Buka menu utama

Aminuzal Amin gelar Datuk Rajo Batuah (lahir di Batusangkar, Sumatra Barat, 23 April 1938; umur 81 tahun) adalah seorang pengusaha asal Indonesia. Selain sebagai pengusaha, Aminuzal juga pernah menjadi anggota MPR RI.[1]

Aminuzal Amin
180px
Lahir23 April 1938 (umur 81)
Bendera Belanda Batusangkar, Hindia Belanda
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
AlmamaterUniversitas Indonesia
PekerjaanPengusaha

KehidupanSunting

Aminuzal Amin merupakan salah seorang keturunan Sultan Abdul Jalil Yang Dipertuan Sembahyang, salah seorang raja Pagaruyung.[2] Setelah selesai menjalani bangku SLTA di Bukittinggi, ia melanjutkan pendidikannya ke Universitas Indonesia. Di bangku kuliah, ia mulai berbisnis dengan menjual pupuk dan arloji. Selepas pendidikan, ia menjadi pedagang mobil bekas. Aminuzal juga pernah berdagang pakaian yang dibelinya langsung dari Eropa. Di level internasional, ia dikenal sebagai pengusaha di bidang perminyakan. Selain itu, ia juga merupakan salah seorang pemilik Bank Nusa[3] dan PT Mindo Citra Upaya, sebuah perusahaan raksasa yang mengekspor minyak sawit Indonesia.[4]

Aminuzal dikenal sebagai seorang yang dermawan. Ia banyak membantu kegiatan pembangunan, kebudayaan, dan olahraga, khususnya di Sumatra Barat. Setelah Istano Silinduang Bulan habis terbakar, ia turut memprakarsai dan mendanai pembangunan istana itu kembali. Pada tahun 1992, bersama Abdul Latief, Fahmi Idris, dan Nasroel Chas, ia mendirikan PT Nagari Development Corporation (NDC). Perusahaan ini bertujuan untuk mendorong perekonomian masyarakat di Sumatra Barat.[5]

SumberSunting

  • Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang, Biro Penerbitan, Badan Koordinasi Kemasyarakatan/Kebudayaan Alam Minangkabau DKI Jakarta, 1995

Catatan kakiSunting

  1. ^ Majalah Gatra, Bangsa Indonesia Tak Lepas dari Cobaan, 28 November 2002
  2. ^ Majalah Tempo, Helat Akbar Orang Minang, 6 Januari 1990
  3. ^ Majalah Tempo; Bakrie, Bank, dan Sudwikatmono, 2 Desember 1989
  4. ^ Majalah Tempo, Lubang Duit Bea Administrasi, 24 April 1993
  5. ^ Majalah Tempo, Nantikan Dana di Bandara, 8 Februari 1992