Kartika Djoemadi

pengusaha asal Indonesia


Kartika Djoemadi atau dikenal juga dengan nama lengkap, Dyah Kartika Rini Djoemadi, atau nama panggilan DeeDee, lahir di Jakarta tanggal 21 April, adalah pengusaha, penggerak relawan, dan pembicara di berbagai pelatihan dan media massa. Ia terkenal karena menjadi salah satu pendiri Jasmev.[1][2]

Kartika Djoemadi
(Kartika Djoemadi)
LahirKartika Djoemadi
PekerjaanPengusaha, Penggerak Relawan, Salah Satu Pendiri Jasmev
Orang tuaDjoemadi Poerwosoemarto dan Sri Ngadiyah Achmadi

Masa kecil dan pendidikan

Kartika Djoemadi adalah putri dari pasangan Sri Ngadiyah Achmadi yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah, dan Djoemadi Poerwosoemarto yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Ayahnya adalah seorang perwira tinggi Angkatan Darat dari kesatuan Zeni, yang pernah berdinas sebagai Guru Militer di Sekolah Militer milik Angkatan Darat yang bernama Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat pada tahun 1985.

Kartika Djoemadi menyelesaikan Pendidikan Sarjana di S1 Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Ia melanjutkan pendidikan pasca sarjana di Jurusan Manajemen Komunikasi Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Pendidikan doktoral diselesaikan di Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Kursus dan Konferensi di Tingkat Internasional

  • 2004 - JCI Asia Pacific Conference, Penang, Malaysia
  • 2007 - JCI Asia Pacific Conference, Busan, Korea
  • 2010 - JETRO Scholarships for Strengthening Small and Medium Enterprises, Japan
  • 2017 - Digital Transformation Business and Leadership, Cambridge University, UK
  • 2019 - Financial Technology, London School of Economics and Political Science, UK

Karier profesional

Karier pertamanya dimulai pada saat masih berkuliah di Universitas Indonesia dengan bekerja sebagai profesional di beberapa Multinational Corporation di Indonesia, yaitu Perusahaan Oil and Gas bernama Schlumberger, kemudian dilanjutkan di perusahaan peralatan listrik bernama Schneider serta perusahaan peralatan penerbangan udara bernama IG Technologies hingga lulus menjadi Sarjana Ekonomi. Kemudian pada tahun 1999, ia mendirikan perusahaan Property Developer bersama beberapa sahabat dimasa kuliahnya, dan membangun beberapa kompleks perumahan di wilayah Jabodetabek.

Ia juga pernah menjadi Komisaris PT Danareksa (Persero) pada tahun 2015-2020 dan Komisaris PT Jasa Raharja pada tahun 2020-2023.

Bisnis dan Organisasi

Pada tahun 2005, Kartika Djoemadi mendirikan perusahaan konsultan komunikasi dan media bersama beberapa sahabatnya dan mengerjakan banyak pekerjaan "Public Advocacy" untuk perusahaan swasta dan nasional.

Karena mempunyai perusahaan di bidang properti dan konsultan komunikasi, maka ia ikut aktif menjadi pengurus di beberapa organisasi profesi seperti Real Estate Indonesia (REI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Junior Chamber Internasional Indonesia (JCI Indonesia), Lembaga Pengusaha Pemuda Pancasila (LPPP) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia).[3]

Kariernya di organisasi juga semakin berkembang hingga menjadi Chapter President DKI Jakarta, Junior Chamber International Indonesia (JCI Indonesia) pada tahun 2007, Ketua Kompartemen BPP Hipmi tahun 2008, Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia tahun 2010 dan Wakil Sekretaris Jenderal Real Estate Indonesia tahun 2013 hingga saat ini.

Memulai gerakan relawan

Pada bulan Agustus tahun 2012, Kartika Djoemadi bersama dengan Sony Subrata, Alexander Ferry Wijaya dan Alexander Jerry Wijaya mendirikan sebuah wadah berkumpulnya relawan social media untuk membantu Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok berkampanye diajang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Wadah relawan tersebut kemudian dinamakan JASMEV atau Jokowi-Ahok Social Media Volunteers. Jasmev merupakan gerakan relawan yang independen dan inklusif serta tidak berafiliasi dengan partai politik manapun di Indonesia.

Hingga akhir masa kampanye, JASMEV berhasil merekrut lebih dari 10.000 relawan yang tersebar diseluruh Indonesia. Gerakan ini menjadi fenomenal karena menjadi awal dimulainya kampanye media sosial yang terorganisir dan menginspirasi banyak kampanye di pilkada lainnya, serta menjadi contoh kasus penanganan black campaign dengan menggerakkan relawan media sosial untuk menjawab dan mengklarifikasi berita berita negatif serta black campaign.[4]

Setelah Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012, JASMEV kemudian di nonaktifkan untuk sementara, hingga pada saat Jokowi mendapatkan mandat untuk menjadi calon Presiden RI dari PDI Perjuangan, maka pada bulan Maret 2014, JASMEV kembali diaktifkan dengan nama "Jokowi Advanced Social Media Volunteers", dan ia kembali ditugaskan untuk mengawal serta mengkoordinir seluruh pasukan relawan social media tersebut hingga jumlahnya mencapai lebih dari 30.000 relawan dari seluruh Indonesia bahkan banyak juga yang berasal dari beberapa negara di dunia.[5][6]

Referensi