Buka menu utama

A Few Poorly Organized Men: Interreligious Violence in Poso, Indonesia, adalah sebuah buku yang dipublikasikan pada tahun 2013 oleh peneliti dan Indonesianis dari Australia, Dave McRae. Buku ini berfokus mengenai Kerusuhan Poso yang terjadi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada tahun 1999 hingga 2002.[1]

A Few Poorly Organized Men
Sampul
Sampul buku
PengarangDave McRae
Negara Australia
BahasaInggris
SubjekKerusuhan Poso
GenreHukum, Konflik
PenerbitBRILL
Tanggal rilis2013
Halaman214
ISBN9789004244832

Buku ini pada umumnya merupakan buah karya dari disertasi yang dilakukan McRae pada tahun 2008. McRae melakukan penelitian lapangan di Indonesia secara bertahap, sejak tahun 2002 hingga 2007. Buku ini menjadi salah satu publikasi yang penting bagi para peneliti lainnya yang berusaha memahami latar belakang konflik yang terjadi di Poso.

Latar belakangSunting

Secara garis besar, buku ini merupakan buah karya dari disertasi yang dilakukannya pada bulan Mei tahun 2008. Sumber utama dari buku ini adalah 70 wawancara formal yang dilakukan McRae saat ia berada di Palu dan Poso dalam penelitiannya pada bulan Desember 2001 hingga Februari 2002. Ia melanjutkannya pada bulan Juli 2003, Maret hingga Mei 2004 dan bulan Juli 2007. Sebagian besar proses wawancara direkam, dengan persetujuan terlebih dahulu oleh narasumber.[a]

ProduksiSunting

McRae melakukan semua wawancara dalam bahasa Indonesia, kecuali jika narasumbernya memahami bahasa Inggris. Ia menyatakan, penjajakan awal orang yang akan menjadi narasumber sangat menantang, karena hanya sedikit sumber sekunder yang ada yang membahas konflik Poso ketika ia memulai penelitian lapangannya. Sehingga untuk langkah awalnya, ia mewawancarai sejumlah besar responden yang dipilih atas dasar rekomendasi dari aktivis LSM lokal, wartawan, dan rekomendasi dari orang-orang yang telah diwawancarainya.[2]

Seiring kemajuan penelitiannya menjadi lebih terfokus pada kontribusi pejuang terhadap eskalasi dan penurunan kekerasan, McRae mulai mewawancarai sebagian besar orang yang terlibat langsung dalam kekerasan. Lama kelamaan, ia melakukan sesi wawancara ini tanpa kehadiran pihak ketiga, walaupun orang yang diwawancarai sering mengajak seorang teman atau, saat diwawancarai di rumah mereka, didampingi oleh anggota keluarga. Pada kunjungan penelitian kedua dan ketiganya, beberapa orang yang diwawancarainya sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Palu.[3]

Antara akhir tahun 2004 dan pertengahan tahun 2006, ia juga melakukan empat perjalanan penelitian ke Palu dan Poso dalam rangka tugas kerjanya di International Crisis Group. Selama perjalanan ini, ia melakukan wawancara lanjutan dengan perwira polisi senior, pejabat pemerintah daerah, hakim, jaksa, tokoh masyarakat dan agama, serta bekas pejuang. Saya mencatat sangat sedikit dari wawancara ini. Saya juga mengambil kesempatan dalam perjalanan ini untuk bertemu secara informal dengan beberapa orang yang telah saya wawancarai selama perjalanan penelitian disertasi saya.

KontenSunting

Bab pertama mengenalkan pembaca tentang wilayah dan latar belakan Poso dan konteks serta isu yang memungkinkan terjadinya konflik dan kekerasan. Bab kedua menguraikan konsensus ilmiah tentang permulaan konflik komunal pasca otoriter di Indonesia, dan menguraikan manifestasi spesifik dari konteks ini di Poso.[4] Diskusi tentang dinamika kekerasan kemudian dipresentasikan secara kronologis, dengan satu bab untuk setiap tahap. Pada bab ketiga, McRae menganalisis tahap awal kerusuhan di Poso sebagai kasus kekerasan politik, terutama pada studi tentang kerusuhan komunal di Asia Selatan.[5]

Bab keempat mengacu pada literatur tentang pembunuhan massal, perang saudara dan genosida untuk memahami eskalasi mendadak ke fase pembunuhan secara luas di Poso. Mengidentifikasi perkembangan aliansi antara mujahidin dan Muslim lokal sebagai ciri khas fase kekerasan antara dua pihak yang berlarut-larut, diidentifikasikan oleh McRae dalam bab kelima sebagai kasus kekerasan agama.[5]

PenerimaanSunting

Sri Lestari Wahyuningroem dari Universitas Nasional Australia, mengulas tentang buku ini di Bulletin of Indonesian Economic Studies tahun 2014.

CatatanSunting

  1. ^ Dalam beberapa kasus, orang yang diwawancarai meminta agar sesi wawancara tersebut untuk tidak direkam, atau McRae sendiri yang memutuskan untuk tidak melakukannya. Pada awalnya, rekaman dibuat dengan menggunakan kaset, dan sejak tahun 2003 McRae mulai menggunakan minidisk, yang memiliki keunggulan dengan kualitas suara yang lebih baik dan kapasitas lima jam untuk setiap disk. Untuk wawancara yang tidak direkam, McRae memilih untuk mencatat dan kemudian mengetik transkrip yang lebih lengkap.

ReferensiSunting

Pranala luarSunting