17th - Seventeen

film Indonesia

17th adalah film drama remaja Indonesia yang diproduksi oleh Starvision Plus pada tahun 2004 dan disutradarai oleh Helfi Kardit. Film ini dibintangi oleh Muhammad Rifky Alhabsyi (sebagai Rio), Ratu Felisha (sebagai Susan), Andre Taulany, Nuri Shaden (sebagai Merpati), Ingka Noverita, Drg. Fadly, Luthy Tambayong (sebagai ayah Susan yang gila judi), Darti Manulang, Mpok Atiek, dan Titi Rajo Bintang (sebagai Garuda).

17th - Seventeen
17th-poster.jpg
Sutradara
Produser
Penulis
Penulis skenarioHelfi Kardit
PemeranRatu Felisha
Andre Taulany
Muhammad Rifky Alhabsyi
Nuri Shaden
Titi Rajo Bintang
Ingka Noverita
Luthy Tambayong
Dharty Manullang
Joy Yunus
Dian FA
M Hasbi
Helmi Salsa
Oerip Saleh
Subarkah Hadisarjana
Caroline
Drg. Fadly
Tika
Mpok Atiek
Penata musikIndra Qadarsih
SinematograferNovyar P. Kardit
PenyuntingPramod Naidu
Asep Suhanda
Iyon Rianne
Dwi Ilalang
Perusahaan
produksi
DistributorKharisma StarVision Plus
Tanggal rilis
2004
Durasi88 menit
Negara
Bahasa

SinopsisSunting

Masa remaja, masa paling indah. Kalimat ini akan menjadi sebuah pencarian, dan ide dari film yang ber-genre remaja ini. Tetapi apakah demikian, padahal Susan (Ratu Felisha) pada masa indah ini, harus menderita.

Ada cerita tentang Merpati (Nuri Shaden) dan Rio (Muhammad Rifky Alhabsyi). Merpati adalah seorang gadis remaja yang pintar dalam segala hal, baik dalam pelajaran di sekolah maupun pergaulan. Hal ini yang membuat Rio jatuh cinta. Tetapi sayang banyak hal yang menghambat kisah cinta mereka, di antaranya prinsip Merpati sendiri yang tidak mau masa remajanya hanya dilewatkan dengan pacaran, tetapi ingin mengisi masa remaja dengan hal – hal yang berguna.

Rio yang mengutarakan cintanya selalu ditangkal Merpati, walaupun Merpati juga mencintai Rio. Selain prinsip Merpati, kisah Merpati dan Rio juga dihadapkan pada dua geng mereka yang penya kegiatan nge-band. Dua band sekolah ini bersaing sesuai dengan jiwa kekanak-kanakan menuju proses pendewasaan diri mereka.

Kedua geng sangat menentang Merpati dan Rio atau siapapun anggota geng menjalin percintaan. Kisah cinta mereka juga diwarnai oleh kehadiran Didi (M. Hasbi), cowok kutu buku yang "kuper" (kurang pergaulan), tetapi diam–diam mencintai Merpati hingga suasana yang terbangun sering mengundang kegelian.

Prinsip Merpati ini terbukti benar, Susan teman satu sekolah Merpati menemui masalah yang tidak sanggup dihadapinya. Susan, gadis belia yang baru menginjak usia 17 tahun, harus menghadapi permasalahan pahit, harus rela mengorbankan dirinya saat bapaknya yang pemabuk dan penjudi tidak sanggup untuk membayar hutang–hutang judinya. Bapak Susan (Luthy Tambayong) menjual Susan untuk mendapatkan uang untuk membayar hutang - hutangnya.

Haru-biru kisah Susan mewarnai cerita ini. Saat seperti inilah mereka mengesampingkan ego dua geng dan bersatu untuk menyelamatkan teman sekolahnya yang diselimuti masalah, apalagi saat Susan memutuskan bunuh diri dengan lompat dari gedung.

Sementara itu, Dika (Joy Yunus), teman satu sekolah Merpati yang mencintai Susan tidak menemukan jawaban atas penolakan cintanya pada Susan. Seperti halnya kisah Merpati dan Rio, kisah cinta Susan dan Dika juga tidak mulus, Susan merasa tidak pantas untuk dimiliki Dika, karena dirinya yang hina dan rendah tak sepadan dengan Dika. Susan merasa dirinya hanyalah seorang wanita hina.

Merpati bersama Rio dibantu oleh gengnya mencoba menyadarkan Susan dari kehancurannya selama ini. “Kita masih muda, jalan kita masih panjang. Jalan kita tak akan berhenti sampai di sini”, kalimat yang terucap dari bibir Merpati untuk kembali mengembalikan semangat masa remaja Susan.

Ternyata masa remaja mempunyai sejuta konflik, seperti Didi yang harus traumatis melihat kematian di depan matanya akibat tawuran atau Rindang (Caroline) yang kegemukan dan diet makan, hingga nyaris mati lemas agar tampil oke. Dan, "ada bayi di SMU...!"[1][2]

ReferensiSunting