Raja Khmer Suryawarman II pada permulaan abad ke-12 di Yaśodharapura (bahasa Khmer: យសោធរបុរៈ, sekarang Angkor), ibu kota Kemaharajaan Khmer, sebagai candi negara sekaligus tempat persemayaman abu jenazahnya. Berbeda dari raja-raja pendahulunya yang berbakti kepada dewa Siwa, Raja Suryawarman II justru membangun Angkor Wat untuk dibaktikan kepada dewa Wisnu. Sebagai candi yang paling terawat di kawasan percandian Angkor, Angkor Wat merupakan satu-satunya candi yang masih menjadi pusat keagamaan penting semenjak didirikan. Mahakarya langgam klasik arsitektur Khmer ini telah menjadi salah satu lambang negara Kamboja,[2] ditampilkan pada bendera negara Kamboja, dan menjadi daya tarik wisata utama negara itu.[3]

Angkor Wat
Koordinat:13°24′45″N 103°52′0″E / 13.41250°N 103.86667°E / 13.41250; 103.86667
Nama
Nama diri:Prasat Angkor Wat
Lokasi
Lokasi:Angkor, Provinsi Siem Reap, Kamboja
Arsitektur dan Budaya
Dewa Utama:Wisnu
Gaya arsitektur:Khmer
Sejarah
Tanggal pembangunan:
(struktur saat ini)
Abad ke-12
Pembuat:Suryawarman II
Angkor Wat
Angkor-wat.jpg
Situs Warisan Dunia UNESCO
TipeBudaya
Kriteriai, ii, iii, iv
Nomor identifikasi668
Kawasan UNESCOAsia-Pasifik
Tahun pengukuhan1992 (sesi 19)
Angkor Wat saat matahari terbit.

Angkor Wat memadukan dua rancangan pokok arsitektur candi Khmer, yakni rancangan candi gunungan dan rancangan candi berserambi. Angkor Wat dirancang sebagai lambang Gunung Meru (kahyangan dewa-dewi Hindu) yang dikelilingi tiga undak bangunan serambi persegi panjang, dan masih dipagari lagi dengan tembok luar sepanjang 3,6 km (2,2 mil) berikut sebuah parit sepanjang lebih dari 5 km (3 mil).[4] Di tengah-tengah gugus bangunan candi ini, menjulang menara-menara yang membentuk tatanan quinquncia (tatanan lima objek yang membentuk lambang tapak dara, salah satunya terletak pada titik persilangan). Berbeda dari kebanyakan candi yang bertebaran di kawasan percandian Angkor, candi ini dibangun menghadap ke arah barat; para peneliti berbeda pendapat sehubungan dengan makna dari perbedaan ini. Angkor Wat dikagumi karena kemegahan dan keselarasan arsitekturnya, luasnya bidang yang dihiasi relief dangkal, dan sekian banyak sosok dewata yang terukir pada tembok-temboknya.

EtimologiSunting

Nama modern untuk candi ini, yakni Angkor Wat (aksara Khmer: អង្គរវត្ត) atau Nokor Wat (aksara Khmer: នគរវត្ត),[5] berarti "candi kota" atau "kota candi" dalam bahasa Khmer. Kata "angkor" (aksara Khmer: អង្គរ) adalah bentuk ucapan masyarakat setempat untuk kata "nokor" (aksara Khmer: នគរ), yang berarti "kota" atau "ibu kota" dalam bahasa Khmer. Kata "nokor" berasal dari kata "nagara" (aksara Dewanagari: नगर) yang berarti "kota" dalam bahasa Sanskerta.[6] Kata "wat" (aksara Khmer: វត្ត), yang berarti "lingkungan candi" dalam bahasa Khmer, berasal dari kata "wāṭa" (aksara Dewanagari: वाट) yang berarti "lingkungan" dalam bahasa Sanskerta.[7]

Nama asli candi ini adalah Preah Pisnulōk (bahasa Sanskerta: वरविष्णुलोक, Warawiṣṇuloka) atau Barom Pisnulōk (aksara Khmer: បរមវិស្ណុលោក; bahasa Sanskerta: परमविष्णुलोक, Paramawiṣṇuloka) yang berarti kahyangan Wisnu.

SejarahSunting

 
Raja Suryawarman II, pembangun Angkor Wat.

Angkor Wat terletak 5,5 km di sebelah utara kota modern Siem Reap. Candi ini juga berada tidak jauh di sebelah selatan dan agak ke timur dari bekas ibu kota Khmer yang berpusat di candi Baphuon. Angkor Wat sendiri berlokasi di kawasan percandian Angkor, dan juga merupakan candi paling selatan dari antara candi-candi lainnya di kawasan tersebut.

Rintisan rancangan dan pembangunan candi dimulai pada paruh pertama abad ke-12 Masehi, pada masa pemerintahan raja Suryawarman II (memerintah pada 1113 – sekitar 1150).[8] Dipersembahkan untuk memuliakan Wisnu, candi ini dibangun sebagai candi agung negara milik raja sekaligus sebagai ibu kota. Karena prasasti yang menyebutkan pembangunannya belum ditemukan, maka nama asli candi ini tidak diketahui. Ditafsirkan candi ini mungkin aslinya disebut sebagai "Preah Pisnu-lok" (Bahasa Khmer Kuno, serapan dari bahasa Sanskerta: "Wara Wisnuloka") secara harfiah bermakna "Tempat Suci Wisnu", diambil dari nama dewa utama yang dimuliakan di candi ini. Proyek pembangunan sepertinya dihentikan segera setelah kematian raja, menyisakan beberapa relief rendah yang belum rampung.[9] Pada 1177, kira-kira 27 tahun setelah kematian Suryawarman II, Angkor diserang oleh bangsa Champa, musuh tradisional bangsa Khmer. Kemudian kerajaan Khmer dipulihkan kembali oleh raja baru Jayawarman VII, yang mendirikan ibu kota baru di Angkor Thom dan candi kerajaan baru di Bayon, yang terletak beberapa kilometer di utara Angkor Wat.

Menjelang akhir abad ke-13, Angkor Wat perlahan-lahan dialihfungsikan dari candi Hindu menjadi candi Buddha Theravada, dan candi ini masih difungsikan seperti ini hingga kini. Angkor Wat agak tidak biasa dibandingkan candi-candi lainnya di Angkor; meskipun agak ditelantarkan setelah abad ke-16, Angkor Wat tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Angkor tetap bertahan antara lain salah satunya karena parit yang mengelilinginya melindungi bangunan candi dari rongrongan pohon besar hutan rimba.[10]

Salah satu pengunjung Barat pertama yang mendatangi candi ini antara lain adalah António da Madalena, seorang biarawan Katolik Portugis yang mengunjunginya pada tahun 1586 dan berkata, "Sebuah bangunan luar biasa yang tak mungkin digambarkan dengan pena, terutama karena tidak ada bangunan lain di dunia ini yang menyerupainya. Bangunan ini memiliki menara dengan hiasan yang sangat indah yang hanya bisa diciptakan oleh manusia jenius."[11] Pada pertengahan abad ke-19, candi ini dikunjungi oleh ilmuwan dan penjelajah Prancis, Henri Mouhot, yang memperkenalkan situs ini ke dunia Barat melalui catatan perjalanannya. Ia menulis:

"Candi ini—yang menyaingi [kemegahan] Kenisah Salomo dan dibangun oleh Michelangelo purba—pantas menduduki tempat terhormat sebagai salah satu bangunan terindah [di dunia]. Bangunan ini lebih besar dari segala peninggalan Yunani atau Romawi, dan menyajikan kontras yang sangat menyedihkan dengan kondisi kini yang jatuh terpuruk ke dalam kebiadaban."[12]

Mouhot, seperti kebanyakan pengunjung Barat, sulit memercayai bahwa bangsa Khmer mampu membangun candi semegah ini, secara keliru memperkirakan waktu pembangunannya sezaman dengan era Romawi Kuno. Sejarah sebenarnya dari Angkor Wat secara perlahan dirangkaikan kembali dengan mempelajari gaya arsitektur serta bukti epigrafi tertulis pada prasasti, yang diperoleh selama pembersihan di sekitar situs Angkor. Penggalian di sekitar situs Angkor Wat tidak menemukan sisa-sisa permukiman seperti bekas rumah hunian atau bukti hunian lainnya seperti perabot memasak, senjata, atau bekas pakaian yang biasa ditemukan di situs purbakala. Hanya monumen inilah yang ditemukan di kawasan ini.[13]

Tampak depan Angkor Wat, digambar oleh Henri Mouhot.
Kartu pos Prancis bergambar Angkor Wat pada tahun 1911.

Angkor Wat menjalani pemugaran besar pada abad ke-20, kebanyakan di antaranya adalah pembersihan jeratan tumbuhan dan tumpukan tanah yang menutupi bangunan.[14] Proyek pemugaran sempat terhenti akibat perang saudara dan kendali rezim Khmer Merah atas Kamboja pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an, akan tetapi sangat sedikit kerusakan yang ditimbulkan pada periode ini, yang kebanyakan adalah penjarahan dan pencurian serta perusakan pada arca setelah era Angkor.[15]

Candi ini merupakan simbol yang penting bagi negara Kamboja.[2] Angkor Wat merupakan kebanggaan nasional dan menjadi faktor penting bagi hubungan diplomatik luar negeri antara Kamboja dengan Prancis, Amerika Serikat, dan Thailand. Penggambaran Angkor Wat dalam bendera nasional Kamboja telah mulai ditampilkan sejak diperkenalkannya bendera perdana Kamboja sekitar tahun 1863.[16]

Warisan kesenian yang agung dari Angkor Wat dan monumen Khmer lainnya di kawasan Angkor telah mendorong Prancis untuk memasukkan Kamboja sebagai protektorat Prancis pada 11 Agustus 1863 dan menyerang kerajaan Siam untuk merebut kendali atas kawasan reruntuhan candi ini. Maka dari itu, Kamboja dapat menguasai kembali kawasan di sudut barat laut yang dikuasai Siam sejak tahun 1351, atau menurut sumber lain dari tahun 1431.[17] Kamboja meraih kemerdekaan dari Prancis pada 9 November 1953 dan sejak saat itu menguasai candi Angkor Wat.

GaleriSunting

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Largest religious structure". Guinness World Records. Diakses tanggal 29 April 2016. 
  2. ^ a b "Government ::Cambodia". CIA World Factbook. 
  3. ^ "Cambodia's Angkor Wat Breaking Records for Visitors Again | News from Tourism Cambodia". Tourism of Cambodia. 
  4. ^ Jarus, Owen (5 April 2018). "Angkor Wat: History of Ancient Temple". Live Science. Purch. Diakses tanggal 28 Juli 2018. 
  5. ^ Kamus bahasa Khmer, bersumber dari kamus bahasa Khmer dari institut agama Buddha Kamboja, hlm. 1424, terbit 2007
  6. ^ Chuon Nath Khmer Dictionary (1966, Buddhist Institute, Phnom Penh)
  7. ^ Cambodian-English Dictionary by Robert K. Headley, Kylin Chhor, Lam Kheng Lim, Lim Hak Kheang, and Chen Chun (1977, Catholic University Press)
  8. ^ Higham, C. (2014). Early Mainland Southeast Asia. Bangkok: River Books Co., Ltd. hlm. 372, 378–379. ISBN 978-616-7339-44-3. 
  9. ^ "Angkor Wat, 1113–1150". The Huntington Archive of Buddhist and Related Art. College of the Arts, The Ohio State University. Diakses tanggal 27 April 2008. 
  10. ^ Glaize, The Monuments of the Angkor Group hlm. 59.
  11. ^ Higham, The Civilization of Angkor hlm. 1–2.
  12. ^ Quoted in Brief Presentation by Venerable Vodano Sophan Seng
  13. ^ Time Life Lost Civilizations series: Southeast Asia: A Past Regained (1995) hlm. 67-99
  14. ^ Glaize hlm. 59.
  15. ^ APSARA authority, The Modern Period: The war
  16. ^ Flags of the World, Cambodian Flag History
  17. ^ Cambodge: The Cultivation of a Nation, 1860–1945 oleh Penny Edwards. 2007. ISBN 978-0-8248-2923-0

Bacaan lanjutanSunting

  • Briggs, Lawrence Robert (1951, reprinted 1999). The Ancient Khmer Empire. White Lotus. ISBN 974-8434-93-1.
  • Forbes, Andrew; Henley, David (2011). Angkor, Eighth Wonder of the World. Chiang Mai: Cognoscenti Books. ASIN: B0085RYW0O
  • Freeman, Michael and Jacques, Claude (1999). Ancient Angkor. River Books. ISBN 0-8348-0426-3.
  • Higham, Charles (2001). The Civilization of Angkor. Phoenix. ISBN 1-84212-584-2.
  • Higham, Charles (2003). Early Cultures of Mainland Southeast Asia. Art Media Resources. ISBN 1-58886-028-0.
  • Hing Thoraxy. Achievement of "APSARA": Problems and Resolutions in the Management of the Angkor Area.
  • Petrotchenko, Michel (2011). Focusing on the Angkor Temples: The Guidebook, 383 pages, Amarin Printing and Publishing, ISBN 978-616-90744-0-3
  • Ray, Nick (2002). Lonely Planet guide to Cambodia (4th edition). ISBN 1-74059-111-9.

Pranala luarSunting