Buka menu utama

Sultan Adji Muhammad Alimuddin Marhum Adil adalah Putra Ke 2 Sri Paduka Sultan Adji Muhammad Sulaiman dan Yang Mulia Adji Ratu Bunga Seroja / Rubia gelar Adji Ratu Agung. Terlahir dengan nama Adji Muhammad Azim Ud-din gelar Adji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat.

Aji Muhammad Alimuddin, dalam busana pernikahan (foto k. 1886).

Daftar isi

BiografiSunting

Sri Paduka Sultan Aji Muhammad Alimuddin, atau gelar Anumertanya Marhum Adil, adalah sultan dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang ke-19,[1] yang memerintah dari tahun 1899 sampai 1910.[2] Ia adalah anak dari Sri Paduka Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan Yang Mulia Adji Ratu Rubiah gelar Adji Ratu Agung.

Masa pemerintahanSunting

Aji Muhammad Alimuddin melakukan konsolidasi kekuasaan kesultanan pada masa pemerintahannya.[3] Langkahnya diawali sejak tahun 1900, berupa penarikan kembali semua tanah dinas (hak apanase), yang berdasarkan hukum tanah Kutai keseluruhannya adalah milik sultan.[3] Dengan demikian, potensi tambang batu bara dan minyak bumi berada dalam kontrol penguasaan kesultanan.[4]

Kesultanan Kutai Kartanegara berhasil mendapatkan hak kedaulatan pemerintahan sendiri pada masa pemerintahan Adji Muhammad Alimuddin ini, yaitu pada tahun 1902.[5] Ia juga pada tahun 1905 membagi daerah administratif kesultanan menjadi dua distrik; yaitu Ulu Mahakam dengan ibukotanya di Long Iram, dan Muara Mahakam dengan ibukotanya di Samarinda.[3][6] Di setiap ibukota distrik ditetapkan hakim untuk mengurus persoalan pengadilan.[7]

Daerah Ulu Mahakam kemudian disewakan kepada Belanda pada tahun 1908, dan kesultanan mendapatkan kompensasi royalti sebesar 12.990 gulden per tahun.[4] Kehadiran pemerintahan dan pos militer Belanda di Long Iram mengundang datangnya para pedagang dari berbagai tempat untuk berbisnis di daerah pedalaman hulu Sungai Mahakam, antara lain orang-orang Banjar dan Bakumpai dari Kalimantan Selatan, serta orang-orang Kutai, Bugis, dan Tionghoa dari Samarinda.[8]

Di masa pemerintahannya pula, yaitu pada tahun 1907, misi Gereja Katolik pertama dengan pusat gerakannya (stasi) di Laham, Kutai Barat, mulai dikembangkan.[4][8] Selanjutnya misi tersebut juga membuka sekolah di sana pada tahun 1911.[8]

KeturunanSunting

Istri

  1. Adji Gibek
  2. Dayang Betje
  3. Adji Limah
  4. Dayang Ebek
  5. Dayang Redaj
  6. Dayang Tjekki
  7. Dayang Sangko
  8. Dayang Rekiyah
  9. Dayang Minot
  10. Adji Putri Anum Adiningrat binti Adji Indra gelar Adji Pangeran Ratu I Bin Sultan Adji Muhammad Salehuddin I


Anak

  1. Adji Muhammad Ilyasi gelar Adji Pangeran Sumantri I
  2. Adji Mahmoed gelar Adji Pangeran Sosro Negoro II
  3. Adji Meleng
  4. Adji Muhammad Parikesit / Adji Kaget / Adji Geger / Sultan Adji Muhammad Parikesit
  5. Adji Addin / Haji Adji gelar Adji Pangeran Tumenggung Pranoto adalah Gubenur Pertama Provinsi Kalimantan Timur
  6. Adji Uddin gelar Adji Pangeran Kartanegara
  7. Adji Sunggo gelar Adji Raden Ratna Wati
  8. Adji Lobak Sarbiah gelar Adji Raden Lesminingpuri
  9. Adji Ndoro gelar Adji Raden Siti Sendoro
  10. Adji Dudje gelar Adji Raden Siti Sundari
  11. Adji Mudjenah
  12. Adji Saidah gelar Adji Raden Djuwito Utomo Putro
  13. Adji Pungge
  14. Adji Mariam
  15. Adji Mesiah gelar Adji Raden Sinto Putro
  16. Adji Beduj gelar Adji Raden Anggoro Putro

Wafat dan penerusSunting

 
Makam Sultan Aji Muhammad Alimuddin di Tenggarong.

Adji Muhammad Alimuddin wafat pada hari Kamis, 11 Rabiul Awal 1327 Hijrah (1910 Masehi). dan dimakamkan di Kompleks Makam Kutai.[9]

Anaknya Aji Muhammad Parikesit (atau Adji Kaget) diangkat menjadi penggantinya, namun karena masih di bawah umur, maka berada dalam Dewan Perwalian yang dipimpin oleh pamannya sebagai ketua, yaitu Adji Pangeran Mangkunegoro.[5][6] Pemerintahan kesultanan selama sepuluh tahun kemudian dipegang oleh Aji Pangeran Mangkunegoro, sehingga Adji Parikesit dinobatkan tahun 1920.[4]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Umberan, Musni (1995). Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Departeman [i.e. Departemen] Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 
  2. ^ Waluyo, Dwitri (2004). Indonesia, the land of 1000 kings (dalam bahasa Inggris). Foresight. 
  3. ^ a b c Pola penguasaan, pemilikan, dan penggunaan tanah secara tradisional daerah Kalimantan Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kanwil Depdikbud Propinsi Kalimantan Barat, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Barat. 1990. 
  4. ^ a b c d "Pembukaan Tambang Batu bara Pertama". www.kutaikartanegaranews.com. Diakses tanggal 2017-08-25. 
  5. ^ a b Indonesia Magazine (dalam bahasa Inggris). Yayasan Harapan Kita. 1988. 
  6. ^ a b Voice of Nature (dalam bahasa Inggris). Yayasan Indonesia Hijau. 1989. 
  7. ^ Sejarah daerah ...: Kalimantan Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. 1978. 
  8. ^ a b c Maula, Amiruddin; (Indonesia), Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (1991). Kearifan tradisional masyarakat pedesaan dalam pemeliharaan lingkungan hidup di Kalimantan Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. 
  9. ^ Pertemuan Ilmiah Arkeologi III (PIA III), Ciloto, 23-28 Mei 1983. Proyek Penelitian Purbakala Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1985. 
Didahului oleh:
Aji Muhammad Sulaiman
Sultan Kutai Kartanegara
1899—1910
Diteruskan oleh:
Aji Muhammad Parikesit