Buka menu utama

Pīrūz Nahavandi (bahasa Persia: پیروز نهاوندی) atau yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai 'Abu-Lū'lū'ah al-Majusi (Arab: أبو لؤلؤة المجوسي‎) atau Abu Lukluk adalah seorang prajurit Sasania yang bertugas di bawah komandan Rostam Farrokhzad, tetapi berhasil ditangkap dalam Pertempuran Qadisiyyah pada tahun 636 M ketika Sasania dikalahkan oleh tentara Muslim Khalifah Umar bin Khattab di tepi barat Sungai Efrat. Setelah ia dibawa ke Madinah, ia berhasil membunuh sang Khalifah pada tahun ke-23 Hijriah (644-645 M).

Daftar isi

BiografiSunting

Setelah kejatuhan Kekaisaran Sasaniyah, ia ditawan lalu dijadikan budak yang bekerja untuk Al-Mughirah bin Syu'bah, salah seorang sahabat Rasulullah yang memimpin Basrah. Bakat seninya membuat sang majikan menyurati Khalifah Umar yang akhirnya memperbolehkan Abu Lukluk tinggal di Madinah.

Pembunuhan UmarSunting

Pada suatu hari pada tahun ke-23 Hijriah, Abu Lukluk bersembunyi di pagi buta di dekat tempat Umar bin Khattab akan mengimami shalat Shubuh berjamaah di Masjid Nabawi. Saat Umar mulai bertakbir, Abu Lukluk tiba-tiba muncul dan menikam pusar sang Khalifah Amirul Mu'minin sebanyak tiga kali dengan sebuah belati bermata dua. umar melaungkan kalimah "ALLAHUAKBAR" dan coba meneruskan solat ketika bangun dari ruku' umar terbaring . Beberapa diantaranya mencoba mengejar dan ada juga yang kabur karena ketakutan. Setelah menikam Umar, ia mencoba menikam orang-orang yang mencoba menangkapnya. Ketika terpojok, Abu Lukluk bunuh diri.

MakamSunting

 
Makam Abu Lukluk

Konon, Abu Lukluk dimakamkan di Kashan, di wilayah Iran. Makamnya dibangun pada abad ke-11 dengan arsitektur Persia-Khawarizmi. Makamnya dibangun dengan kubah berbentuk kerucut. Tanggal pembangunannya tidak diketahui sementara batu nisannya baru diletakkan pada abad ke-14.

KontroversiSunting

Kaum Syi'ah yang dikenal sebagai pembenci tiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib memberi gelar kepada Abu Lukluk Baba Shujauddin yang berarti bapak pemberani. Hari pembunuhan itu diperingati pada 9 Rabiul awal sebagai djashn-e Omar koshi atau hari pembunuhan Umar di desa-desa terpencil di pelosok Iran setelah sebelumnya dirayakan di kota-kota besar yang kemudian menuai kritik dari berbagai negara Islam di seluruh dunia.