De Stem des Bloeds (bahasa Indonesia: Suara Darah), atau Njai Siti, adalah film Hindia Belanda (sekarang Indonesia) tahun 1930. Film ini disutradarai Flip Carli dan dibintangi Annie Krohn, Sylvain Boekebinder, Vally Lank, dan Jan Kruyt. Film ini berkisah tentang seorang pria dan nyainya yang bersatu kembali setelah putranya dan putri angkatnya jatuh cinta. Film hitam putih yang sekarang dianggap hilang ini memiliki adegan-adegan yang diberi warna lain. Film ini dirilis pada awal 1930 dan sukses di pasaran meski tanggapan kritikusnya tidak seragam.

De Stem des Bloeds
SutradaraPh. Carli
ProduserPh. Carli
Pemeran
  • Sylvain Boekebinder
  • Vally Lank
  • Jan Kruyt
  • Annie Krohn
Perusahaan
produksi
Cinowerk Carli
Tanggal rilis
  • 1930 (1930) (Hindia Belanda)
NegaraHindia Belanda
Bahasa

Alur

Van Kempen adalah pengawas di perkebunan teh Ciranu di Jawa Barat. Ia tinggal bersama seorang nyai bernama Siti. Mereka memiliki dua anak, Adolf dan Annie. Suatu hari, van Kempen pulang ke Belanda dan meninggalkan Siti dan anak-anaknya. Di Belanda, ia menikahi seorang janda muda dan menjadikan putrinya, Ervine, sebagai anak angkatnya. Sementara itu, Siti tinggal bersama pamannya di sebuah rumah di hutan dan terus berdoa agar van Kempen cepat pulang sampai-sampai ia meminta bantuan dukun setempat.

Lima belas tahun kemudian, setelah istrinya meninggal dunia, van Kempen dan Ervine kembali ke Hindia Belanda. Ia dipekerjakan sebagai pengawas di perkebunan lain, tidak jauh dari tempat kerjanya sebelumnya. Ia mencari Siti dan anak-anaknya, tetapi tak satupun rekan kerjanya yang tahu keberadaan mereka. Tanpa sepengetahuan van Kempen, anak-anaknya sudah dibesarkan sebagai kaum pribumi dan mengenakan pakaian tradisional, tetapi mereka juga mengenyam pendidikan barat. Adolf menjadi seorang pemburu, sedangkan Annie tinggal di rumah bersama ibunya. Frederick, manajer baru di Ciranu, jatuh cinta dengan Ervine dan gagal merayunya.

Beberapa lama kemudian, ketika Ervine sedang menjelajah hutan, ia menemukan seekor rusa dan jatuh pingsan. Adolf mencarinya dan membawanya pulang ke perkebunan. Di sana van Kempen mengenali anaknya dan mempekerjakannya sebagai pengawas. Akan tetapi, Frederick cemburu dengan hubungan Adolf dan Ervine dan mengompori para pekerja di perkebunan van Kempen untuk mogok sampai Adolf dipecat. Walaupun tidak tega, van Kempen harus memecat anaknya.

Adolf pergi ke Lampung, Sumatra, untuk berburu gajah. Sementara itu, Frederick mulai merayu Annie, tetapi ditolaknya. Saat Adolf pulang dan mendengar tindakan pengawas tersebut, ia berkelahi dengan Frederick dan mengalahkannya. Ervine mendengar kekasihnya sudah pulang dan pergi ke rumah hutan, nyaris pingsan setelah terjebak badai. Adolf mengirimkan surat ke van Kempen yang memberitahu tempat Ervine berada. Keluarga tersebut akhirnya bersatu.[a]

Produksi

De Stem des Bloeds disutradarai oleh Ph. "Flip" Carli, seorang keturunan Indonesia-Eropa[1] yang sebelumnya pernah membuat beberapa film dokumenter.[2] Ia menargetkan penonton Belanda dan berfokus pada kebiasaan dan model bertani pribumi. Adegan tersebut tidak lazim untuk karya fiksi kontemporer, walaupun banyak dokumenter yang sudah mengulas topik yang sama sebelumnya.[3] Rumah produksi miliknya yang menangani pembuatan film ini adalah Cinowerk Carli yang berkantor pusat di Bandung;[4][5] beberapa ulasan kontemporer salah menyebut rumah produksinya menjadi Cosmos Film.[5]

Pembuatannya dimulai pada akhir 1929 atau awal 1930[3] di Jawa Barat dan Sumatra.[4] Film ini dibintangi Annie Krohn, istri ras campuran Carli, sebagai Annie[5] dan Sylvain Boekebinder (van Kempen), Vally Lank, dan Jan Kruyt. Ceritanya diadaptasi dari novel dengan judul yang sama.[6]

Sebagaimana halnya film-film kontemporer di Hindia Belanda, De Stem des Bloeds memiliki biaya produksi rendah.[7] Film ini bisu dan hitam putih;[4] produksi akhirnya memakan 3.652 meter rol film.[8] Antarjudulnya berbahasa Belanda, yang menurut sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran tidak dapat dimengerti kebanyakan penonton, yaitu kaum pribumi atau etnis Cina. Untuk menampilkan keragaman warna, Carli mewarnai beberapa adegan dengan satu warna saja pada proses pasca-produksi. Misalnya, sebuah adegan petani memanen beras diberi warna ungu.[9]

Rilis dan tanggapan

 
Iklan koran, Surabaya

De Stem des Bloeds dirilis tahun 1930, tayang perdana di Batavia (sekarang Jakarta) pada 22 Maret.[3] Pada bulan Juli, film ini ditayangkan di Surabaya, Jawa Timur.[10] Kabarnya film ini sukses besar dan banyak pribumi yang menontonnya di Batavia[3] dan Surabaya.[11]

Film ini mendapatkan beragam tanggapan. Sebuah ulasan anonim di Doenia Film asal Batavia memuji gambar filmnya (terutama warnanya) dan akting Krohn dan Boekebinder.[9] Ulasan di De Indiesche Courant asal Surabaya juga menyebut film ini "menakjubkan dari awal sampai akhir"[b] dan menunjukkan bahwa bahkan di Hindia Belanda sekalipun sebuah film "besar" bisa dibuat.[11] Akan tetapi, ulasan tersebut mengkritik kegagalan lembaga sensor menyensor adegan Frederick minum alkohol, yang dianggap "berbahaya bagi prestise [orang Belanda]" dikarenakan jumlah penonton pribumi yang besar.[c][11] Kwee Tek Hoay, mengkriitk film ini habis-habisan di Panorama. Ia menyebut film ini lebih ditujukan pada penonton Belanda di Belanda, karena penonton di Hindia Belanda bisa melihat film ini tidak sesuai kenyataan dan tidak logis. Ia menyebut pewarnaan filmnya aneh sambil merujuk warna ungu pada adegan petani memanen beras saat senja, sesuatu yang tidak pernah terjadi di dunia nyata.[9]

Pengaruh

Carli membuat dua film lagi yang dibintangi Krohn. Film pertama, Sarinah (1931), adalah sebuah romansa yang berlatar di pantai selatan Jawa dan tokoh utamanya diperankan Krohn.[12] Film kedua, Karina's Zelfopoffering, dirilis tahun berikutnya. Di film tersebut, Krohn memerankan seorang wanita ras campuran yang tinggal di keraton Kesultanan Yogyakarta. Karina's Zelfopoffering gagal di pasaran dan tidak lama kemudian Carli pindah ke Belanda.[5] Ia tinggal di sana sampai meninggal dunia tahun 1972.[13]

Dalam tulisannya tahun 2009, Biran berpendapat bahwa De Stem des Bloeds jelas-jelas ditulis dari sudut pandang Indo karena peran anak Indo yang positif. Ia menganggap film ini simpatik terhadap budaya pribumi, termasuk nyainya yang setia. Ia menulis bahwa meski kenyataannya anak ras campuran harus menghadapi cemoohan, di De Stem des Bloeds seorang pria Indo menjadi pahlawan yang menyelamatkan wanita Belanda dan berkelahi dengan seorang berkebangsaan Belanda.[5]

Film ini bisa jadi tergolong film hilang. Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[14] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[15]

Catatan

  1. ^ Derived from Biran 2009, hlm. 120–121
  2. ^ Teks asli: "Het werk boeit van het begin tot het eind."
  3. ^ Teks asli: "Daar deze film zoovele duizenden Inlanders trekt, schijnt ons de charge op den blanda-administrateur als drinker gevaarlijker voor het prestige..."

Referensi

Daftar pustaka

Pranala luar