Ahmad Rasyid Sutan Mansur

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-6

Buya H. Ahmad Rasyid (gelar Sutan Mansur) atau lebih dikenal sebagai A. R. Sutan Mansur (bahasa Arab: أحمد رشيد سوتان منصور‎; lahir di Kampung Air Hangat, Maninjau, Tanjung Raya, Onderafdeeling Oud Agam (sekarang Kabupaten Agam), Sumatra Barat, 15 Desember 1895 – meninggal di Jakarta, 25 Maret 1985 pada umur 89 tahun) adalah seorang tokoh dan pemimpin Muhammadiyah. Di kalangan aktivis Muhammadiyah dengan akrab memanggilnya dengan nama Buya Tuo.

Buya H.
Ahmad Rasyid Sutan Mansur
أحمد رشيد سوتان منصور
Achmad Rasjid Sutan Mansjur Konstituante Masjumi.jpg
Potret sebagai anggota Konstituante RI, 1956
Ketua Umum Muhammadiyah ke - 6
Masa jabatan
4 November 1953 – 25 Maret 1959
PendahuluKi Bagoes Hadikoesoemo
PenggantiMuhammad Yunus Anis
Anggota Konstituante
Masa jabatan
9 November 1956 – 5 Juli 1959
PresidenSoekarno
Ketua KonstituanteWilopo
Daerah pemilihanSumatra Tengah
Informasi pribadi
LahirAhmad Rasyid
15 Desember 1895
Bendera Hindia Belanda Kampung Air Hangat, Maninjau, Tanjung Raya, Onderafdeeling Oud Agam, Sumatra Barat
Meninggal dunia25 Maret 1985(1985-03-25) (umur 89)
Bendera Indonesia Cempaka Putih, Jakarta, Indonesia
MakamPemakaman Tanah Kusir, Jakarta
Kebangsaan Indonesia
Afiliasi
politik lain
MasyumiPartyLogo.jpg Partai Masyumi
PasanganFatimah Karim (m. 1917)
HubunganHamka (adik ipar)
Anak16 (termasuk Hanif Rasyid)
Orang tuaAbdul Somad al-Kusai (ayah)
Siti Abbasiyah (ibu)
PekerjaanPenulis
Pengajar
Pendakwah
ProfesiUlama
Politikus
Dinas militer
Pihak Indonesia
PangkatMayjen pdh ad.png Mayor Jenderal (tituler)
KomandoPenasihat Agama

Kehidupan awalSunting

 
Maninjau, Tanjung Raya, Agam merupakan tanah kelahiran Sutan Mansur.

Sutan Mansur lahir di Maninjau, Sumatra Barat pada Ahad malam Senin, 26 Jumadil Akhir 1313 Hijriyah, bertepatan tanggal 15 Desember 1895 Masehi. Ia anak ketiga dari tujuh bersaudara yang merupakan anak dari Abdul Somad al-Kusai, seorang ulama terkenal di Maninjau, dan ibunya Siti Abbasyiyah atau dikenal dengan sebutan Uncu Lumpur. Ia merupakan anak dari orang tua yang bekerja sebagai tokoh dan guru agama di Kampung Air Hangat, Maninjau.

Ia diurus oleh neneknya, Andung Bayang dengan segala kasih sayang, dibedungnya dengan kain panjang dan dihangatkan-nya dengan air panas di dalam botol.

KeluargaSunting

Sutan Mansur menikah dengan Fatimah Karim pada tahun 1917. Ia dijodohkan oleh gurunya, yaitu Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Mereka berdua dianugerahi enam belas anak, termasuk Hanif Rasyid (l. 1942 w. 2017), Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah Agam (2000–2005) dan Dewan Penasihat MUI Agam.

Sikap anti-penjajahSunting

Sikap anti penjajah telah dimilikinya semenjak masih belia. Baginya, penjajahan tidak saja sangat bertentangan dengan fitrah manusia akan tetapi bahkan sering kali berupaya menghadang dan mempersempit gerakan penyiaran agama Islam secara langsung dan terang-terangan atau secara tidak langsung dan tersembunyi seperti dengan membantu pihak-pihak Zendingdan Missi Kristen dalam penyebarluasan agamanya. Maka, tidak menghe­rankan bila pada tahun 1928 ia berada di barisan depan dalam menentang upaya pemerintah Belanda menjalankan peraturan Guru Ordonansi yaitu guru-guru agama Islam dilarang mengajar sebelum mendapat surat izin mengajar dari Pemerintah Belanda. Peraturan ini dalam pandangan Sutan Mansur akan melenyapkan kemerdekaan menyiarkan agama dan pemerintah Belanda akan berkuasa sepenuhnya dengan memakai ulama-ulama yang tidak mempunyai pendirian hidup. Sikap yang sama juga ia perlihatkan ketika pendudukan Jepang berikhtiar agar murid-murid tidak berpuasa dan bermaksud menghalangi pelaksanaan shalat dengan mengadakan pertemuan di waktu menjelang Maghrib.

Nasihat - nasihatSunting

Kalimat Sutan Mansur yang mampu menginspirasi dan membangkitkan semangat dakwah para pemuda ketika itu, termasuk Buya Hamka. Kalimat ini tertulis pada buku yang dikarang oleh Buya Hamka seperti berikut ini:

PendidikanSunting

Selain mendapatkan gemblengan agama, dia juga mendapatkan pendidikan formal. Adapun pendidikan formal didapat sejak tahun 1902 saat menimba ilmu di Tweede Class School (sekolah kelas dua) (setara Sekolah Rakyat), juga di Maninjau, hingga tahun 1909.

Kemudian atas rekomendasi dari controlleur Maninjau, Sutan Mansur melanjutkan pendidikan ke Kweekschool (Sekolah Guru atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Raja) di Kota Bukittinggi. Akan tetapi, karena sejak awal Sutan Mansur sudah berkeinginan bersekolah di Universitas Al-Azhar, Mesir karena sudah menikah dan aktif dalam berbagai kegiatan, seperti mengajar dan seorang penulis di majalah Almunir yang terbit di Padang. Atas saran gurunya, Tuan Ismail (Dr.Abu Hanifah), ia belajar ilmu agama terlebih dahulu kepada H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), ayahanda Buya Hamka.

Di bawah bimbingan Haji Rasul (1910–1917) ia belajar ilmu Tauhid, bahasa Arab, Ilmu Kalam, Mantiq, Tarikh, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti syariat, tasawuf, Al-Qur’an, tafsir, dan hadis dengan mustolah-nya. Pada tahun 1917 ia diambil menantu oleh gurunya, H. Abdul Karim Amrullah, dan dikawinkan dengan putri sulungnya, Fatimah, kakak Buya Hamka serta diberi gelar Sutan Mansur.

Sumatra ThawalibSunting

Pada saat perkumpulan Sumatra Thawalib dibentuk pada Februari 1918 di Padang Panjang, oleh beberapa sejawat, Sutan Mansur sudah dipandang mampu berperan sebagai guru. Oleh karenanya, Sumatra Thawalib langsung mengutusnya menjadi guru di Kuala Simpang, Aceh, selama dua tahun (19181919) setelah itu kembali ke Minangkabau.

KarierSunting

PenasihatSunting

Ketika Soekarno diasingkan ke Bengkulu tahun 1938, Sutan Mansur menjadi penasihat bagi Soekarno. Pada masa Pendudukan Jepang, ia diangkat oleh Jepang menjadi anggota Tsuo Sangi Kai dan Tsuo Sangi In (setara DPR dan DPRD) mewakili Sumatra Barat.

Tahun 1947–1949, oleh Wakil Presiden Mohammmad Hatta, ia diangkat menjadi Imam atau Guru Agama Islam bagi Tentara Nasional Indonesia Komandemen Sumatra, berkedudukan di Bukittinggi dengan berpangkat Mayor Jenderal Tituler.

Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1950, ia diminta menjadi Penasihat TNI AD dan berkantor di Markas Besar Angkatan Darat. Namun, permintaan itu ditolak karena ia harus berkeliling semua daerah di Sumatra untuk bertabligh sebagai pemuka Muhammadiyah.

Kemudian, tahun 1952, Presiden Soekarno memintanya lagi menjadi penasihat Presiden dengan syarat harus memboyong keluarganya dari Bukittinggi ke Jakarta. Permintaan itu lagi-lagi ditolaknya. Ia hanya bersedia menjadi penasehat tidak resmi sehingga tidak harus berhijrah ke Jakarta.

Anggota KonstituanteSunting

 
Tempat bersidang anggota Konstituante.

Sutan Mansur menjadi anggota Konstituante dari Partai Masyumi Dapil Sumatra Tengah pada tahun 1956 bersama Syekh Ibrahim Musa, Ruslan Muljohardjo, Abdul Malik Ahmad, Zainal Abidin Ahmad, Ratna Sari, Ilyas Ya'kub, M. Djaafar B.A Djalil, Duski Samad, Muchtar Hussein dan Zamzamin Kimin.

Sebagai pendakwahSunting

Sang ulama, da’i, pendidik, dan pejuang kemerdekaan ini setiap Ahad pagi senantiasa memberikan pelajaran agama terutama tentang Tauhid di ruang pertemuan Gedung Dakwah Muhammadiyah Jalan Menteng Raya No.62 Jakarta.

Riwayat PerjuanganSunting

Pindah ke Pulau JawaSunting

Terjadinya pemberontakan melawan Inggris di Mesir menghambat keinginannya untuk melan­jutkan studi di universitas tertua di dunia, Universitas Al-Azhar Kairo, karena ia tidak diizinkan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk berangkat. Akhirnya, ia berangkat ke Pekalongan untuk berdagang dan menjadi guru agama bagi para perantau dari Sumatra dan kaum muslim lainnya.

Tahun 1920, dia pindah ke Pekalongan ketika cita-citanya untuk menempuh pendidikan di Mesir tidak tercapai. Namun kekecewaannya tidak berlangsung lama, sebab pada tahun 1922, Sutan Mansur bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Tokoh kharismatik ini datang ke Pekalongan guna mengadakan tabligh Muhammadiyah. Sutan Mansur sebelumnya sempat menjadi pedagang batik di Pekalongan.

Peristiwa tersebut ternyata mengubah perjalanan hidupnya kemudian. Dia begitu terkesan dengan kefasihan KH Ahmad Dahlan dalam menjelaskan berbagai persoalan agama. Kepribadiannya yang lembut, bersahaja, serta rendah hati semakin menumbuhkan simpati dari banyak orang, termasuk dirinya.

Dari ulama itulah, Sutan Mansur banyak menimba pengetahuan mengenai Muhammadiyah. Maka pada tahun yang sama, dia masuk menjadi anggota organisasi kemasyarakatan ini dan sekaligus berkenalan dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah semisal KH. AR Fakhruddin dan KH Mas Mansur. Dan kembali Sutan Mansur makin mengenal Islam tidak hanya dari aspek hukumnya, melainkan juga aspek sosial kemasyarakatan dan ekonomi dari dua tokoh tadi.

Tahun 1923, dia menjadi guru serta mubalig Muhammadiyah. Muridnya terdiri dari pelbagai kalangan, antara lain bangsawan Jawa (R. Ranuwihardjo, R. Tjitrosoewarno, dan R. Oesman Poedjooetomo), keturunan Arab, serta orang Minang perantauan yang menetap di Pekalongan dan sekitarnya. Dua tahun kemudian dia kembali ke daerah kelahirannya sebagai mubalig Muhammadiyah untuk wilayah Sumatra.

Mengembangkan MuhammadiyahSunting

Sejatinya, sebelum Sutan Mansur, pikiran-pikiran dari Muhammadiyah sudah lebih dulu disebarluaskan oleh H Abdul Karim Amrullah, bahkan beberapa cabang Muhammadiyah sudah berdiri di Maninjau dan Padang Panjang. Dengan kata lain, H Abdul Karim Amrullah telah membuka jalan bagi Sutan Mansur untuk lebih mengembangkan Muhammadiyah di Sumatra Barat. Dan penyebaran gerakan ini justru semakin pesat setelah dia mendapat dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dan sejumlah alim ulama 'kaum muda'.

 
Logo Muhammadiyah.

Ketika terjadi ancaman dan konflik antara Muhammadiyah dengan orang-orang komunis di ranah Minang pada akhir 1925, Sutan Mansur diutus Hoofdbestuur Muhammadiyah untuk memimpin dan menata Muhammadiyah yang mulai tumbuh dengan pesat di bumi Minangkabau. Kepemimpinan dan cara berdakwah yang dilakukannya tidak frontal dan akomodatif terhadap para pemangku adat dan tokoh setempat, sehingga Muhammadiyah pun dapat diterima dengan baik dan mengalami perkem­bangan pesat.

Di samping itu, selaku mubalig tingkat pusat Muhammadiyah (1926-1929) dia ditugaskan mengadakan tablig keliling ke Medan, Aceh, Kalimantan (Banjarmasin, Amuntai dan Kuala Kapuas), Mentawai serta beberapa bagian Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan. Aktivitasnya juga melatih pemuda-pemudi dalam Lembaga Kulliyatul Muballighin yang didirikannya untuk menjadi kader Muhammadiyah.

Adapun metode yang digunakan untuk latihan itu adalah mujadalah (kelompok diskusi). Murid-muridnya antara lain Duski Samad (adik kandungnya sendiri), Abdul Malik Ahmad (penulis tafsir Alquran), Zein Jambek, Marzuki Yatim (mantan Ketua KNI Sumatra Barat), Hamka, Fatimah Latif, Khadijah Idrus, Fatimah Jalil, dan Jawanis.

Konsul MuhammadiyahSunting

Pada tahun 1930 diselenggarakan Kongres ke-19 Muhammadiyah di Minangkabau. Salah satu keputusannya adalah perlunya jabatan konsul Muhammadiyah di setiap karesidenan. Maka berdasarkan Konferensi Daerah di Payakumbuh tahun 1931, dipilihlah Sutan Mansur sebagai konsul Muhammadiyah untuk wilayah Sumatra Barat hingga 1944. Kemudian atas usul konsul Aceh, konsul-konsul seluruh Sumatra setuju untuk mengangkat Sutan Mansur selaku imam Muhammadiyah Sumatra.

Pada saat menjabat sebagai Konsul Besar Muhammadiyah, Sutan Mansur juga membuka dan memimpin Kulliyah al-Muballighin Muhammadiyah di Padang Panjang, tempat membina muballigh tingkat atas. Di sini, dididik dan digembleng kader Muhammadiyah dan kader Islam yang bertugas menyebarluaskan Muhammadiyah dan ajaran Islam di Minangkabau dan daerah-daerah sekitar. Kelak, muballigh-muballigh ini akan memainkan peran penting bersama-sama pemimpin dari Yogyakarta dalam menggerakkan roda Persyarikatan Muham­madiyah.

Ketua Umum PB MuhammadiyahSunting

 
Poster Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto tanggal 9–14 Juli 1953.

Ketika berlangsung Kongres Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto tahun 1953, dia terpilih sebagai Ketua Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah. Tiga tahun berikutnya yakni pada Kongres ke-33 di Yogyakarta, dia terpilih kembali sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Lantas pada kongres ke-35 tahun 1962 di Yogyakarta, Sutan Mansur diangkat sebagai Penasehat PP Muhammadiyah sampai 1980.

Tercatat selama masa kepemimpinannya dua periode (1953-1959) dia berhasil merumuskan khittah (garis perjuangan) Muhammadiyah atau Khittah Palembang, antara lain:

  1. Mencakup usaha-usaha menanamkan dan mempertebal jiwa tauhid.
  2. Menyempurnakan ibadah dengan khusyuk dan tawadlu.
  3. Mempertinggi akhlak.
  4. Memperluas ilmu pengetahuan.
  5. Menggerakkan organisasi dengan penuh tanggung jawab.
  6. Memberikan contoh dan suri tauladan kepada umat.
  7. Konsolidasi administrasi.
  8. Mempertinggi kualitas sumber daya manusia.
  9. Membentuk kader handal.

Dalam bidang fikih, Sutan Mansur dikenal sangat toleran. Dia misalnya tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan pendapat dalam masalah furu'iyyah (hukum agama yang tidak pokok). Hasil Putusan Tarjih Muhammadiyah dipandangnya hanya sebagai sikap organisasi Muhammadiyah terhadap suatu masalah agama, itu pun sepanjang belum ditemukan pendapat yang lebih kuat. Karenanya HPT menurut dia tidak mengikat anggota Muhammadiyah.

Sebagai tokoh MuhammadiyahSunting

Sumbangsihnya dalam mengembangkan Muhammadiyah di Sumatra Barat menjadikanya mendapat julukan yang diberikan Muhammad Yunus Anis, yaitu 'Bintang Barat Muhammadiyah', setelah KH Mas Mansyur dipandang sebagai 'Bintang Timur Muhammadiyah'. Buya Hamka menyebutnya sebagai seorang ideolog Muhammadiyah. Dia pun dipandang selaku tokoh utama Muhammadiyah dari generasi pertama, setelah KH Ahmad Dahlan, KH AR Fakhruddin, KH Ibrahim, KH Abdul Mu'thi, KH Mukhtar Bukhari, serta KH Mas Mansyur.

Salah satu kata populernya saat kepemimpinannya di Muhammadiyah di Minangkabau, yaitu:

Meninggal duniaSunting

Beliau wafat di Rumah Sakit Islam Jakarta, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada hari Senin, 25 Maret 1985 Masehi, bertepatan tanggal 3 Rajab 1405 Hijriyah di usia 89 tahun. Jenazah almarhum dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan setelah dishalatkan di Masjid Kompleks Muhammadiyah.

KaryaSunting

Sutan Mansur juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Dari beberapa tulisannya, antara lain berjudul Jihad, Seruan kepada Kehidupan Baru, Tauhid Membentuk Kepribadian Muslim, dan Ruh Islam, tampak sekali bahwa ia ingin mencari Islam yang paling lurus yang tercakup dalam paham yang murni dalam Islam. Doktrin-doktrin Islam ia uraikan dengan sistematis dan ia kaitkan dengan tauhid melalui pembahasan ayat demi ayat dengan keterangan Al-Qur’an dan hadis.

Berikut adalah rincian karya sastra berupa buku yang ditulis Sutan Mansur:

  • Pokok - Pokok Pergerakan Muhammadiyah
    • Penerbit: Al-Hidayah
  • Penerangan Asas Muhammadiyah
  • Hidup di Tengah Kawan dan Lawan
  • Tauhid Membentuk Pribadi Muslim
    • Penerbit: Pustaka Panjimas
  • Ruh Islam
  • Ruh Jihad
    • Penerbit: Panji Masyarakat

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting

Didahului oleh:
Ki Bagoes Hadikoesoemo
Ketua Umum Muhammadiyah
1953 - 1959
Diteruskan oleh:
K.H.M. Yunus Anis