Ahmad Rasyid Sutan Mansur

tokoh dan pemimpin Muhammadiyah (1895–1985)

Buya Haji Achmad Rasjid (gelar Soetan Mansjoer; ER, EYD: Ahmad Rasyid Sutan Mansur) atau lebih dikenal dengan nama A. R. Sutan Mansur (bahasa Arab: أحمد رشيد سوتان منصور‎; 15 Desember 1895 – 25 Maret 1985) adalah seorang ulama dan politikus Indonesia yang juga merupakan tokoh dan pemimpin Muhammadiyah asal Sumatra Barat. Di kalangan aktivis Muhammadiyah dengan akrab memanggilnya dengan nama Buya Tuo. Salah satu kalimat populernya semasa memimpin Muhammadiyah di Minangkabau, yaitu "Muhammadiyah di-Nagarikan, Nagari di-Muhammadiyahkan." Ahmad Rasyid adalah tokoh paling disegani, termasuk kalangan penjajah Belanda.


Ahmad Rasyid Sutan Mansur
أحمد رشيد سوتان منصور
Achmad Rasjid Sutan Mansjur Konstituante Masjumi.jpg
Potret sebagai anggota Konstituante RI, 1956
Anggota Konstituante Republik Indonesia
Masa jabatan
9 November 1956 (1956-11-09) – 5 Juli 1959 (1959-07-5)
PresidenSoekarno
KetuaWilopo
Grup parlemenMajelis Syuro Muslimin Indonesia
Daerah pemilihanSumatra Tengah
Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat
Masa jabatan
29 Agustus 1945 (1945-08-29) – 15 Februari 1950 (1950-02-15)
PresidenSoekarno
KetuaKasman Singodimedjo
Informasi pribadi
Lahir
Achmad Rasjid

15 Desember 1895
Manindjaoe, Hindia Belanda
Meninggal25 Maret 1985(1985-03-25) (umur 89)[1]
Jakarta, Indonesia
MakamTaman Pemakaman Umum Tanah Kusir
KebangsaanIndonesia
Partai politikMajelis Syuro Muslimin Indonesia
Suami/istri
  • Fathimah Karim Amrullah (1917–1985)
  • Fathimah Abdullah (1928–1985)
Hubungan
Anak
Dari Fathimah K. A.
Dari Fathimah Abdullah
  • 11 anak
IbuSiti Abbasiyah
BapakAbdul Somad al-Kusai
Tempat tinggalJl. Lontar Atas, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat[a]
PendidikanSumatra Thawalib
Pekerjaan
Profesi

Ketika terjadi ancaman dan konflik antara Muhammadiyah dengan orang-orang komunis di ranah Minang pada akhir 1925, Ahmad Rasyid diutus Hoofdbestuur Muhammadiyah (bahasa Indonesia: Pengurus Besar Muhammadiyah) untuk memimpin dan menata organisasi Islam tersebut yang mulai tumbuh di Minangkabau. Pasca kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam yang menghadapi kritis identitas: apakah akan terlibat atau tidaknya dalam panggung politik praktis.[3] Kepemimpinan Ahmad Rasyid, antara lain keikutsertaan Muhammadiyah sebagai anggota istimewa Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan berpartisipasi dalam memeriahkan Pemilu 1955. Tidak lama di panggung politik praktis, Muhammadiyah lalu keluar dari Masyumi.

Kehidupan awal dan pendidikanSunting

Ahmad Rasyid lahir di Kampung Air Hangat (bahasa Minangkabau: Kampuang Aie Angek), Maninjau, Tanjung Raya, Onderafdeeling Oud Agam pada Ahad malam Senin, 26 Jumadil Akhir 1313 Hijriyah, bertepatan tanggal 15 Desember 1895 Masehi. Ia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara dari pasangan Abdul Somad Al-Kusai dan Siti Abbasyiyah atau lebih dikenal dengan Uncu Lumpur. Ayahnya adalah ulama terkenal di Maninjau, sedangkan ibunya merupakan guru agama di Kampung Air Hangat.[4] Nama "Achmad Rasjid" sebenarnya diberikan oleh ayahnya, Abdul Somad Al-Kusai. Selama masa kecilnya, ia dibesarkan oleh neneknya, Andung Bayang dengan penuh kasih sayang, dibedungnya dengan kain panjang dan dihangatkannya dengan air panas di dalam botol.

Ahmad Rasyid mengenyam pendidikan formal pertama di bangku Tweede Class School (bahasa Indonesia: Sekolah Kelas Dua) yang setara dengan Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1902 dan di Nagari Maninjau sampai tahun 1909. Controlleur Manindjaoe memberikan beasiswa dan jaminan pangkat guru apabila Ahmad Rasyid meneruskan pendidikan di Kweekschool atau dalam bahasa Indonesia: Sekolah Guru, Fort de Kock. Namun, peluang tersebut ditolaknya, karena ia lebih suka mempelajari agama Islam dan sikapnya yang menentang bentuk penjajahan.[4] Selain itu, ia sejak awal menetapkan pendiriannya untuk berkeinginan melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar. Gurunya, Abu Hanifah (atau Tuan Ismail) menyarankan Ahmad Rasyid agar mempelajari ilmu agama terlebih dahulu kepada Abdul Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Haji Rasul, ayahanda Hamka di Surau Djembatan Besi. Selama menerima bimbingan dari Haji Rasul dalam kurun waktu 1910 sampai 1917, ia mempelajari ilmu Tauhid, Bahasa Arab, ilmu Kalam, Mantiq, Tarikh atau sejarah kebudayaan Islam, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti syariat, tasawuf, Al-Quran, tafsir, dan hadist dengan mustolah-nya.

Sikap anti penjajah telah dimilikinya semenjak masih belia. Baginya, penjajahan tidak saja sangat bertentangan dengan fitrah manusia, bahkan sering kali berupaya menghadang dan mempersempit gerakan penyiaran agama Islam secara langsung dan terang-terangan atau secara tidak langsung dan tersembunyi, seperti dengan membantu pihak-pihak Zending dan Missi Kristen dalam menyebarluaskan agamanya. Maka, tidak mengherankan apabila pada tahun 1928, ia berada di barisan terdepan bersama dengan Haji Rasul dalam menentang upaya pemerintah Hindia Belanda menjalankan peraturan Ordonansi Guru, yaitu guru-guru agama Islam dilarang mengajar sebelum mendapat surat izin mengajar dari pemerintah. Peraturan ini dalam pandangan Ahmad Rasyid akan melenyapkan kemerdekaan menyiarkan agama dan pemerintah Hindia Belanda akan berkuasa sepenuhnya dengan memakai ulama-ulama yang tidak mempunyai pendirian hidup. Di Maninjau, ia menentang Undang-Undang Boswesen atau Pancang Hutan pada tahun 1920.

Ahmad Rasyid juga berhasil berunding dengan Vander Plas, Vise Vooreitte Kood van Indie mengenai pembatalan peraturan-peraturan Belanda bagi kaum Bumi Putera, dan lain-lain, dalam menghadapi Perang Dunia kedua pada tahun 1942. Sikap yang sama juga ia perlihatkan ketika pendudukan Jepang berikhtiar agar murid-murid tidak berpuasa dan bermaksud menghalangi pelaksanaan salat dengan mengadakan pertemuan di waktu menjelang Magrib. Bahkan, sehari setelah Jepang menduduki Indonesia, Ahmad Rasyid berunding dengan Syu Co Kung (Penguasa Jepang di Padang), menjelaskan dan meminta agar kegiatan agama tidak diganggu.[butuh rujukan]

Pada tahun 1917 oleh gurunya, Abdul Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Haji Rasul memperkenalkan putri sulungnya, yaitu Fathimah Karim Amrullah, kemudian mereka dinikahkan di Sungai Batang.[5] Sejak saat itulah Ahmad Rasyid memperoleh gelar Sutan Mansur, sesuai dengan adat Minangkabau: setiap laki-laki menikah dan mendapatkan gelar. Dari pernikahan mereka dikaruniai enam belas anak, salah satunya Hanif Rasyid, seorang mantan Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Agam dari 2000 sampai 2005 dan Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Agam.[6] Ia sebenarnya memiliki dua istri dengan nama yang hampir sama, yaitu Fathimah Karim Amrullah (Umi Tua) dan Fathimah Abdullah (Umi Etek) yang menikah pada tahun 1928 dengan dikaruniai 11 orang anak.[7] Fathimah Abdullah tidak satu atap dengan Ahmad Rasyid, ia berkediaman di Rawamangun, Jakarta Timur.[8]

Perjalanan karierSunting

Sejak tahun 1915 hingga tahun 1917, Ahmad Rasyid bekerja sebagai guru di Pondok Pesantren milik Abdul Karim Amrullah. Pada saat perkumpulan Sumatra Thawalib, Ahmad Rasyid oleh beberapa sejawat dipandang mampu berperan sebagai seorang guru. Oleh karenanya, Sumatra Thawalib langsung mengutusnya menjadi guru di Kuala Simpang, Atjeh, selama dua tahun, yakni dari 1918 sampai 1919, setelah itu kembali ke Minangkabau.[9] Ketika mengenal dengan Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, Ahmad Rasyid tertarik dan bergabung sebagai anggota "Persjarikatan Moehammadijah" pada tahun 1922 dan mendirikan Perkumpulan Nurul Islam, nama samaran untuk menggantikan pergerakan Muhammadiyah yang pada saat penjajahan Belanda dipersulit perizinannya,[b] bersama dengan para pedagang dari Sungai Batang, Maninjau, yang telah masuk organisasi Islam, Muhammadiyah di Pekalongan.[4]

Ketertarikan tersebut didasari oleh ide yang dikembangkan Muhammadiyah sama dengan ide gerakan pembaharuan yang dikembangkan di Sumatra Barat, yaitu agar umat Islam kembali pada ajaran tauhid yang asli bersumber dari Rasulullah dengan membersihkan agama dari pengaruh adat dan tradisi yang terbukti telah membuat umat Islam terbelakang dan tertinggal dari umat-umat lain. Selain itu, ia menemukan Islam dalam Muhammadiyah tidak hanya sebagai ilmu semata dengan mengetahui dan menguasai seluk-beluk hukum Islam secara rinci sebagaimana yang terjadi di Minangkabau, tetapi ada upaya yang nyata untuk mengamalkan dan membuatnya membumi. Ia begitu terkesan ketika anggota-anggota Muhammadiyah menyembelih kurban setelah menunaikan salat Idul Adha dan membagikannya kepada fakir miskin. Pada 1923, Ahmad Dahlan yang melihat potensi dan bakat kepemimpinan Ahmad Rasyid menjadikan dirinya diangkat sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Pekalongan, selepas pendahulunya yang juga ketua pertamanya mengundurkan diri, dikarenakan tidak tahan menerima serangan kanan-kiri dari pihak-pihak yang tidak menyukai Muhammadiyah. Ia juga memimpin Muhammadiyah Cabang Pekajangan, Kedung Wuni, dan tetap aktif mengadakan tablig, serta menjadi guru agama.

Selain memimpin Muhammadiyah di Pekalongan, Ahmad Rasyid juga aktif mengajar sebagai guru agama Islam Madrasah Muhammadiyah dalam kurun waktu dua tahun, antara 1923 sampai 1925. Ia juga terlibat aktif dalam Kongres Islam Hindia Belanda yang dilaksanakan di Cirebon dan Surabaya bersama Oemar Said Tjokroaminoto dan Agus Salim untuk memimpin umat sesuai Al-Quran dan masalah amaliyah Islam. Ketika tahun 1926, Ahmad Rasyid ditugaskan memimpin Muhammadiyah di Minangkabau dan setahun setelahnya ditugaskan ke Aceh dengan tugas yang sama. Ahmad Rasyid juga diberi tugas sebagai mubalig Muhammadiyah untuk menjadi Guru Kulliyatul Muballighin atau Kulliyatul Muallimin Muhammadiyah di Padang, antara tahun 1932 hingga 1942.

Dengan dibekali pengetahuan agama yang mumpuni membuat Ahmad Rasyid banyak diminta sebagai penasehat dalam hal agama, baik secara pribadi maupun institusi. Ketika masa Hindia Belanda, Soekarno sempat diasingkan ke Bengkulu tahun 1938.[11] Ahmad Rasyid saat itu ditunjuk sebagai penasehat Soekarno. Pada masa Pendudukan Jepang di Indonesia, ia dilantik menjadi anggota Tsuo Sangi Kai dan Tsuo Sangi In atau saat ini setara dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk daerah Minangkabau. Setelah kemerdekaan Indonesia, oleh Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden RI, Ahmad Rasyid diangkat menjadi Imam atau guru agama Islam untuk Tentara Nasional Indonesia Komandemen Sumatra yang berkedudukan di Kota Bukittinggi dengan berpangkat Mayor Jenderal Tituler, antara tahun 1947 hingga 1949. Ahmad Rasyid lagi-lagi diminta menjadi Penasehat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dan berkantor di Markas Besar TNI Angkatan Darat usai pengakuan kedaulatan RI pada tahun 1950. Namun, permintaan tersebut ditolak, karena ia harus berkeliling semua daerah di Sumatra untuk bertablig sebagai pemuka Muhammadiyah. Pada tahun 1952, Soekarno pernah memintanya lagi menjadi Penasehat Presiden dengan syarat harus memindahkan dan memboyong keluarganya dari Kota Bukittinggi ke Jakarta. Akan tetapi permintaan itu kembali ditolaknya dan hanya bersedia menjadi penasehat tidak resmi, sehingga tidak perlu pindah ke Jakarta.

Ahmad Rasyid pernah menjabat di beberapa lembaga legislatif pasca kemerdekaan RI, salah satunya Komite Nasional Indonesia Pusat. Ia mengemban amanat sebagai anggota badan legislatif tersebut terhitung sejak 29 Agustus 1945, hingga masa pembubarannya pada tanggal 15 Februari 1950. Selanjutnya, Ahmad Rasyid menduduki kursi Fraksi Majelis Syuro Muslimin Indonesia selaku anggota Konstituante untuk daerah pemilihan Sumatra Tengah ketika tahun 1956. Ketika terjadinya pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang, Ahmad Rasyid pun berada di tengah-tengah mereka karena didasari oleh ketidaksukaannya pada Partai Komunis Indonesia dan kediktatoran Soekarno, meskipun peran yang dimainkannya dalam pergolakan itu diakuinya sendiri tidak terlalu besar. Ketika berada di Partai Masyumi, ia sempat menjabat di jabatan strategis, yakni Wakil Ketua Majelis Syura dari 1949 sampai 1952. Selain sebagai seorang guru, Ahmad Rasyid juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Falsafah Hukum Muhammadiyah, Padang Panjang, dalan rentang tahun 1953 hingga 1956.

Pindah ke Pulau JawaSunting

Ahmad Rasyid tidak diizinkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan terjadinya pemberontakan Inggris yang terjadi di Mesir, sehingga membuatnya terhambat dalam melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar. Kegagalannya meraih cita-cita melanjutkan sekolah ke Universitas Al-Azhar membuat dirinya harus merantau ke Pekalongan dengan berdagang kain batik dan guru agama bagi para perantau dari Sumatra dan kaum muslim lainnya pada tahun 1921.[4] Ia merantau dengan meninggalkan istri pertamanya, Fathimah Karim Amrullah, saat itu sedang hamil besar dititipkan kepada Haji Rasul.

Di Pekalongan, Ahmad Rasyid tidak semata-mata berbisnis saja, tetapi juga menyelenggarakan pengajian rutin. Melalui kelompok pengajian yang diberi nama Nurul Islam ini, ia dapat mengimplementasikan dakwah Islam yang selaras dengan dinamika masyarakat. Pada tahun 1922, Ahmad Rasyid kemudian turut turut mengikuti kelompok pengajian yang digelar di Pekajangan. Kyai yang mengisi pengajian tersevut adalah Ahmad Dahlan, President Hoofdbestuur Moehammadijah (saat ini bernama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah) yang datang ke Pekalongan guna mengadakan tablig Muhammadiyah. Awalnya, kedatangan Ahmad Dahlan ke Pekajangan dalam rangka meresmikan perkumpulan Ambudi Agama pimpinan Kyai Haji Abdurrahman yang berubah namanya menjadi Cabang Muhammadiyah Pekajangan. Sejak saat itulah, Ahmad Rasyid mulai mengenal Ahmad Dahlan dan bergabung dengan Muhammadiyah pada 1922.

Peristiwa tersebut ternyata mengubah perjalanan hidupnya. Ahmad Rasyid begitu terkesan dengan kefasihan Ahmad Dahlan dalam menjelaskan berbagai persoalan agama, sehingga ia banyak menimba ilmu pengetahuan Muhammadiyah dari Ahmad Dahlan. Selain mengenal Ahmad Dahlan di tahun yang sama, Ahmad Rasyid juga mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya, semisal Abdul Rozak Fachruddin dan Mas Mansur. Akibat pengaruh Muhammadiyah, Ahmad Rasyid semakin mengenal Islam tidak hanya dari aspek hukumnya, melainkan juga aspek sosial kemasyarakatan dan ekonomi dari dua tokoh tersebut.

Pada tahun 1923, Ahmad Rasyid bekerja sebagai guru dan mubalig Muhammadiyah. Muridnya terdiri dari berbagai kalangan, antara lain para bangsawan jawa, yakni Raden Ranoewihardjo, Raden Tjitrosoewarno, dan Raden Oesman Poedjoetomo. Beberapa muridnya juga berasal dari kalangan keturunan Arab dan orang Minang perantauan yang menetap di Kota Pekalongan dan sekitarnya. Selepas dua tahun kemudian, Ahmad Rasyid kembali ke tanah kelahirannya sebagai mubalig Muhammadiyah untuk daerah Sumatra. Ahmad Rasyid diberikan tugas untuk kembali ke Pekalongan pada tahun 1928, sebelum akhirnya ditugaskan ke Kalimantan setahun setelahnya.

Sekitar tahun 1924, sewaktu Ahmad Rasyid berada di Pekalongan ada fragmen lain yang menarik, yaitu datangnya Hamka dengan tujuan silaturahmi dan belajar agama Islam. Di daerah itu, Hamka diperkenalkan dengan banyak tokoh Islam sekaligus pergerakan, salah satunya Mohammad Roem. Hamka kembali ke Padang Panjang pada tahun 1925.[12]

Setelah terpilih dan dikukuhkannya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1953–1956, Ahmad Rasyid berpindah ke Yogyakarta.

Mengembangkan MuhammadiyahSunting

Sejatinya, sebelum Ahmad Rasyid, pikiran-pikiran dari Muhammadiyah sudah lebih dahulu disebarluaskan oleh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), bahkan beberapa cabang Muhammadiyah sudah berdiri di Maninjau dan Kota Padang Panjang.[c] Dengan kata lain, Haji Rasul telah membuka jalan bagi Ahmad Rasyid untuk dapat mengembangkan Muhammadiyah di Minangkabau. Perkembangan organisasi Islam ini justru semakin pesat, setelah dia mendapat dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dan sejumlah alim ulama "kaum mudo", kelompok reformasi Islam di Minangkabau. Penyebaran Muhammadiyah dilakukan Ahmad Rasyid melalui pengajian-pengajian, telah sesuai dengan metode dakwah, yaitu penuh kelembutan, tegas, dan tidak menyinggung perasaan si pendengar.

Ahmad Rasyid mengenal Muhammadiyah lewat pengajian yang disampaikan Ahmad Dahlan di Pekajangan, setelah salah satu jemaah bertanya mengenai pembahasan tentang tafsir Surah Al-Ma’un dilakukan berulang-ulang.[14] Pada saat itulah, Ahmad Dahlan menyampaikan Surah Ali Imran ayat 104, bahwa untuk menjelaskan maksud tafsir Surah Al-Ma’un dibutuhkan gerakan yang sistematis dan terencana, yaitu melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Konon, penjelasan rasional inilah yang telah menarik hati Ahmad Rasyid untuk bergabung dalam Muhammadiyah.[15]

Ahmad Rasyid tidak hanya aktif di Muhammadiyah, tetapi juga terjun aktif di Kongres Al-Islam dan Sarekat Islam. Pada "Zaman Bergerak", antara tahun 1912 hingga 1926, ketika dunia perpolitikan di tanah air sedang mengalami infiltrasi ideologi Sosialisme-Marxis melalui kelompok Sarekat Islam Semarang.[16] Gerakan Muhammadiyah dan Kongres Al-Islam tidak lepas dari infiltrasi ideologi kiri. Ia termasuk tokoh yang berdiri di barisan terdepan dalam membentengi Muhammadiyah dari rongrongan ideologi kiri. Di Minangkabau, tokoh penggerak komunisme dipimpin oleh Datuk Batuah, yang berhasil memprovokasi para santri dan pemuda Minangkabau untuk bergabung dalam Sarikat Rakyat (SR).

Pada akhir tahun 1925, Ahmad Rasyid diutus oleh Hoofdbestuur Moehammadijah (bahasa Indonesia: Pengurus Besar Muhammadiyah) untuk memimpin dan menata Muhammadiyah di Minangkabau ketika terjadinya konflik antara pihak komunis dengan Muhammadiyah. Pada tahun 1927 bersama Abdul Rozak Fachruddin, ia melakukan tablig dan mengembangkan Muhammadiyah di Kota Medan dan Aceh. Melalui kebijaksanaannya dan kepiawaiannya yang tidak frontal dan akomodatif terhadap para pemangku adat dan tokoh setempat, dengan cara mendekati raja-raja yang berpengaruh di daerah setempat atau bahkan dengan menjadi montir, Muhammadiyah dapat didirikan di Koetaradja, Sigli, dan Lhokseumawe. Pada tahun 1929, ia pun berhasil mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di Banjarmasin, Kuala Kapuas, Mendawai, dan Amuntai. Dengan demikian, antara tahun 1926 sampai 1929 tersebut, Muhammadiyah mulai dikenal luas di luar pulau Jawa. Selaku mubalig tingkat pusat Muhammadiyah, Ahmad Rasyid ditugaskan mengadakan tablig keliling ke beberapa bagian Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan. Aktivitasnya juga melatih pemuda-pemudi dalam Lembaga Kulliyatul Muballighin yang didirikannya untuk menjadi kader Muhammadiyah. Adapun metode yang digunakan untuk latihan itu adalah mujadalah atau kelompok diskusi. Murid-muridnya antara lain Duski Samad (adik kandungnya sendiri), Abdul Malik Ahmad (penulis tafsir Al-Quran), Zein Jambek, Marzuki Yatim (mantan Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Sumatra Barat), Hamka, Fatimah Latif, Khadijah Idrus, Fatimah Jalil, dan Jawanis.

Ketika berdirinya Muhammadiyah Cabang Padang Panjang yang didirikan oleh Saalah Yusuf Sutan Mangkuto, Ahmad Rasyid, selaku perwakilan Hoofdbestuur (bahasa Indonesia: Penguru Besar) Muhammadiyah Hindia Timur, untuk memimpin sidang peresmian pada tanggal 2 Juni 1926, meskipun saat itu, Padang Panjang sedang dipengaruhi oleh ideologi komunis yang berbasis "Groep Sarekat Rakjat" Padang Panjang. Pada awalnya, Muhammadiyah Cabang Padang Panjang ini dinamakan sebagai "Perkoempoelan Tani".[17] Setelah diresmikannya, organisasi Naqsyabandiyah ramai berbondong-bondong menjadi anggota Muhammadiyah.

Pada tahun 1930, diselenggarakan Kongres ke-19 Muhammadiyah di Minangkabau. Salah satu keputusannya adalah perlunya jabatan Konsul Besar Muhammadiyah di setiap keresidenan. Maka berdasarkan Konferensi Daerah di Kota Payakumbuh tahun 1931, dipilihlah Ahmad Rasyid sebagai Konsul Besar Muhammadiyah untuk wilayah Minangkabau hingga 1943. Kemudian atas usul Konsul Aceh dan konsul-konsul seluruh Sumatra setuju untuk mengangkat Ahmad Rasyid sebagai Imam Muhammadiyah Sumatra. Ahmad Rasyid juga membuka dan memimpin Kulliyah Al-Muballighin Muhammadiyah di Padang Panjang, tempat membina mubalig tingkat atas. Disinilah tempat para kader muda Muhammadiyah diberikan pengetahuan agama dengan bertugas menyebarluaskan Muhammadiyah dan ajaran Islam di Minangkabau dan daerah-daerah sekitarnya. Kelak, para mubalig tersebut akan memainkan peran penting untuk memimpin dan menggerakkan roda Persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Perkembangan dan kemajuan Muhammadiyah di Minangkabau mendapat perhatian khusus dari Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta. Maka pada akhir tahun 1926, Muhammadiyah mengutus Ahmad Rasyid untuk mengawal perkembangan persyarikatan itu agar tidak melenceng ke arah yang tidak dikehendaki. Ia juga mendirikan "Djihad" untuk mengembalikan dan meluruskan umat Islam kembali kepada agamanya dalam rentang tahun 1949 sampai 1952. Kemudian pada tahun 1943, Ahmad Rasyid selaku Konsul Besar Muhammadiyah melebarkan sayap wilayahnya untuk seluruh Indonesia saat itu, hingga 1953. Ia berperan dalam membentuk Muhammadiyah Cabang Lubuk Jambi, ketika Dasin Jamal dan Sulaiman Khatib meminta mandatnya pada awal September 1933.[18]

Lika-liku pengalamannya dalam mengembangkan Muhammadiyah sampai kepada titik yang teratas. Ketika berlangsung Kongres Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto, Banyumas pada tahun 1953, hampir seluruh peserta kongres memilih Ahmad Rasyid sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sehingga terpilihlah dia untuk periode 1953–1956.[19] Maka dengan demikian, ia menjadi tokoh luar Jawa pertama yang menduduki kursi eksekutif di Muhammadiyah. Menyelesaikan periode pertama kepemimpinannya, kemudian ia terpilih kembali dalam Kongres Muhammadiyah ke-33 di Yogyakarta selama tiga tahun menjabat untuk periode 1956 sampai 1959. Pada Kongres Muhammadiyah ke-35 tahun 1962 dan kongres setelahnya, ia diangkat sebagai Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah hingga tahun 1980. Setiap Ahad Subuh senantiasa memberikan pelajaran agama Islam, terutama tentang tauhid di ruang pertemuan Kantor Perwakilan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya dan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya No. 62, Jakarta.

Pada masa kepemimpinannya, upaya pemulihan ruh Muhammadiyah di kalangan warga dan pimpinan Muhammadiyah digiatkan.[12] Oleh karena itu, Ahmad Rasyid memasyarakatkan dua hal, yakni merebut khasyyah atau rasa takut kepada kemurkaan Allah, merebut waktu, memenuhi janji, menanam ruh tauhid, dan mewujudkan akhlak tauhid, serta mengusahakan buq’ah mubarakah atau tempat yang diberkati di tempat masing-masing dengan mengupayakan shalat jamaah pada awal setiap waktu, mendidik anak-anak beribadah dan mengaji Al-Quran untuk mengharapkan rahmat-Nya, melatih puasa sunah Senin dan Kamis, serta melatih puasa setiap tanggal 13, 14, dan 15 per bulan Hijriyah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan tetap menghidupkan takwa. Selain itu, diupayakan pula hubungan silaturahmi antara pemimpin dan anggota di seluruh tingkatan.

Ahmad Rasyid dalam dua periode kepemimpinan di Muhammadiyah berhasil merumuskan khittah (garis perjuangan) Muhammadiyah atau biasa disebut Khittah Palembang. Kandungan dari Khittah Muhammadiyah, yaitu hakikat Muhammadiyah, lalu Muhammadiyah dan masyarakat, Muhammadiyah dan politik, Muhammadiyah dan Ukhuwah Islamiyah, serta dasar dan program Muhammadiyah. Berikut merupakan isi Khittah Palembang yang dirumuskan dan dijabarkan oleh Ahmad Rasyid.[20][21]

  1. Menjiwai pribadi anggota dan pimpinan Muhammadiyah dengan memperdalam dan mempertebal tauhid, menyempurnakan ibadah dengan khusyu’ dan tawadlu’, mempertinggi akhlak, memperluas ilmu pengetahuan, dan menggerakkan Muhammadiyah dengan penuh keyakinan dan rasa tanggung jawab.
  2. Menjalankan uswatun hasanah.
  3. Mengutuhkan organisasi dan merapikan administrasi.
  4. Memperbanyak dan mempertinggi mutu anak.
  5. Mempertinggi mutu anggota serta membentuk kader.
  6. Memperoleh ukhuwah sesama muslim dengan mengadakan badan ishlah untuk mengantisipasi bila terjadi keretakan dan perselisihan.
  7. Menuntun penghidupan anggota.

Ahmad Rasyid dikenal mempunyai sifat toleran dalam bidang fikih, misalnya ketika adanya perbedaan pendapat terkait furu'iyyah atau hukum agama yang tidak pokok, akan tetapi ia tidak terlalu mempermasalahkan. Hasil Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah dipandangnya hanya sebagai sikap organisasi Muhammadiyah terhadap suatu masalah agama, itu pun sepanjang belum ditemukan pendapat yang lebih kuat, sehingga tidak mengikat anggota-anggota Muhammadiyah.

Perjuangannya dalam mengembangkan, mengenalkan, dan menyebarluaskan Muhammadiyah di Sumatra Barat membuat dia memiliki julukan yang diberikan oleh Muhammad Yunus Anis, yaitu sebagai "Bintang Barat Muhammadiyah", setelah Mas Mansoer dipandang sebagai "Bintang Timur Muhammadiyah". Hamka menyebutnya sebagai seorang ideolog Muhammadiyah. Ahmad Rasyid pun dipandang selaku tokoh utama Muhammadiyah dari generasi pertama, setelah Ahmad Dahlan, A. R. Fachruddin, Kyai Haji Ibrahim, Abdul Mu'thi, Mukhtar Bukhari, dan Mas Mansur.

PandanganSunting

Pentingnya jihad dibahas olehnya secara khusus dalam ceramahnya antara tahun 1952 sampai 1957 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ahmad Rasyid berpendapat bahwa jihad itu berasal dari pengharapan manusia untuk dibela atau ditolong oleh Allah. Namun Allah hanya akan menolong, apabila orang mau menolong agama Allah. Sedangkan berjihad merupakan salah satu cara menolong agama Allah. Jihad terdiri dari 3 tahap yang harus ditempuh, yaitu adanya roh suci yang menghubungkan antara sang makhluk dengan sang khalik atau maha pencipta. Roh suci yang dia maksudkan adalah iman kepada Allah menjadi pokok dari jihad.[22] Selanjutnya, terdapat tenaga ilmu dan tenaga benda. Menurutnya, ketiga hal tersebut dapat menyempurnakan jihad. Akan tetapi, semua tetap berpangkal pada keimanan.

Rasul itulah yang behadapan dengan umat yang mempunyai ciri kebangsaannya sendiri-sendiri dengan segala macam peradaban (kebudayaannya) masing-masing. Bagi tiap umat itu telah dibangkitkan seorang rasul yang membawa risalah kepada suatu peradaban dan tingkat kemajuan umat itu sendiri.

— Ahmad Rasyid Sutan Mansur, 1982

Jihad dan iman, menurutnya, bersumber dari petunjuk-Nya dan balasan atas jihad tersebut adalah anugerah-Nya, berupa baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, maksudnya adalah negara yang aman, makmur, dan Allah mengampuni para penghuninya.

Menurut Ahmad Rasyid, jihad terjadi dalam dua kondisi, yakni dalam masa perang dan masa damai. Jihad dalam masa perang, menurutnya, tidak semata-mata berada di garis terdepan, tetapi juga persiapan mendukung peperangan itu sendiri, seperti urusan logistik. Namun, ia menekankan bahwa jihad di masa damai lebih berat dibandingkan di masa perang. Di masa damai Jihad adalah membangun, menegakkan, dan menyusun. Ketika terjadi kekalahan, maka ditandai oleh masuknya kebudayaan asing.

Masa tuaSunting

Perjuangan dakwah terus dilakukan sejak masa muda hingga akhir hayat Ahmad Rasyid. Ketika memasuki umur 80-an, ia kembali ke kampung halamannya di Maninjau, Agam, Sumatra Barat dan pada akhirnya berpindah ke Jakarta sampai akhir hayatnya.[23][24] Di masa tuanya justru banyak tetamu yang mengunjungi rumahnya untuk belajar ilmu tauhid, terutamanya Hamka selepas meletakkan jabatannya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia.[8]

Setelah sebulan lebih dirawat di Rumah Sakit Islam, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Ahmad Rasyid meninggal dunia pada hari Senin, 25 Maret 1985 Masehi, bertepatan tanggal 3 Rajab 1405 Hijriyah di usia 89 tahun.[1] Jenazah almarhum dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan setelah disalatkan di Masjid Kompleks Muhammadiyah. Pemakamannya dihadiri oleh Munawir Sjadzali selaku Menteri Agama, Mohammad Natsir, dan sejumlah tokoh agama lainnya.

Karya sastraSunting

Sebagai seorang penulis produktif, Ahmad Rasyid banyak menuliskan artikel-artikel mengenai Islam, seperti Jihad, Seruan Kepada Kehidupan Baru, Tauhid Membentuk Kepribadian Muslim, dan Ruh Islam. Dalam buku-buku tersebut mengandung isi Islam Rahmatan Lil-'Alamin atau Islam yang berhaluan lurus. Dirincikan doktrin-doktrin Islam secara sistematis dan mengaitkannya dengan tauhid melalui pembahasan ayat demi ayat dengan keterangan Al-Quran dan Hadist olehnya. Penerbit Panji Masyarakat sendiri banyak mengumpulkan buku-buku cetakan lama yang ditulis oleh Ahmad Rasyid dari beberapa kolektor untuk dicetak ulang. Berikut merupakan daftar karya sastra berupa buku yang ditulis oleh Ahmad Rasyid.[butuh rujukan]

  • Pokok-Pokok Pergerakan Muhammadiyah (Al-Hidayah, ?)
  • Hidup di Tengah Kawan dan Lawan
  • Ruh Islam (1965)
  • Panggilan Illahi
  • Seruan Kepada Kehidupan Baru
  • Jihad (1982)
  • Tauhid Membentuk Pribadi Muslim (Pustaka Panjimas, 1978)[23]
  • Penerangan Asas Muhammadiyah
  • Ruh Jihad (Panji Masyarakat, ?)

CatatanSunting

  1. ^ Ahmad Rasyid terakhir tinggal di rumah beralamat tersebut hingga akhir hayatnya.
  2. ^ Pergerakan Muhammadiyah sebelumnya dilakukan disetiap daerah dengan nama yang berbeda-beda, seperti Nurul Islam di Pekalongan, Sidiq Amanah Tabligh Fathonah di Solo, Al-Munir di Ujung Pandang, Al-Hidayah di Garut, dan lain-lain. Pemerintah Hindia Belanda baru mengeluarkan perizinan diperbolehkannya Muhammadiyah bergerak di luar Yogyakarta sendiri baru keluar pada tanggal 2 September 1921.[10]
  3. ^ Kantor Cabang Muhammadiyah pertama di Minangkabau, saat ini telah diubah fungsinya sebagai Madrasah Tsanawiyah Swasta Muhammadiyah Sungai Batang.[13]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b "Meninggal Dunia". Tempo.co. 1985-03-30. Diakses tanggal 2021-06-13. 
  2. ^ "Paradigma Politik Muhammadiyah". Diva Press. Diakses tanggal 2021-10-05. 
  3. ^ "Para pemimpin Muhammadiyah". BBC News. 2010-07-05. Diakses tanggal 2021-10-01. 
  4. ^ a b c d Nursalikah, Ani (2020-06-12). "Buya AR Sutan Mansur: Imam Muhammadiyah Sumatra". Republika.co.id. Diakses tanggal 2021-10-02. 
  5. ^ Aisyah Rasyid 2009, hlm. 24.
  6. ^ "Agam Berduka, Buya Hanif Rasyid AR Wafat". Kaba12. 2017-03-18. Diakses tanggal 2021-10-01. 
  7. ^ "Mengenang Buya Sutan Mansur". Okezone. 2008-04-25. Diakses tanggal 2021-10-03. 
  8. ^ a b "Sutan Mansur, Buya Yang Lain". Majalah Tempo. 1982-02-20. Diakses tanggal 2021-10-03. 
  9. ^ "Buya Haji Ahmad Rasyid Sutan Mansur (Ketua 1956–1959)". Muhammadiyah. 2021-02-17. Diakses tanggal 2021-10-03. 
  10. ^ "Sejarah:Proses Masuknya Muhammadiyah ke Jawa Barat". Muhammadiyah Jawa Barat. Diakses tanggal 2021-10-04. 
  11. ^ "Buya AR Sutan Mansur". 123dok. Diakses tanggal 2021-10-03. 
  12. ^ a b Nurfatoni, Mohammad (2020-08-28). "AR Sutan Mansur Ideolog Muhammadiyah". PWMU. Diakses tanggal 2021-10-04. 
  13. ^ Yudistira, Rudi (2019-05-12). "Menggali Sejarah Lahirnya Muhammadiyah di Pulau Sumatra dan Ketokohan A.R Sutan Mansur". 123dok. Diakses tanggal 2021-10-04. 
  14. ^ Aisyah Rasyid 2009, hlm. 26.
  15. ^ "AR Sutan Mansur: Buya Tuo dari Maninjau". ibtimes.id. 2018-12-07. Diakses tanggal 2021-10-05. 
  16. ^ Takashi Shiraishi 2005.
  17. ^ "Tokoh Naqsyabandiyah Bergabung ke Muhammadiyah Demi Lawan Komunis". Rakyat Merdeka. 2020-09-15. Diakses tanggal 2021-10-05. 
  18. ^ "Sejarah Muhammadiyah Riau". Muhammadiyah Riau. Diakses tanggal 2021-10-04. 
  19. ^ Virgiawan, Ryan (2019-11-19). "Mengenal Semua Ketua Umum Muhammadiyah dari Masa ke Masa". MiNews. Diakses tanggal 2021-10-04. 
  20. ^ Aisyah, Novia (2021-09-16). "7 Butir Khittah Palembang Muhammadiyah, Siswa Madrasah Perlu Tahu". Detik.com. Diakses tanggal 2021-10-04. 
  21. ^ "Buya H. Ahmad Rasyid Sutan Mansur Adalah Guru dan Ulama Besar Minangkabau". Sumbar Today. 2018-01-31. Diakses tanggal 2021-10-05. 
  22. ^ "Jihad di Mata AR Sutan Mansur". Jejak Islam. 2017-02-09. Diakses tanggal 2021-10-05. 
  23. ^ a b "Buya AR Sutan Mansyur: Tauhid Membentuk Pribadi Muslim". TablighMu. 2015-01-02. Diakses tanggal 2021-10-01. 
  24. ^ "Ahmad Rasyid Sutan Mansur". Tempo. 2016-02-12. Diakses tanggal 2021-10-03. 

Pranala luarSunting

  Media terkait Ahmad Rasyid Sutan Mansur di Wikimedia Commons

Jabatan organisasi Islam
Didahului oleh:
Bagoes Hadikoesoemo
Ketua Umum PB Muhammadiyah
1953—1959
Diteruskan oleh:
Muhammad Yunus Anis